Feeds:
Tulisan
Komentar

SERANGAN SI PEREMUK TULANG

Kisah Mang Saudi

Meskipun akhir tahun ini, hasil sawitnya tak banyak, Mang Saudi, satu dari warga transmigrasi di kecamatan Penawar Aji itu, tak begitu ambil pusing. Biarlah sawit sementara ini mogok berbuah meskipun hujan sudah cukup membasahi tanah, toh ia masih punya 1 hektar kebuh karet yang bisa ia deres getahnya saben hari. Biarlah orang-orang itu pada bingung, terpaksa nganggur, karena kerjaan ndodos tak ada lagi, toh ia masih punya kerjaan.

Hal itu lama-lama pun akhirnya dianggap biasa oleh semuanya. Hidup seperti roda pedati, kadang di atas kadang dibawah. Biarlah nganggur sebentar, asal anak istri masih bisa makan. Biarlah sawit tak nongol buahnya agak sementara waktu, asal pikiran masih waras dan badan masih sehat

Sampai kemudian datanglah huru-hara itu. Sore itu, sepulang dari nderes karet, badan Mang Saudi panas tak karuan. Istrinya memberinya obat warung berharap agar sembuh. Namun sesudah 2 hari, panas tubuhnya tak juga hilang, sekujur tulangnya linu tak kepalang, kaku, seakan-akan mau lumpuh. Ia pun dibawa ke tempat Pak Mantri, minta suntik dan obat. Usai membayar biaya berobat, Mang Saudi bertanya, “Saya sakit apa Pak,” Mantrinya menjawab, “Bapak terkena Chikungunya!”

Duhai… apa pula ini? Chikungunya? Gerangan dari mana ia berasal? Kenapa bisa bikin tulang seakan remuk, kaku, linu, hampir lumpuh tak bisa digerakkan? Selidik punya selidik, ternyata Mang Saudi tak sendiri. Hampir setiap penderes karet punya keluhan serupa. Awalnya memang rombongan tukang nderes saja, tetapi akhirnya si Chikungunya itu tak pandang bulu: tua muda, besar kecil, miskin kaya terkena juga!

Kungunyala dan Chikungunya

Penyakit ini pertama kali ditemukan oleh Marion Robinson dan W.H.R Lumsden pada wabah yang menyerang penduduk Makonde ( perbatasan Mozambique dan Tanganyika, sekarang Tanzania) pada tahun 1952. Waktu itu, orang yang terkena penyakit ini mengeluh nyeri sendi hebat, mengeliat-geliat kesakitan dan akhirnya hanya bisa meringkuk dengan pinggang melengkung. Karena semua orang yang terkena penyakit ini menunjukan gejala yang sama: nyeri sendi hebat sehingga hanya bisa meringkuk dengan pinggang melengkung, maka pendunduk Makonde menyebut penyakit yang mereka derita sebagai Kungunyala, yang menggeliat-geliat atau Chikungunya, artinya pinggang melengkung.

Sejak 1952 itu, penyakit ini akhirnya menyebar hampir ke seluruh Afrika, Asia selatan, Asia Tenggara dan lebih luas lagi. Di Indonesia, kejadian luar biasa (KLB) Chikungunya dilaporkan pada tahun 1982 di Samarinda, kemudian berjangkit di Kuala Tungkal, Martapura, Ternate, Yogyakarta (1983),Muara Enim (1999), Aceh dan Bogor (2001). Awal 2001, kejadian luar biasa demam Chikungunya terjadi di Muara Enim, Sumatera Selatan dan Aceh. Diperkirakan sepanjang tahun 2001-2003 jumlah kasus Chikungunya

mencapai 3.918. meskipun tanpa disertai laporan kematian yang diakibatkan penyakit ini.

Saban tahunnya, jumlah itu teryata tak banyak berkurang. Di Trenggalek, Jawa Timur beberapa bulan lalu dilaporkan Chikungunya menyerang ribuan orang.

Si Biang Kerok

Penyebab penyakit ini adalah sejenis virus, yaitu Alphavirus dan umunya ditularkan lewat nyamuk Aedes aegypti. Aha… Anda pasti ingat, nyamuk ini juga biang kerok penularan penyakit demam berdarah dengue. Tapi, meskipun menimbulkan gejala nyeri sendi yang lebih hebat dibanding demam berdarah, penyakit ini jarang menimbulkan perdarahan dan tidak mematikan. Beberapa studi terakhir dari Paris Institute melaporkan bahwa pembawa virus Chikungunya ini adalah nyamuk Aedes albopictus. Namun terserah nyamuk apa pun yang menggigit, sekali orang terkena penyakit ini, maka gejala yang timbul adalah khas dan hampir sama.

Nyeri Seakan Lumpuh

Sejak digigit nyamuk sampai timbulnya penyakit ini berlangsung sekitar 2-4 hari, Seperti DBD, awalnya penderita mengeluh demam tinggi (bisa sampai 400 C). Keluhan demam itu disertai dengan nyeri sendi, terutama pada: lutut, pengelangan kaki, persendian tangan dan kaki serta tulang belakang. Pada hari ke 3-5 timbul kemerahan pada kulit (kadang lebih hebat dari DBD) hampir diseluruh badan. Gejala yang lainnya adalah sakit kepala, timbul rasa mual sampai muntah, mata merah dan sedikit fotofobia (silau melihat cahaya), serta pembesaran kelenjar getah bening.

Pada orang dewasa, gejala nyeri sendi dan otot sangat dominan, sehingga kadang timbul kelumpuhan sementara karena rasa sakit bila digerakkan. Setelah 5 hari, demam akan berangsur turun, hari ke-6 atau ke-7, kadang timbul gatal-gatal dibawah kulit disekujur badan. “Gatalnya bisa sampai ke kulit kepala” ujar Mang Saudi mengenang penyakitnya itu.

Tapi gatal itu pertanda, bahwa penyakitnya mulai sembuh. Nyeri-nyeri sendi mulai berkurang, tangan dan kaki pun mulai bisa digerakkan. Pada beberapa kasus, keluhan nyeri sendi itu kadang bisa bertahan berhari-hari hingga sebulan.

Pengobatan

Demam Chikungunya termasuk “Self Limiting Disease” atau penyakit yang sembuh dengan sendirinya. Tak ada vaksin maupun obat khusus untuk penyakit ini. Pengobatan yang diberikan hanyalah terapi simtomatis untuk menghilangkan gejala penyakitnya, seperti obat penghilang rasa sakit atau demam seperti golongan Parasetamol. Antibiotika tidak diperlukan pada kasus ini. Penggunaan antibiotika dengan pertimbangan mencegah infeksi sekunder tidak bermanfaat.

Untuk memperbaiki keadaan umum penderita dianjurkan makan makanan yang bergizi, cukup karbohidrat dan terutama protein serta minum sebanyak mungkin. Perbanyak mengkonsumsi buah-buahan segar atau minum jus buah segar. Hindari minuman berkarbonasi (Pocari Sweet, Mizone dll) yang kadang justru menimbulkan nyeri lambung.

Pemberian vitamin peningkat daya tahan tubuh mungkin bermanfaat untuk mempercepat pemulihan Selain vitamin, makanan yang mengandung cukup banyak protein dan karbohidrat juga meningkatkan daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh yang bagus dan istirahat cukup bisa mempercepat penyembuhan penyakit. Minum banyak juga disarankan untuk mengatasi kebutuhan cairan yang meningkat saat terjadi demam.

Kapan di Fogging Lagi?

Ketika kasus DBD mulai bertambah awal-awal musim hujan ini, seorang pasien yang anaknya terkena DBD, bertanya kepada saya, “Dok, kapan kira-kira akan diadakan fogging lagi?” Saya tidak bisa menentukan kapannya. Saya menerangkan bahwa fogging hanya efektif untuk 2-4 minggu, sebab kita warga AWS yang dikepung air ini tak bisa tidak akan selalu hidup dalam kepungan nyamuk.

Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah menjaga diri kita agar seminimal mungkin di gigit drakula kecil penghisap darah penyebar penyakit DBD dan Chikungunya itu. Aedes aegepty, nyamuk “priyayi” yang senang bertelur di air jernih itu memang harus dibasmi, atau setidaknya dikurangi populasinya. Untuk membasminya memang perlu disemprot atau di fogging dengan Malation, sedang themofos untuk membunuh jentiknya. Bagi penduduk Penawar Aji sana, fogging swadaya terasa mahal. Tetapi bagi Multi Corporate Internasional seperti CPP ini, sebenarnya tidak mahal, justru sangat-sangat murah. Apalagi dibanding biaya pengobatan yang harus dikeluarkan untuk mengobati karyawan atau keluarga karyawan yang terkena DBD atau Chikungunya.

Resep sederhana, murah, dan efektif untuk memutus rantai penularan nyamuk ini adalah dengan cara menguras tempat penampungan air bersih, bak mandi, drum penampung air, dan sebagainya, paling paling tidak seminggu sekali, mengingat nyamuk tersebut berkembang biak dari telur sampai menjadi dewasa dalam kurun waktu 7-10 hari.

Selain memakai obat nyamuk bakar atau semprot, pencegahan individu bisa Anda lakukan dengan menggunakan obat oles (repellant) yang mengandung DEET atau zat aktif EPA lainnya. Seperti Mang Saudi, yang akhirnya memutuskan memakai lengan panjang ketika menderes karetnya, penggunaan baju lengan panjang dan celana panjang juga dianjurkan pada daerah tertentu dimana Chikungunya sedang mewabah.

Matsalan ma Ba’uudhan..

Ingatlah, Allah tidak sedang main-main ketika Dia membuat perumpamaan tentang nyamuk atau yang lebih remeh lagi (QS Al Baqarah: 26). Tahukah Anda korban yang mati karena malaria sejak penyakit ini dikenal, lebih banyak ketimbang jumlah korban perang dunia ke-2 (lebih dari 60 juta jiwa!). Sadarkah Anda, bahwa virus kecil biang kerok penyakit White Spot pada Udang itu, bisa memaksa nganggur 2500 lebih petambak di seberang sungai sana, mengguncang keuangan perusahaan sehingga terpaksa mencetak 1,7 milyar lembar saham dan menjualnya dilantai bursa karena kekurangan dana, sehingga revitalisasi yang sudah 2 tahun berjalan ini, seperti kurang darah, terseok-seok entah kapan selesainya.

Kita tidak tahu persis, hari-hari ini kemana gerangan angin akan bertiup. Bila angin bertiup kecang kearah timur laut, bukan tidak mungkin, wabah yang membuat karet terbengkalai, lupa dideres di Penawar Aji sana (39 kilometer dari AWS) mewabah di sini. Ribuan Karyawan atau Out Sourcing bisa terpincang-pincang karena seluruh sendinya nyeri, hanya bisa tidur meringkuk dengan pinggang melengkung karena diserang Si Peremuk Tulang ini… Chikungunya!

Perjalanan Haji

SEPERTI BINTANG DI LANGIT

Seorang Kakek, (100 tahun) dan istrinya (86 tahun), sudah beberapa lama didera kegundahan sebab sampai setua itu belum dikaruniai keturunan. Tak henti-hentinya, kakek ini berdoa agar Tuhan mengkaruniainya keturunan. Suatu malam ketika ia dalam sedang berdoa didalam kemahnya, ada suara yang menyuruhnya keluar, “Sekarang, pandanglah langit dan hitunglah bintang-bintang di sana, bila engkau sanggup” Ia pun menatap langit dan terdengarlah suara, “sebanyak itulah anak keturunanmu nanti” (Kejadian 15:5)

Anda mungkin sudah tahu, Kakek yang kelak menjadi Bapak dari para Nabi ini adalah Ibrahim. Usai mendengar firman itu, Ia diizinkan untuk menikahi budaknya (wanita berkulit hitam asal Ethiopia), bernama Hajar. Dari Hajar ini lahirlah seorang bayi: Ismail (artinya: Allah mendengar permohonanmu, Isma = mendengar, Eli = Tuhan). Bertahun kemudian, istri pertama Ibrahim, Sarah pun akhirnya mengandung juga dan lahirlah: Ishak (artinya: dia tertawa). Kelak, Ishak berputra Ya’qub di Kanaan (Palestina selatan) (Ya’qub ini dinamai Israel artinya = hamba Tuhan, Isra = hamba, Eli = Tuhan). Ya’qub berputra 12 orang, salah satunya kelak menjadi pemuda mbagus nganteng dambaan wanita, yang terdampar di Mesir dan jadi menteri disana, Yusuf ‘alaihi salam.

Kelak keturunan 12 orang putra Ya’qub (Bani Israel) itu diperbudak di Mesir dan diselamatkan oleh Musa dan Harun. Begitulah, turun temurun banyak sekali Nabi atau Rasul keturunan Ibrahim yang lahir dari jalur Ishak sampai kemudian dipungkasi oleh Almasih ‘Isa ibn Maryam. Bagaimana keturunan Ibrahim dari Ismail?

DUA BANGSA BESAR

Ismail yang bersih dan lucu itu membuat hati Ibrahim dipenuhi bunga. Tak henti-hentinya, sore hari usai Ibrahim beribadah, ia menggendong dan peluk keturunannya dari Hajar itu. Dan dari sinilah kisah Ismail bermula. Istri Ibrahim pertama, yang awalnya rela dimadu mulai dihinggapi rasa cemburu. Lama ia bendung rasa itu tetapi akhirnya pecah juga. Maka inilah wujud rasa cemburunya: “Ibrahim, silahkan pilih: Aku atau Hajar dan anaknya. Kalau pilih Aku, silahkan pisahkan Hajar dan Ismail, usir jauh dari sini. Bila kau pilih Hajar, biarlah aku yang pergi dari sini.”

Kakek tua yang sudah matang ditempa beribu cobaan ini tentu saja menolak kemauan istri pertamanya itu. Tapi Allah justru berkehendak lain, Ismail dan Ishak memang harus pisah, sebab dari keturunan mereka berdua kelak, Allah hendak menjadikan 2 bangsa yang besar. Tuhan berkehendak agar keturunan Ismail kelak, yang seperti “batu  yang  dibuang  oleh  tukang-tukang bangunan”  akan  menjadi  “batu  penjuru” (Matius, 21:42; Mazmur, 118:22)

DRAMA DI LEMBAH TANPA TANAMAN

Maka akhirnya, Ibrahim mengantar istri dan buah hatinya itu ke arah selatan, ribuan kilometer lebih dari Kanaan (sekarang Palestina Selatan), 10 hari perjalanan unta, ke padang pasir di wilayah Hijaz, sekitar lembah Bakka (Mekah). Sampai di Mekah, Ibunda Ismail, Hajar, bingung, sebab sejauh mata memandang, yang ada padang pasir. Ia pun bertanya “Ibrahim, kamu hendak meninggalkan kami disini? Ini keinginanmu, untuk menyenangkan istri tuamu atau kehendak Allah.” Ibrahim menjawab “Ini kehendak Allah”. Budak Hitam dari Tanah Mesir ini meneguhkan dirinya “Oh kalau ini kehendak Allah, aku ridho, sungguh Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Dengan berlinang air mata, Ibrahim meninggalkan dua orang yang sangat dicintainya itu, ia berdoa seperti direkam Al Quran, Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim 14:37)

Beberapa hari kemudian, bekal makan dan air minum mereka habis. Ismail yang masih orok mulai menangis. Hajar mulai bingung, sedih dan lapar. Sambil menangis Ibu ini berlari ke jajaran bukit-bukit batu yang mengelilingi lembah itu, berharap ada kafilah yang lewat dan memiliki air untuk mengobati haus mereka. Ia berlari bolak balik 7 kali antara dua bukit batu (kelak dikenal sebagai Shafa dan Marwah), tapi tak ada seorangpun disana, tak ada setetes pun air ia temui. Maka, ia balik lagi menemui bayinya. Ismail masih menangis dengan kerasnya.

Hajar yang hampir putus asa itu, terduduk disamping bayinya, tangisnya pecah, hatinya menjerit berdoa pada Allah. Allah Maha Melihat atas apa yang terjadi pada dua Ibu anak itu, Dia lalu memerintahkan Jibril untuk turun ke bumi, berdiri disamping Ismail. Ketika si Ismail mulai kejang, maka Jibril menghentakan kakinya ke bumi, dan…. terbitlah mata air disamping kaki kaki Ismail kecil. Jernih warnanya, segar rasanya, melimpah ruah jumlahnya. Inilah mata air mukjizat itu, buah dari doa tulus seorang Ibu dan kesucian seorang bayi: mata air yang kelak “dicicipi” oleh bermilyar penduduk bumi, tidak pernah kering sejak 4000 tahun yang lalu, Zamzam, yang melimpah ruah!

Bagi para kafilah di padang pasir, sumber air seperti Zamzam ini adalah harta karun. Maka daerah yang ditempati oleh Hajar dan anaknya itu menjadi makin ramai. Banyak kafilah dagang yang singgah dan menetap disitu. Kelak, salah satu kabilah dari selatan, klan Jurhum, akan menetap disitu dan menikahkan putri mereka dengan Ismail dan menurunkan klan paling terkenal dalam sejarah arab, Quraisy.

MEMBINA KA’BAH

Suatu saat ketika Ismail menganjak dewasa dan Ibrahim sedang menjenguk mereka, datang perintah Allah kepada mereka berdua untuk membangun kembali Ka’bah. Dikatakan membangun kembali, karena sebenarnya yang mendirikan Ka’bah pada mulanya adalah moyang manusia pertama yakni Adam. Kala itu, Adam yang kesepian karena diturunkan ke bumi pisah dengan Hawa, sering teringat dengan keindahan ibadah para Malaikat yang bertawaf mengelilingi Sidratul Muntaha. Ia pingin meniru Ibadah para malaikat itu, tetapi dimanakah Sidratul Muntaha dibumi ini? Allah Maha Pengasih! Dia mengutus Jibril mewahyukan pada Adam agar membangun “miniatur Sidratul Muntaha” di bumi, agar ia dan anak keturunannya kelak, dapat bertawaf mengelilingi bangunan itu. Adam melaksanakan perintah Tuhan, didirikannya sebuah bangun berbentuk kubus dengan batu hitam dari Surga disudutnya, Ka’bah!

Begitulah, Ka’bah menjadi tempat tawaf Adam dan keturunannya. Beberapa ratus tahun kemudian,  bangunan itu mulai hilang ditutupi pasir, bahkan – mungkin zaman Nabi Nuh ‘alaihi salam, bangunan itu terendam banjir.

Sekarang, Ibrahim dan Ismail diperintahkan meninggikan bangunan tinggalan Kakek moyang mereka. Setelah beberapa hari, pekerjaan mereka selesai. Ibrahim berdiri di samping Ka’bah dan berdoa, sebagaimana direkam dalam Al Quran:

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Al Baqarah 2:127-129)

SANG BATU PENJURU

Akhir doa itu menyebutkan permohonan agar dikalangan anak turun Ismail kelak, akan dibangkitkan seorang Rasul. Doa Ibrahim ini akan terwujud 2500 tahun kemudian: 12 Rabiulawal 53 tahun sebelum hijriah, bertepatan dengan Senin, 20 April 571 Masehi, lahir dari rahim Aminah, seorang anak lelaki yang dikemudian hari mengubah dunia! Sekarang, namanya diserukan dengan syahdu, oleh puluhan juta muadzin di masjid-masjid  dan surau di seantero bumi.  Kitab yang dibawanya, Al Quran adalah buku best seller dan paling banyak dibaca. Kisah hidupnya ditulis dengan amat teliti: Bagaimana jalannya, duduknya, senyumnya bahkan berapa helai jenggotnya. Al Maqari mengarang tentang sandal-nya saja, sebuah buku setebal 500 halaman! Wujud paripurna dari doa Ibrahim dan batu penjuru dari sekalian nabi dan rasul ini adalah, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa alihi wa salam.

SERUAN HAJI

Selesai bertawaf mengelilingi bangunan kuno tinggalan Adam yang baru mereka renovasi, Ibrahim mendapat perintah agar menyeru manusia untuk berhaji. Ibrahim heran, bagaimana orang bisa mendengar panggilan saya? Allah kemudian berfirman, “Serulah manusia untuk berhaji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh! (QS Al Hajj 22:27)

Mematuhi perintah Allah – menurut sebuah riwayat – Ibrahim lalu berseru memanggil manusia untuk berhaji dengan seruan yang bisa didengar ruh anak Adam baik yang sudah lahir maupun yang belum sampai hari kiamat kelak! Siapa yang menjawab seruan Ibrahim, niscaya dia akan pergi berhaji, sebaliknya yang tidak dia tak akan mampu berkunjung ke baitullah!

Haji adalah undangan dari Allah. Siapa yang diundang? Seluruh manusia, kita semua! Maka barangsiapa yang mau menjawab undangan itu, Allah-lah yang akan “mengurus kelancaran” perjalanan mereka. Allah menjamin bahwa, siapa yang menjawab seruan Ibrahim itu, maka orang itu akan datang, ya’tuuka rijaalan, baik berjalan kaki, maupun wa’alaa kulli dhaamirin, mengendarai unta yang kurus, lambang kesulitan perjalanan.

Anda mungkin pernah lihat, saudara-saudara kita yang bertawaf sambil ditandu, kakek nenek yang hampir mendekati jompo, yang penglihatan hampir kabur, yang tulang-tulangnya digerogoti asam urat dan reumatik, tetapi mereka tetap menjawab panggilan moyang mereka Ibrahim, undangan Tuhan untuk berhaji ke tanah suci. Ya’tiina min kulli fajjin ‘amiiq, datang dari pelosok negeri yang jauh. Dari Maroko sampai Merauke, dari Rusia sampai Australia, mereka akan datang!

Siapa pun yang hendak haji akan merasakan bahwa ada tangan-tangan tak terlihat yang membantunya, melimpahkan karunia Tuhan yang banyak bagi kelancaran proses hajinya, hingga seakan-akan tanah, air, bahkan angin ikut membantunya. Kalau disini, Anda pernah mendengar ada petani karet, mau naik haji, tiba-tiba sadapan karetnya deras sekali, Anda tidak perlu heran. Seorang tukang sapu disebuah universitas di Jakarta, tiba-tiba bisa terpilih undian naik haji dibiayai Universitasnya. Bahkan, Suhadi, tukang cukur di Malang, Jawa Timur, bisa naik haji dengan cara mengumpulkan rupiah demi rupiah hasil kerjanya!

PERBEKALAN TERBAIK

Alhajju asyhurun ma’luumaatun, haji itu pada bulan-bulan yang telak diumumkan! Rentang bulan-bulan yang dimaksud adalah, sejak 1 Syawal sampai 13 Dzulhijjah. Walau rentangnya hampir 2 bulan setengah, tetapi puncak prosesi haji hanya berlangsung 5-6 hari yakni sejak 8 Dzulhijjah sampai 12-13 Dzulhijjah. Untuk menjalani proses yang hanya 5-6 hari itu, jutaan umat Islam diseluruh dunia, telah mempersiapkan dirinya sejak jauh hari sebelumnya, bahkan ada yang sepanjang rentang usianya.

“Seperti biasanya, Alquran senantiasa mengajak pikiran kita untuk bergerak dari yang material ke yang spiritual” Tulis Abdullah Yusuf Ali dalam The Meaning of Glorius Quran, “Bila kita memerlukan bekal untuk menempuh perjalanan di muka bumi ini, maka berapa banyak bekal harus Anda kumpulkan untuk menempuh perjalanan akhir ke dunia masa depan? Bekal terbaik adalah tetap berperilaku benar, dan ini tak lain adalah takwa!”

Untuk menempuh perjalanan ke Saudi Arabia dan memenuhi biaya hidup disana memang diperlukan dana yang tidak sedikit. Untuk menjalani ritual haji: Tawaf, Sai, Mabit di Mina, Melontar Jumrah dan lainnya, butuh fisik yang prima. Tetapi Haji adalah perjalanan fisik dan spiritual sekaligus. Karena itu, selain bekal material perlu juga Anda persiapkan bekal ruhani yang cukup, agar ziarah yang Anda lakukan bukan hanya pelesir ke tempat-tempat suci, pulang memborong oleh-oleh lalu menyandang gelar haji fulan atau hajjah fulanah. Tidaklah salah mengumpulkan dana yang banyak untuk haji Anda. Tidaklah terlarang Anda mengundang handai taulan sekampung untuk datang mendoakan Anda saat walimah safar. Anda siapkan ini itu untuk kenyamanan perjalanan Anda. Tetapi jangan lupa satu hal bahwa: menabung kebaikan dalam hidup yang benar atau takwa itulah yang harus Anda persiapkan benar-benar! Allah menegaskan, watazawwaduu, fa-inna khayraz zaadit taqwaa, berbekalah, sungguh sebaik-baik bekal adalah taqwa! (QS al Baqarah :197)

IHRAM

Selepas diantar oleh keluarga ke Asrama Haji, jemaah yang daerahnya tidak memiliki embarkasi seperti Lampung ini, akan transit terlebih dahulu embarkasi di Jakarta. Mereka akan dibawa oleh pesawat terbang sampai di Bandara King Abdul Aziz di Jeddah. Setelah melalui pengecekan paspor dan dokumen lain yang melelahkan, jamaah akan diatur pemondokannya di Mekah atau – bagi rombongan kloter awal – akan langsung ziarah ke Madinah.

Disuatu tempat yang telah ditentukan (miqat), jamaah memulai niat untuk haji atau umrah serta memulai ihram. Ihram berasal dari kata haram artinya larangan,  yaitu  memasuki  keadaan,  yang  dalam  keadaan  itu  orang harus mengenakan pakaian ihram, dan tak menjalankan perbuatan, yang biasanya dihalalkan.

Quran hanya menyebutkan tiga larangan saat Ihram yaitu rafats (berbicara tak senonoh), fusuq (caci maki dan berbuat fasik), dan ber-jidal (ribut berbantah-bantahan). Tiga-tiga-nya kelihatannya hanya urusan mulut yang terlihat remeh, tetapi siapa pun yang pernah naik haji akan membuktikan keampuhan larangan itu, bahwa di tanah suci tempat doa demikian mujarab, manusia harus hati-hati dengan ucapan mereka. Kita banyak mendengar cerita ihwal para jemaah Haji yang “ditegur” oleh Allah “langsung” karena karena urusan keseleo lidah.

Warna baju ihram yang putih tanpa jahitan adalah hidup yang sederhana, tulus, atau pretensi. Itulah pakaian hidup yang sebenarnya. “Hanya ibadah haji sajalah yang dapat melaksanakan sesuatu  yang  tampak  mustahil,  yaitu  berbagai  manusia  dari  golongan dan  negara  mana  pun,  memakai  pakain  yang  sama  dan  mengucapkan kalimah yang sama. Jadi ibadah haji membuat setiap orang Islam, sekali dalam  seumur  hidup,  masuk  dalam  pintu  gerbang  persamaan  derajat yang  sempit,  menuju  ke  arah  persaudaraan  yang  luas.  Tiap-tiap  orang sama pada waktu lahir dan mati; cara-cara mereka hidup dan mati pun sama  pula;  tetapi  ibadah  haji  adalah  satu-satunya  kesempatan  yang mengajarkan  bagaimana  mereka  menempuh  hidup  yang  sama,  dan mempunyai perasaan yang sama.” (Maulana Muhammad Ali, Islamologi, bab Haji)

TAWAF

Pernahkah Anda merantau bertahun tahun meninggalkan keluarga untuk mencari nafkah? Sampai kemudian satu hari, Anda memutuskan untuk pulang kekampung halaman Anda, ke keluarga Anda. Bagaimana perasaan Anda kala itu? Orang yang pernah menjadi anak rantau bisa menceritakannya. Konon begitulah juga kira-kira perasaan jemaah haji ketika mereka melihat dan berdiri di depan Ka’bah untuk pertama kali. Sebagian besar dari jamaah haji itu bahkan hanya bisa menangis saat berdiri di depan rumah Tuhan itu. Ya perasaan kembali… sebab hanya Allah-lah tempat kembali kita yang sejati. Maka ketika kita berdiri di depan rumah-Nya kelak, sadar atau tidak mulut kita akan menggumamkan talbiyah, “Aku disini dihadapan-Mu, ya Allah ini aku di sini dihadapan-Mu… labbaika Allahuma labaik…”

Seperti Adam yang kesepian dan rindu untuk melihat para malaikat mengelilingi Sidratul Muntaha, kita pun meneladani kakek kita itu mengelilingi Rumah Tuhan. Bertawaf menglilingi Ka’bah, memutarinya 3600 sebanyak 7 kali putaran. Itu perlambang tetang bagaimana seharusnya orientasi manusia dalam menjalani hidup. Bahwa apapun gerak hidupmu, entah kamu sebagai pedagang, tani, guru, blantik sapi, makelar motor, ataupun anggota dewan, dimanapun posisimu, hendaklah Allah-lah yang menjadi tujuan hidupmu!

Oh ya.. Anda tentu tahu tentang Hajar Aswad bukan? Batu hitam yang terletak di sudut Ka’bah sebelah timur laut itu selalu menjadi idam-idaman Jutaan jemaah haji untuk mereka cium atau bahkan beri salam dari kejauhan. Ibnu umar pernah melihat Rasulullah saw. mengelilingi Ka’bah. Ia mendengar Nabi berkata, mengajak bicara dengan Ka’bah, “Betapa indahnya engkau, dan betapa harumnya keagunganmu. Tapi, demi yang diriku berada dalam kekuasaan-Nya, sesungguhnya kehormatan orang Islam lebih besar di sisi Allah. Lebih mulia dari pada kehormatanmu. Hartanya, darahnya, harus dihormati. Dan tidak boleh berprasangka apa pun kepadanya kecuali yang baik saja.” (Tafsir Al-Durr al-Mantsur 7:565)

Perhatikan itu baik-baik! Kehormatan orang muslim lebih dari batu Hitam penjuru Ka’bah rumah Tuhan. Karena itu hormatilah saudaramu, jangan sekali meremehkan dan menghina mereka. Alih alih menikmati privilage dengan sebutan Haji, justru kamulah yang harus menghormati mereka!

SA’I

Kata sa’iyun berarti lari, dan menurut syari’at Islam, sa’i berarti berlari-larinya jamaah haji antara dua bukit yang letaknya di kota Makkah, yang disebut Shafa dan Marwah. Qur’an menerangkan ihwal sai ini dalam sebuah ayatnya, “sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar-syiar Allah, maka barangsiapa menunaikan ibadah haji atau ‘umrah ke Rumah Suci, tak ada dosa baginya jika ia mengelilingi keduanya” (QS Al Baqarah:158).

Masih ingat dengan kisah Ibunda Ismail, Hajar yang berlari di antara dua bukit untuk mencari air? Pada 2500 tahun lalu, saat Hajar hidup, dua bukit itu masih berupa bukit terjal. Sekarang antara Shafa dan Marwah sudah dihubungkan dengan jalan halus berkeramik. Jarak Shafa dan Marwah sekitar 400 meter, bila itu ditempuh 7 kali bolak-balik hanya sekitar 2,8 kilometer. Sa’i, adalah perlambang ihwal kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi kesukaran dan cobaan. Seperti Hajar, kita harus memastikan bahwa setiap usaha kita hendaknya dimulai dari niat yang Shafa (kesucian) agar kelak mencapai hasil yang Marwah (kesuksesan), bahkah dengan kemurahan-Nya kita akan mendapatkan zamzam (hasil yang melimpah ruah!)

SAAT IBADAH HAJI

8 DZULHIJJAH – MABIT DI MINA

Thawaf dan sa’i adalah ibadah yang mula-mula harus dijalankan oleh setiap jamaah haji pada waktu ia tiba di Makkah, baik ia berniat untuk menjalankan ‘umrah atau haji saja, atau menggabungkan haji dan ‘umrah secara qiran atau tamattu’. Apabila jamaah haji menjalankan ibadah ‘umrah saja, atau menggabungkan haji dan ‘umrah secara tamattu’, maka setelah selesai menjalankan ‘umrah, ia keluar dari keadaan ihram; dan ia baru menjalankan ibadah haji yang sesungguhnya pada 8 Dzulhijjah, tatkala seluruh jamaah haji, laksana lautan manusia bergerak bersama-sama ke Mina (11 km sebelah timur Mekah).

Mina memiliki arti historis yang penting karena dahulu, disinilah Rasulullah dibaiat oleh 60 orang pemeluk islam awal dari Yatsrib, kaum yang kemudian menjadi penyokong dakwah Islam yang paling gigih.

Tanggal 8 Dzulhijjah disebut yaumut-tarwiyah, hari tarwiyah (makna aslinya saat siraman atau saat memuaskan dahaga), karena pada hari itu seluruh jamaah haji menyediakan air, guna hari-hari berikutnya, atau karena saat itulah dimulainya ibadah haji yang sesungguhnya yang akan mendatangkan kepuasan rohani bagi mereka. Di Mina ini, para jamaah bermalam (mabit), dan esok harinya, tanggal 9 Dzulhijjah, tengah hari, mereka berangkat ke padang ‘Arafah.

9 DZULHIJJAH – WUQUF DI ‘ARAFAH

‘Arafah adalah padang pasir yang terletak 26 km arah timur Makah. Luas padang pasir Arafah sekitar 4×2 km atau 800 hektar. Kalau 1 orang butuh tempat 1 m2, maka Arafah bisa menampung 8 juta orang. Karena Rasulullah pernah bersabda bahwa bahwa “seluruh arafah adalah tempat wukuf”, maka ‘Arafah akan penuh jika jumlah jamaah haji sudah 3 kali lipat dari sekarang.

Mengapa tempat ini disebut ‘Arafah yang artinya pengenalan? Ada beberapa riwayat mengenai hal ini. Gerangan di sinilah dahulu Bapak dan Ibu kita, Adam dan Hawa bertemu setelah lama berpisah. Di sini juga, Ibrahim as., dituntun oleh malaikat Jibril yang berkata, “Tempat ini bernama pengenalan ‘Arafah, maka kenalilah manasik hajimu”. Disini jugalah, para jamaah haji Wuquf (artinya bediam diri) untuk berdzikir, berdoa, sampai matahari terbenam, sehingga mereka dikaruniai ma’rifah oleh Allah Azza wa Jala.

MUZDHALIFAH

Setelah matahari tenggelam pada 9 Dzulhijjah,  para jamaah bergerak dari ‘Arafah ke Muzdalifah (5 km arah barat Arafah). Mereka shalat Maghrib dan Isya jamak takhir di Muzdalifah ini. Kata muzdalifah berasal dari kata zalf, artinya dekat. Tempat ini dinamakan Muzdalifah karena orang merasa dekat dengan Allah jika tinggal di sana. Dalam Qur’an, tempat itu dinamakan ma’syaril-haram, makna aslinya Monumen Suci, dan di tempat inilah orang diperintahkan supaya mengingat Allah. “Maka apabila kamu buru-buru pergi dari ‘Arafah, ingatlah kepada Allah di dekat Monumen Suci, dan ingatlah kepada-Nya karena Dia telah memimpin kamu, walau-pun sebelum itu kamu termasuk golongan orang yang sesat” (2:198).

Di sini jamaah mencari batu kerikil untuk keperluan melentar jumrah esok hari. Usai menginap semalam, esok harinya, setelah shalat subuh, segera para jamaah haji berangkat menuju Mina.

10 DZULHIJJAH

Hari ini disebut sebagai Yaumun Nahr, penyembelihan, karena dihari inilah kita yang mampu diperintahkan untuk menyembelih hewan Qurban. Kita yang di Indonesia merayakannya sebagai ‘Idul Adha. Pada hari ini, jamaah haji melempar jumrah untuk pertama kali, Jumratul Kubro, di Aqabah. Usai melempar jumrah, mereka pergi lagi ke Mekah untuk menjalani thawaf ifadah (tawaf wajib), dan setelah itu boleh bertahalul atau mencukur rambut. Tetapi mereka masih harus balik lagi ke Mina sebab esok harinya akan melempar 3 jumrah: Ula, Wusta, dan Aqabah. Masing-masing dilempar dengan 7 kali lemparan  batu kerikil.

Apa yang mendasari ritual ini? Anda yang biasa Yasinan saban malam jum’at pasti hafal dengan ayat ini, Alam a’had ilaykum yaa banii aadama an laa ta’buduusy syaythaana, innahu lakum ‘aduwwun mubiin. Ya.. ayat 60 dari surah Yasiin ini adalah peringatan Tuhan agar kita tidak menyembah syaitan, sebab ia musuh yang nyata. Tiga jumrah itu adalah lambang dari 3 wujud dosa manusia utama. Jumrah pertama, adalah lambang peperangan kita melawan berhala Fir’aun, lambang penindasan. Jumrah kedua, adalah lambang Qarun, personifikasi sifat tamak dan serakah. Jumrah ketiga adalah lambang dari Ba’lam, wakil dari kemunafikan. Bila tiga dosa itu sudah kita lempar jauh-jauh dari kehidupan kita, maka kita asah kepedulian kita pada sesama dengan kesediaan untuk melakukan pengorbanan, yang dilambangkan dengan penyembelihan hewan qurban.

Usai menyelesai jumrat pada tanggal 12 Dzulhijjah (nafar awal) atau 13 Dzulhijjah (nafar tsani), jamaah ke Makah untuk melakukan tawaf wada, tawaf perpisahan. Maka selesai sudah ritual haji itu, dan masing-masing jamaah tinggal menunggu keberangkatan kembali ke tanah air.

KEBAIKAN PARIPURNA

Sekitar  1420 tahun yang lalu, Pada 10 Zulhijjah, di Mina, Nabi Muhammad saw., menyampaikan khotbah dari atas untanya. Usai khotbah, seseorang bertanya, “Saya berziarah dulu (tawaf) ke Baitullah, setelah itu saya melempar jumrah?” Beliau berkata, “If’al, la haraj (lakukan saja, tidak ada salahnya). Yang lain berkata, “Saya bercukur dulu sebelum menyembelih.” Beliau berkata, “Lakukan saja, tidak ada salahnya.” Yang lain bertanya lagi, “Saya menyembelih sebelum melempar?” Beliau berkata, “Lakukan saja, tidak ada salahnya.” Kata Abdullah bin Umar, “Setiap Nabi saw., ditanya tentang sesuatu yang didahulukan atau diakhirkan, beliau selalu berkata: ‘Lakukan saja, tidak ada salahnya.’” (Shahih al-Bukhari, Kitab al-Hajj)

Gerangan ini bisa menjadi pelajaran bagi calon jamaah atau para haji yang sudah kembali lagi ke tanah airnya. Sebagian besar jamaah haji Indonesia konon dibuat pusing karena harus menghapal doa-doa yang tertulis dalam Buku Pedoman Haji Departemen Agama. Tiap KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) “melatih” dengan ketat urutan manasik para jamaahnya. Bermacam cara orang mengumpulkan bekal naik haji: menabung, jual ladang, menggadaikan SK, uang warisan, bahkan kosasih (ongkos dikasih). Bermacam keadaan jamaah saat tiba di Mekah: ada yang menginap di Hotel bintang 5 dengan fasilitas kamar suite presidential room, atau bahkan – seperti kebanyakan jamaah haji kita – 1 kamar untuk 20 orang uyel-uyelan laiknya ikan sardin dalam kaleng.

Tapi ketahuilah, kualitas haji Anda tidak terletak pada semua itu. Haji adalah puncak dari rukun Islam, kualitas haji kita ditentukan oleh satu hal yaitu apakah Mabrur atau tidak!

Mabrur berasalah dari kata Al Birru. Al Birru itu artinya kebaikan, sedang Mabrur itu artinya kebaikan yang sudah lengkap! Orang yang sudah memenuhi syarat kebaikan syahadat, kebaikan sholat, kebaikan zakat, kebaikan puasa dan kebaikan-kebaikan lain, lalu dipuncaki dengan haji, maka Insya Allah, Allah akan memberikan sertifikat, “kamu lulus, Cum Laude, hajimu Mabrur!”

Dengan sangat indah, Quran menggambarkan Mabrur (kebaikan yang paripurna)  itu dalam sebuah ayatnya, faminhum may yaquulu rabbanaa aatinaa fiid dunyaa hasanatan wafiil aakhirati hasanatan waqinaa ‘adzaaban naar. Ayat 201 surat Al Baqarah yang kita kenal sebagai doa sapu jagat itu memang doa yang paling banyak dibaca oleh jamaah haji. Doa itu mengajarkan kepada kita agar berdoa pada Allah agar Beliau mengkaruniai kita, kebaik dunia (kebaikan lahir) dan kebaikan akhirat (kebaikan batin) dan agar kita dijaga dari siksa neraka. Itulah kebaikan yang sudah lengkap, wujud dari dari Haji yang mabrur, paripurna, lahir dan batin, dunia dan akhirat.

(* Materi ini adalah hasil olahan dari Tausiyyah Walimat Safar,

di kediamaan Bpk Rahmat Sujoko dan Ibu Susanti Kadarwati, Jum’at, 6 Nopember 2009)

Lencho dan surat buat Tuhan

Lencho, seorang petani sederhana dari Meksiko, frustasi  karena tanaman jagungnya habis digasak badai. Harapan tentang panen Jagung yang melimpah menguap dari batok kepalanya. Tetapi, walau pikirannya buntu, ia masih memiliki harapan bahwa Tuhan bisa menolongnya dari ancaman kelaparan tahun ini. Setelah berdoa siang malam tak kunjung dapat jawaban, ia memutuskan untuk menulis surat kepada Tuhan.

“Tuhan”, tulisnya. “Kalau engkau tak menolongku, maka aku dan keluargaku mungkin akan mati kelaparan tahun ini. Aku membutuhkan 100 peso agar bisa menanami ladangku kembali dan menyambung hidup sampai datangnya musim panen, karena badai itu…”. Ia lalu menuliskan “Buat Tuhan” di amplop, memasukkan lembar surat ke dalamnya, dan membawanya ke kantor pos keesokan harinya dengan tampang seperti serdadu kalah perang.

Pegawai pos yang membaca alamat surat itu heran. Selama kariernya sebagai pegawai pos, belum pernah tahu ia dimana alamat Tuhan sebenarnya. Kepala Kantor Pos yang dilapori anak buahnya, segara membuka isi surat Lencho dan segera tahu pokok masalahnya. Atasan yang baik hati itu bermaksud membalas surat aneh tersebut. Ia pun kemudian merelakan sebagian gajinya. Sisanya dimintakan kepada anak buahnya secara sukarela.

Sumbangan sukarela itu hanya bisa mengumpulkan 70 peso. lumayanlah buat menghibur petani yang sedang rudin. Minggu berikutnya Lencho datang lagi ke kantor pos, menanyakan apakah kiriman Tuhan telah sampai.

Dengan puas pegawai Pos memberikannya. Lencho, yang merasa yakin dengan kemurahan Tuhan, segera membuka amplop itu, tetapi wajahnya segera berkerut. Ia tampak senewen seperti jin kurang sajen, meminjam pena untuk menulis lagi surat pendek, dan seperti sebelumnya, dimasukkannya surat itu ke dalam amplop.

Setelah ditulis alamat Tuhan, ditempel perangko dan dimasukkan ke dalam kotak surat, ia pun ngacir pulang. Kepala Pos, yang merasa bangga telah beramal, bergegas membukanya. Dalam hati ia membaca, “Tuhan, dari jumlah yang kuminta, hanya 70 peso yang sampai di tanganku. Kirimkanlah sisanya, sebab aku sangat memerlukannya. Tapi jangan Kau kirim lewat kantor pos, karena semua pegawai pos itu bajingan!”.

(cerpen karya Gregorio Lopezy Fuentes)

I was tired, and what was the use?
I must have examined the stomachs of a thousand mosquitoes by this time.
But the Angel of Fate fortunately laid his hand on my head.
(Sir Ronald Ross, Penemu parasit Malaria pada 20 August 1897)

Pagi itu, Rabu 13 Agustus 2008, Ny. Sulinawati (33 tahun) bangun dengan perasaan tidak nyaman. Sekujur tubuhnya panas bak bara. Kepalanya sakit dan pusing, perutnya mual dan – sejak subuh tadi – sudah dua kali ia muntah. Ia ingat, dua hari lalu, tubuhnya memang sudah mulai demam. Tetapi kesibukannya di tempat kerja membuat ia anggap keluhan itu demam biasa. Obat penurun panas sudah ia minum, tetapi demamnya tak kunjung reda.
Akhirnya, pagi itu juga, ia diantar oleh suaminya ke poliklinik PT AWS. Di Poliklinik, perawat yang menerimanya, segera memeriksa keadaannya. Ia memang mengalami demam tinggi. Termometer digital yang dipakai mengukur temperature badannya menunjuk angka 39,20C. Karena tak satupun makanan bisa masuk perutnya – dan ia muntah setiap dicoba minum obat -, maka akhirnya ia dirawat inap.
Dua hari dirawat, keadaanya belum membaik. Keluhannya justru bertambah: tulang-tulangnya serasa remuk, ulu hatinya perih, dan… di sekujur badannya mulai terlihat bintik-bintik kemerahan. Darahnya diperiksa dan hasilnya menunjukan: Hb: 11,3 g/dl; Ht: 33,6%; Trombosit: 96.000/m3. Dari hasil ini dokter yang merawatnya menyimpulkan, Ny. Sulinawati menderita DBD (Demam Berdarah Dengue) grade II.
Untuk mencegah syok, akibat merembesnya cairan plasma dari pembuluh darah, tetesan cairan infus Ny. Sulinawati dipercepat. Tetapi keesokan harinya, meskipun sudah dikocor infuse Ringer Laktat sebanyak 10 kolf, kondisi Isu makin parah. Gusinya mulai berdarah, dan hasil Trombosit-nya anjlok hingga 46.000/m3. Akhirnya, dokter merujuk Ibu Isu ke sentra pelayanan medis yang lebih lengkap untuk mendapat transfusi darah dan penanganan lebih lanjut.
Kisah Ny. Sulinawati adalah kisah hampir setiap pasien yang menjalani rawat inap di Poliklinik PT. AWS bulan Agustus 2008 yang lalu. Dari 130 pasien yang dirawat pada bulan tersebut, 61 orang diantaranya menderita DBD atau demam berdarah dengue. Meskipun jumlahnya tidak sebanyak wabah DBD pada medio Maret 2008, tetapi serangan bulan Agustus ini tidak boleh dianggap sebelah mata. Pasalnya, pada serangan kali ini lebih banyak pasien yang mengalami perdarahan dan akhirnya harus dirujuk ke luar lokasi.
Sebenarnya, untuk suatu daerah yang dikepung air seperti Rawa Jitu Timur ini, datangnya hantu DBD sudah bisa diprediksi. Penyakit ini memang punya irama yang khas, yakni banyak merebak saat datang musim hujan. Karena sudah bisa diprediksi, maka kewaspadaan terhadap mestinya sudah dipasang jauh-jauh hari. Tetapi apa daya, saban musim hujan tiba kita selalu kecolongan. Kenapa? Mungkin karena demam berdarah dianggap hanya sebagai demam biasa saja. Padahal, 10 tahun lalu, pada Januari – April 1998, wabah DBD ini pernah menghajar 27 propinsi di Indonesia. Penderitanya mencapai 16.466 orang dan 429 orang di antaranya meninggal. Begitu dahsyatnya sehingga pemerintah menyatakan wabah demam berdarah kala itu sebagai KLB atau kejadian luar biasa.

Apakah DBD itu?
Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam akut selama 2 sampai 7 hari yang disebabkan oleh infeksi virus Dengue yang ditandai dengan keluhan demam tinggi mendadak, nyeri pada anggota badan (kepala, bola mata, punggung, dan sendi), timbul bintik kemerahan di kulit dan gangguan perdarahan. Keluhan lainnya adalah mual, muntah, dan nyeri kepala.
Bagaimana virus Dengue yang berukuran 35-45 nm (alias sepersejuta ukuran nyamuk Aedes aegypti, vektor pembawa virus itu) bisa bikin tubuh orang laksana terpanggang dan berdarah-darah?
Awalnya, virus tersebut memasuki tubuh manusia melalui gigitan nyamuk yang menembus kulit. Setelah itu disusul oleh periode tenang selama kurang lebih empat hari, saat itu virus menggandakan diri secara cepat dalam tubuh manusia. Apabila jumlah virus sudah cukup, virus akan memasuki sirkulasi darah (viraemia). Pada saat ini manusia yang terinfeksi akan mengalami gejala panas. Dengan adanya virus dengue dalam tubuh manusia, tubuh akan memberi reaksi. Bentuk reaksi tubuh terhadap virus ini antara manusia yang satu dan manusia yang lain dapat berbeda.
Perbedaan reaksi ini akan menimbulkan gejala klinis dan perjalanan penyakit yang bertahap. Bentuk reaksi pertama adalah terjadi netralisasi virus oleh sistem daya tahan tubuh seseorang kemudian disusul dengan mengendapnya virus yang ternetralisasi pada pembuluh darah kecil di kulit berupa gejala ruam (rash). Selanjutnya terjadi reaksi kedua yaitu gangguan fungsi pembekuan darah sebagai akibat dari penurunan jumlah dan kualitas komponen pembekuan darah yang menimbulkan manifestasi perdarahan. Bentuk reaksi ketiga terjadi kebocoran pada pembuluh darah yang mengakibatkan keluarnya komponen plasma (cairan) darah dari dalam pembuluh darah menuju ke rongga perut berupa gejala ascites dan rongga selaput paru berupa gejala efusi pleura.

Apakah Gejala DBD Yang Timbul?
Umumnya, penderita DBD akan mengalami gejala klinik berupa: demam tinggi, nyeri pada seluruh tubuh, ruam dan perdarahan. Demam ini timbulnya mendadak tinggi (dapat mencapai 39-400C) dan dapat disertai menggigil. Demam ini hanya berlangsung sekitar dua sampai tujuh hari. Demamnya bersifat biphasic dan bentuknya seperti pelana kuda, yaitu demam yang berlangsung selama beberapa hari itu sempat turun di tengahnya menjadi normal kemudian naik lagi dan baru turun lagi saat penderita sembuh.
Gejala panas segera disusul dengan timbulnya keluhan nyeri pada seluruh tubuh. Pada umumnya yang dikeluhkan adalah nyeri otot, nyeri sendi, nyeri punggung, dan nyeri pada bola mata yang semakin meningkat apabila digerakkan.
Ruam pada kulit dapat timbul pada saat awal panas yang berupa flushing, yaitu berupa kemerahan pada daerah muka, leher, dan dada. Ruam juga dapat timbul pada hari ke-4 sakit berupa bintik-bintik merah kecil seperti bintik pada penyakit campak.
Gejala paling berbahaya dari DBD adalah perdarahan. Perdarahan yang terjadi dapat berupa perdarahan bintik merah di kulit (petechiae), perdarahan agak besar di kulit (echimosis), perdarahan gusi, perdarahan hidung dan kadang-kadang dapat terjadi perdarahan yang hebat yang dapat berakhir pada kematian.
Sialnya, karena perdarahan bintik merah di kulit (petechiae) sering tak terlihat pada awal penyakit, keterlambatan diagnosa bisa saja terjadi. Namun hal ini dapat dihindari bila dokter yang memeriksa melakukan teknik tourniquet. Caranya, ikatkan manset (bebat pengukur tekanan darah) pada lengan atas selama sepuluh menit. Bila muncul bintik-bintik merah dibawah kulit yang tidak hilang bila diregangkan, artinya test itu positif, dan ini menandakan adanya kebocoran dinding pembuluh darah lantaran virus dengue. Tes sederhana ini kadang lebih jitu ketimang hasil tes laboratorium. Soalnya kadar trombosit dapat turun mendadak, yang mungkin tidak terdeteksi saat pengambilan sampel darah.

Pengobatan
Tindakan apa yang pertama bisa Anda lakukan bila anggota keluarga dekat terkena DBD? “Beri minum yang banyak,” Kata Dr. Zarkasih Anwar, dokter spesialis anak FK UNSRI yang menjadi pembicara pada Diskusi Panel “Antisipasi Kejadian Luar Biasa demam Berdarah” di kota Palembang, Sumsel empat tahun lalu. Air minum berfungsi mengganti cairan tubuh yang hilang karena kebocoran pembuluh darah. Berapa jumlahnya? Dua kali dari kebutuhan harian normal alias 4 liter. Air minum ini bisa Anda ganti dengan juz buah, teh atau susu. Demam bisa diobati dengan pemberian Parasetamol 3 x 500 mg perhari. Selanjutnya, segeralah bawa keluarga Anda ke dokter terdekat untuk pertolongan lebih lanjut.
Dokter akan melakukan anamnesa dan memeriksa keadaan pasien. Bila dari hasil anamnesa dan pemeriksaan ditemukan gejala dehidrasi – denyut nadi melemah, kulit kaki dan tangan terasa dingin, urine amat pekat – dan atau terdapat gejala perdarahan spontan, pasien dianjurkan untuk dirawat.
Pasien akan mendapatkan infuse cairan kristaloid seperti: Ringer Laktat, Ringer Asetat atau Natrium Chloride 0,9% dengan kecepatan tetesan sesuai dengan derajat dehidrasi. Respon terapi dipantau baik secara klinis maupun laboratoris. Bila selama 24 jam perawatan suhu badan dalam batas normal, kondisi klinis membaik dan hasil laboratorium Trombosit > 100.000/mm3, pasien dibolehkan pulang dengan nasehat: istrirahat total alias tirah baring 2-5 hari dan banyak minum.
Sebaliknya, bila selama perawatan kondisi klinis pasien justru memburuk: demam makin hebat, timbul mimisan, buang air besar kehitaman, Trombosit < 50.000/mm3, atau syok, itu tanda telah terjadi kebocoran cairan plasma dari pembuluh darah. Tak ada cara lain kecuali merujuk pasien ke sentra pelayanan medis yang lebih lengkap. Transfusi Trombosit atau darah segar (whole blood) mungkin diperlukan, bila pemberian cairan koloid seperti: Dekstran 40, HES atau Hydroxy Ethyl Starch, gagal mengatasi syok dan terjadi perdarahan hebat dari hidung (epistaksis), saluran cerna (hematemesis atau melena) bahkan perdarahan otak (ensefalopati dengue)…

Pencegahan
Bila DBD sudah mewabah, fogging atau pengasapan dilakukan untuk membunuh nyamuk Aedes aegypti – si inang pembawa virus dengue. Tetapi, efek fogging hanya bersifat sementara dan sangat tergantung pada jenis insektisida yang dipakai. Setelah fogging, jumlah pasien DBD memang berkurang. Tetapi satu sampai dua minggu kemudian kembali melonjak. Karena itu saat wabah DBD menyerang perlindungan ekstra perlu kita lakukan seperti: penggunaan kelambu, pasang kasa nyamuk di pintu dan jendela, gunakan semprotan nyamuk di dalam rumah atau pakai obat nyamuk yang dioleskan!
Satu hal lagi bahwa pemberantasan penyakit DBD tidak hanya memberantas nyamuk Aedes aegypti saja, tetapi juga memberantas virus dengue yang dibawa oleh nyamuk tersebut. Karena itu rantai penularan virus perlu diputus dengan cara menumpas jentik nyamuk Aedes aegypti yang hidup nyaman di genangan air. Ada resep kuno yang terbukti ampuh untuk membunuh jentik nyamuk ini yaitu: bersihkan lingkungan tempat tinggal. Caranya, bersihkan dan taburkan bubuk abate di semua tempat genangan air, vas bunga, bak mandi, atau kolam renang.
Resep kuno terakhir tadi menjadi mutlak, pasalnya kita warga Aruna Wijaya Sakti yang dikepung air dari kiri-kanan depan-belakang. Selain itu, karena perubahan iklim, musim hujan bisa bertamu kepada kita kapan saja. Ya, hantu DBD ini memang selalu menyerang saat musim hujan tiba. Kita semua perlu tanggap dan waspada, jangan sampai berkali-kali kecolongan!

Ihwal Makan…

Kearifan tua bilang “Bukan hidup buat makan, melainkan makan buat hidup”. Baiklah. Soalnya, apa yang dimakan? Buat orang Tionghoa, gampang saja. Perutnya praktis. Simaklah pepatahnya “Segala rupa yang berkaki bisa digoreng, kecuali kursi. Segala rupa yang terbang dilangit bisa dipanggang, kecuali layang-layang”. Mahatma Gandhi lain. Dilarangnya makan buah-buahan, apabila mau betul-betul amalkan “karma yogi”, supaya bisa peroleh jiwa sempurna, bebas nafsu, desirelessness. Ini belum seberapa. Burton didalam Anatomy of Melancholy lebih gawat dari itu. Di samping buah-buahan, janganlah pula jamah sayur-mayur, khususnya kubis atau kol! Mengapa? “Karena bikin mimpi buruk dan otak dungu!”.

Kalau Anda ingin selamat, jangan gubris omongan orang-orang di atas. Ikutilah saja petuah para ahli gizi.
Mereka bukan saja bisa menasehati jenis-jenis makanan yang baik, kompisisi gizinya, tetapi juga termasuk berapa kalori yang terkandung dalam 100 gram-nya.

Karena itu, andai boleh disederhanakan, maka rumusan makanan yang ideal itu adalah makanan yang tepat komposisi gizinya, sesuai dengan selera, dan ringan dikantong alias murah!

Betapapun lengkapnya komposisi gizi makanan, sarat kalori hingga bisa bikin orang merasa kuat seperti harimau, tapi tak kena selera, susah juga ditelan orang. Soalnya selera jelas berstatus otonom. Yang satu senang pecel lele, satunya ayam panggang, satunya lagi justru sampai termimpi-mimpi ngidam combro. Yang satu doyan sambel goreng ati, yang lain malah menolaknya karena takut asam urat dan hipertensi.

Tetapi akhirnya, biar makanan itu gizinya tepat dan bisa bikin liur menetes tergugah seleranya, tetapi mahal minta ampun dan tidak terjangkau oleh duit di kantong, apa boleh buat: Anda hanya bisa gigit jari. Soalnya, hanya orang kaya yang bisa berkata, “hari ini, kita makan apa?” Sementara si miskin akan bertanya, “apa hari ini, kita makan?”

Kalau begitu, bagaimana menyusun menu yang memenuhi semua kriteria di atas? Serahkanlah masalah itu pada Ibunya anak-anak di rumah. Sebab merekalah yang paling pintar pilah-pilih sayur, daging, ayam, tempe atau tahu. Merekalah yang paling mengerti, misalnya mau dimasak macam apa tempe ini: digoreng, dibacem, ditumis, disambel, disemur, atau diulek dengan cabai jadi tempe penyet. Dan akhirnya, mereka jua yang paling tahu persediaan duit di kantong suami serta… bagaimana menghabiskannya!

Tetapi bila Anda bener-bener pingin sehat. Bolehlah susun menu ikuti Pedoman Gizi Seimbang yang sudah diumumkan oleh Direktorat Gizi Depkes sejak 13 tahun yang lalu.

Pertama, makanlah aneka ragam makanan. Ini bukan karena kita sejenis omnivora yang memakan segalanya, tetapi karena kandungan zat gizi makanan itu berbeda-beda. Walhasil, kalau mau asupan gizi cukup dan lengkap, kita musti makan yang bervariasi. Untuk itu, silahkan gasak nasi, telan sayur dan lalapan, jamah daging, tempe dan telur, jangan coba-coba pantang kecuali memang alergi.

Kedua – seusai dengan semboyan warteg di seluruh Indonesia - biasakanlah sarapan pagi. Bukan dengan rokok atau kopi, tapi dengan: nasi, mie, susu, atau roti. Sarapan penting, supaya badan bisa tegak, dengkul tidak gemeteran, dan.. tubuh tidak cepat pingsan. Untuk memulai kerja atau belajar, tubuh butuh energi yang bersumber dari makanan. Karena itu, siapa punya anak pingin otaknya encer dalam melahap pelajaran berilah sarapan. Siapa pingin bongkar 25 ton pakan udang musti sarapan. Siapa mau tahan berdiri 8 jam di ruangan AC bersuhu 180C, wajib sarapan!

Ketiga, makanlah sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan energi dan batasi konsumsi lemak sampai seperempatnya. Maksudnya, bila kebutuhan kalori Anda 1200 kalori perhari, maka yang 600 kalori atau setengahnya harus berasal dari nasi atau penggantinya, sementara seperempatnya dari protein dan lemak. Ini memang wajar dan sehat buat orang kebanyakan. Terlalu banyak nasi, bisa bikin Anda jadi kuli. Terlalu banyak makan lemak, bisa bikin Anda masuk rumah sakit karena sakit jantung dan kolesterol!

Keempat, makananlah sumber zat besi untuk mencegah anemia. Sumber yang paling baik adalah sayuran berwarna hijau, kacang-kacangan, hati, telur dan daging. Zat besi penting – bukan karena karena zat itu bisa buat Anda gagah bak Gatotkaca – tetapi tanpa asupan yang cukup, Anda akan menderita anemia yang bisa membuat Anda cepat lelah, loyo, dan tidak bersemangat.

Kelima, minumlah air bersih dalam jumlah yang cukup. Berapa gelas? Minimal 8 gelas atau setara 2 liter setiap harinya. Kekurangan cairan bisa menyebabkan dehidrasi, bibir kering, kulit kasat, konsentrasi menurun, hingga kalau Anda jalan – seperti di iklan – tiba-tiba bisa kejedut pintu!

Keenam lakukan kegiatan fisik dan olah raga secara teratur. Sempatkanlah kalau pagi, lari-lari kecil sebentar untuk menghirup udara segar atau jogging sendirian disamping tempat tidur. Olah raga bukan saja bisa membakar timbunan lemak hingga membuat paha jadi langsing dan indah, otot-otot terbentuk gagah, tapi juga bisa membuat ketahanan jantung, paru, ginjal dan otak meningkat!

Ketujuh, hindari minuman beralkohol. Bukan karena takut dirazia FPI, tetapi karena efek alkohol yang mengerikan. Efek jangka pendek: bisa bikin Anda mabuk, ribut dengan bini dan tidak bisa bedakan mana emas mana tinja. Efek jangka panjang: kerusakan saraf dan kanker hati atau hepatoma!

Masih ada 5 lagi Pedoman Gizi Seimbang yang harus Anda turuti, misalnya: gunakan garam yodium, cukupi kebutuhan energi, berikan ASI ekslusif bagi bayi sampai 4 bulan, pilih makanan yang aman bagi kesehatan, dan baca label kemasan makanan.

Moga-moga pedoman di atas tidak bikin Anda bingung. Bila Anda masih bingung juga dengan pedoman gizi buatan Departemen Kesehatan, boleh coba ikuti “Pedoman Gizi” yang difirmankan oleh Tuhan:

Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu beriman. (QS Al-Maidah [8] 5:88)

Tangan Yang Mulia

Carilah rizki, karena rizki itu akan dijamin bagi orang yang mencarinya,
Pintu-pintu surga terbuka bagi orang-orang fakir dan miskin,
hujan rahmat akan turun atas orang-orang yang penuh kasih sayang,
dan Allah rela atas orang-orang yang dermawan
(Nabi Muhammad saaw)

Alkisah, ada tiga orang putri raja yang mempunyai rupa sama menawan. Yang membedakan mereka adalah tangannya. Si Sulung memiliki tangan yang putih mulus plus halus bukan alang kepalang, sehingga lalat pun terpleset bila menclok di atasnya. Adiknya mempunyai kuku-kuku jari tangan yang berkilau melebihi mutiara, sehingga bercahaya melebihi lampu Philips TL 18 watt. Sedang si Bungsu memiliki tangan yang biasa-biasa saja. Memang mulus juga sih, sebab dia putri raja, tetapi tidak semulus kakaknya yang sulung.

Seorang pangeran yang tampan berniat meminang salah satu dari ketiga putri itu. Pinangan diterima dan sang raja mempersilahkan si pangeran memilih. Ketika ketiganya dihadapkan, pangeran ini bingung juga untuk menentukan pilihan. Tiga-tiganya ayu, tiga-tiganya cantik, hanya tangannya saja yang membedakan. Jadi? “Izinkan saya meminta waktu barang sehari untuk menentukan pilihan.” Kata pangeran.

Malam berlalu dan hari baru datang. Pagi itu, di depan kaputren, seorang pengemis tua – samaran si pangeran – membawa batok kelapa memohon sedekah. Di kaputren pertama, tempat si sulung, pengemis dapat kecewa, soalnya alih-alih mendapat sedekah, sang putri malah menyuruh penjaga yang shift pagi itu untuk mengusirnya. Di kaputren kedua, ia mengalami nasib yang sama. Di kaputren ketiga, diapun hampir disemprot oleh penjaga, andaikata si Bungsu ini tak mencegahnya. “Tunggu sebentar paman” Ujar si putri, “maafkan kami kalau menyinggung paman… ini sekedar makanan dan uang untuk paman, moga-moga bisa membantu. Kalau paman butuh apa-apa, silahkan datang kemari, kalau saya bisa bantu akan saya bantu” Si pengemis pun berterima kasih lalu pergi.

Siangnya, si pangeran menghadap raja dan langsung berkata, “Saya memilih putri padukan yang paling bungsu.” “Kenapa?” tanya sang Raja. “Sebab, tangan yang terulur untuk menolong orang yang kesusahan, adalah tangan yang paling mulia, paling bercahaya!”

Kisah diatas memang hanya dongeng. Dulu, sewaktu saya kecil, Bapak sering mendongengi kami macam-macam kisah sebelum saya dan adik saya tidur. Ada Kancil nyolong timun, Bayan Budiman, Kasan Besari dll. Waktu itu, dongeng memang satu-satunya hiburan kami, sebab kalau mau nonton TV musti jalan ke rumah Pak Kades 2 km PP.

Meskipun hanya dongeng, kisah di atas memberi kita pelajaran. Tangan yang mulia di mata pangeran bukan yang mulus karena dioles pakai Pond 7 kali sehari, 47 kali seminggu. Tangan yang mulia bukan yang kukunya dirawat dengan manicure-pedicure, sehingga mengkilap melebihi kaca. Tangan yang mulia adalah yang digunakan untuk berderma, menolong orang lain. Bukankah setiap anak lebih menyukai tangan Ibunya yang mengelus dengan kasih sayang, ketimbang tangan Ibu yang rajin menjewer dengan kejengkelan?

Lalu tangan apa lagi yang mulia, baik dimata Tuhan maupun manusia? Kali ini bukan dongeng tapi kisah nyata!

Suatu hari, nabi Muhammad saaw, pulang dari peperangan. Ketika tiba di Madinah, beliau disambut banyak orang. Di antara yang menyambut itu, ada seorang tukang batu yang mendekati Nabi saaw, dan hendak mencium tangan beliau. Akan tetapi, Nabi saaw, tidak mau menerimanya, sebaliknya beliau mengambil tangan tukang batu itu dan menciumnya.

Ketika bersentuhan tangan dengan orang itu, Nabi saaw, merasakan tangannya kasar sekali. Lalu, Nabi saaw, bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?” Orang itu menjawab, “Ya Rasulullah, kerjaan saya ini membelah batu setiap hari, belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah kepada keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar.”

Nabi saaw, terharu mendengar penjelasan si tukang batu itu. Makhluk termulia, kekasih Allah itu, kemudian mencium lagi tangan yang kasar milik tukang batu dan bersabda “Hadzihi yadun la tamatsaha naarun abada” ‘inilah tangan yang tak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya‘.

Lewat perilakunya, Nabi Muhammad saaw, sedang mengajarkan pada kita umatnya, bahwa tangan yang mulia, yang tidak akan disentuh oleh api neraka itu, bukan tangan yang lembut, yang berkali-kali dirawat dengan perawatan ekstra, bukan tangan yang sekali teken, cair dana ratusan juta, tetapi adalah tangan yang melepuh karena bekerja keras mencari nafkah yang halal!

Berbahagialah kalian yang tangannya bau karena membersihkan udang, terluka dan alergi karena saputangan bocor, bila semua itu diniatkan untuk mencari nafkah yang halal! Berbahagialah kalian, yang tangannya kapalan, karena meracik gado-gado atau obat; yang linu dan kram karena overload mengetik laporan; yang hitam legam belepotan oli, yang gatal karena membersihkan rumput dan selokan: bila semua itu diniatkan untuk mengais nafkah atau rizki yang halal!

Jadi – sekali lagi – siapa pemilik tangan yang mulia? Bisa siapa saja, termasuk juga Anda, apa pun profesinya, asal Anda gunakan tangan itu untuk: sibuk mencari nafkah yang halal dan mendermakan sebagian nafkah dimiliki untuk meraih ridha-Nya!

ASY-SYIFA, edisi 8/I/26 Mei 2008

Keadaan Oom… Keadaan

Siapa saja pada malam hari bersusah payah
dalam mencari rejeki yang halal, malam itu ia diampuni…
(Muhammad saaw)

Tekad apa yang mendorong kalian datang ke sini, hingga rela tidur bertumpuk-tumpuk laiknya ikan sarden dalam kaleng? Bukan tekad, bukan semangat tapi keadaan Oom.

Keadaan bagaimana? Ya begitulah. Segala sesuatu bisa terjadi di bawah matahari, seperti misalnya kambing berkaki lima atau lelaki bergincu. Walau daerah awak sedang membangun bisa saja tak ada peluang bekerja mencari sesuap nasi kecuali membilang bintang di langit, bukan? Itu sebabnya kami ke mari, Oom. Kearifan tua ada berkata “Hujan emas di negeri orang hujan batu di negeri sendiri mendingan dilembur sorangan” atau “Makan tidak makan asal kumpul”. Apa-apaan tuh. Tiap masa memerlukan dalilnya sendiri, Iain Bengkulu lain Semarang, lain dulu lain sekarang!

Mimpi buruk apa yang menuntun kalian jauh-jauh ke mari? Bukan mimpi buruk Oom, tapi harapan. Sekali lagi harapan bisa hidup yang menuntun kami dengan jerijinya yang lentik dan menating kami ke mari. Harapan itu – kata tetangga sebelah adalah harta benda terakhir dari seorang miskin. Tak ada kerja tersedia di Gedung Aji. Tak ada kerja di Pringsewu. Tak ada kerja di Palembang. Maka kami pun berkata pelan: Oh… Aruna, terimalah para penganggur ini dalam pelukanmu!

Demikian halnya kami: meski gaji mungkin hanya cukup untuk makan, beli bedak dan pembalut, tetap saja kami asyik kerja di sini. Seorang perempuan yang tangannya sibuk bekerja lebih mulia – dunia akhirat – ketimbang yang mulutnya demen menggunjing dan jarinya sibuk cari kutu di kepala!

Kamar sempit itu dihuni 10-15 noni asal Gedung Aji, Way Abung, Penawar, Pringsewu, Talang Padang bahkan… Palembang, tampak riuh sebab habis pulang kerja lembur dari Cold Storage, yang dinginnya mampu mengubah daging jadi es cream.

Di kamar ini kami mengatur napas yang lelah. Di kamar ini kami menanak dan menjerang. Di kamar ini kami merindukan desa asal yang cantik namun terlalu lemas menyusui anak kandungnya. Jika ada yang bertanya: Kenapa jauh-jauh datang ke bekas rawa jepitan sungai Mesuji dan Tulang Bawang?

Jawaban terencana sudah tersedia: CP Prima cabang Rawa Jitu punya kerja merevitalisai tambak udang bekas tinggalan cukong Samsul Nursalim dan butuh puluhan ribu tenaga out sourcing untuk mendongkrak produksi agar harga sahamnya tidak terjungkal di lantai bursa. Caranya?

Gampang. Datangkan saja 8000 gadis dari Tulang Bawang dan sekitarnya. Profesi mereka: Pekerja Cold Storage. Maka siapa pun wanitanya asal: bebas Asma, bebas TBC, tidak pilek, tidak gampang biduran dan… tahan berdiri 8 jam di ruang bersuhu 18OC tanpa pingsan, boleh ambil bagian dalam proyek ini: pilah-pilih udang, potong kepalanya, timbang dan mengepak serta menyimpannya di cold room sebelum diekspor, kejar taget 30 ton perhari!

Subhanallah! Ketahan tubuh mereka tak ada duanya di Asia Pasifik! Bila tiap kepala bergaji 650 ribu, silahkan awak hitung berapa miliar uang yang layak diterima seluruh putri-putri zamrud khatulistiwa itu saban bulannya. Andai uang 5,2 milyar itu dibelikan cendol dan ditumpahkan disini saya jamin akan ada tsunami!

Karena itu, barang siapa kebetulan baca tulisan ini dan punya banyak kerabat yang kebingungan tiada lapagan kerja padahal nafsu membangun begitu kerasnya nyaris bikin otak meletup, dipersilakan beramai-ramai cari sesuap nasi di Rawa Jitu Timur ini, daripada bengang-bengong tiada ujung sampai saraf melintir. Bongkar muat pakan? Sopir? Koki? Tukang las? Tukang rumput? Tinggal pilih.

Bagi mereka yang punya bini bisa nyuntik, atau punya mertua bisa urut orang keseleo, terbuka kemungkinan membawa serta. Khusus buat Aruna Wijaya Sakti, pembangunan revitalisainya memang tidak main-main. Perlu tenaga kerja manusia. Pembangunan yang tidak menghiraukan tenaga manusia sehingga tercecer masuk kanal pastilah bukan pembangunan sebagaimana tertera dalam kamus-kamus yang dijual di toko.

Sekarang sudah saatnya buat remaja putri asal Tulang Bawang dan sekitarnya, bangun malam, kerja ekstra plus lembur 8 jam, digigit uap es yang bengis, membersihkan udang dan memotong kepalanya, supaya dunia tetap berputar, dan supaya sanak familinya nun di sana bisa makan.

Sekarang sudah sampai waktunya buat para montir, tukang las, tukang aduk semen, tukang gali tanah dari seluruh pelosok Lampung menopang revitalisasi Aruna Wijaya Sakti tegak di atas kaki industrialiasasi yang mantap hingga tercapati The Largest Aqua Culture in The World!

Karena berkat mereka: anak-anak di Jepang, Ibu-bu di Singapura, bahkan tante-tante dan Oom-oom di Amerika bisa enak menikmati udang goreng, baso udang, simizu udang, kroket udang dan…. ribuan resep udang olahan lainnya.

Sementara di sini, puluhan ribu pekerja out sourcing dari puluhan penyedia jasa tenaga kerja akan terbungkuk-bungkuk mengolah hasil tambak eks Dipasena: dipanggang mentari kala siang atau disengat dingin hingga ke dasar tulang di kala malam…

ASY-SYIFA, Edisi: 7 / I / 12 Mei 2008

Tulisan Sebelumnya »