SEPERTI BINTANG DI LANGIT
Seorang Kakek, (100 tahun) dan istrinya (86 tahun), sudah beberapa lama didera kegundahan sebab sampai setua itu belum dikaruniai keturunan. Tak henti-hentinya, kakek ini berdoa agar Tuhan mengkaruniainya keturunan. Suatu malam ketika ia dalam sedang berdoa didalam kemahnya, ada suara yang menyuruhnya keluar, “Sekarang, pandanglah langit dan hitunglah bintang-bintang di sana, bila engkau sanggup” Ia pun menatap langit dan terdengarlah suara, “sebanyak itulah anak keturunanmu nanti” (Kejadian 15:5)
Anda mungkin sudah tahu, Kakek yang kelak menjadi Bapak dari para Nabi ini adalah Ibrahim. Usai mendengar firman itu, Ia diizinkan untuk menikahi budaknya (wanita berkulit hitam asal Ethiopia), bernama Hajar. Dari Hajar ini lahirlah seorang bayi: Ismail (artinya: Allah mendengar permohonanmu, Isma = mendengar, Eli = Tuhan). Bertahun kemudian, istri pertama Ibrahim, Sarah pun akhirnya mengandung juga dan lahirlah: Ishak (artinya: dia tertawa). Kelak, Ishak berputra Ya’qub di Kanaan (Palestina selatan) (Ya’qub ini dinamai Israel artinya = hamba Tuhan, Isra = hamba, Eli = Tuhan). Ya’qub berputra 12 orang, salah satunya kelak menjadi pemuda mbagus nganteng dambaan wanita, yang terdampar di Mesir dan jadi menteri disana, Yusuf ‘alaihi salam.
Kelak keturunan 12 orang putra Ya’qub (Bani Israel) itu diperbudak di Mesir dan diselamatkan oleh Musa dan Harun. Begitulah, turun temurun banyak sekali Nabi atau Rasul keturunan Ibrahim yang lahir dari jalur Ishak sampai kemudian dipungkasi oleh Almasih ‘Isa ibn Maryam. Bagaimana keturunan Ibrahim dari Ismail?
DUA BANGSA BESAR
Ismail yang bersih dan lucu itu membuat hati Ibrahim dipenuhi bunga. Tak henti-hentinya, sore hari usai Ibrahim beribadah, ia menggendong dan peluk keturunannya dari Hajar itu. Dan dari sinilah kisah Ismail bermula. Istri Ibrahim pertama, yang awalnya rela dimadu mulai dihinggapi rasa cemburu. Lama ia bendung rasa itu tetapi akhirnya pecah juga. Maka inilah wujud rasa cemburunya: “Ibrahim, silahkan pilih: Aku atau Hajar dan anaknya. Kalau pilih Aku, silahkan pisahkan Hajar dan Ismail, usir jauh dari sini. Bila kau pilih Hajar, biarlah aku yang pergi dari sini.”
Kakek tua yang sudah matang ditempa beribu cobaan ini tentu saja menolak kemauan istri pertamanya itu. Tapi Allah justru berkehendak lain, Ismail dan Ishak memang harus pisah, sebab dari keturunan mereka berdua kelak, Allah hendak menjadikan 2 bangsa yang besar. Tuhan berkehendak agar keturunan Ismail kelak, yang seperti “batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan” akan menjadi “batu penjuru” (Matius, 21:42; Mazmur, 118:22)
DRAMA DI LEMBAH TANPA TANAMAN
Maka akhirnya, Ibrahim mengantar istri dan buah hatinya itu ke arah selatan, ribuan kilometer lebih dari Kanaan (sekarang Palestina Selatan), 10 hari perjalanan unta, ke padang pasir di wilayah Hijaz, sekitar lembah Bakka (Mekah). Sampai di Mekah, Ibunda Ismail, Hajar, bingung, sebab sejauh mata memandang, yang ada padang pasir. Ia pun bertanya “Ibrahim, kamu hendak meninggalkan kami disini? Ini keinginanmu, untuk menyenangkan istri tuamu atau kehendak Allah.” Ibrahim menjawab “Ini kehendak Allah”. Budak Hitam dari Tanah Mesir ini meneguhkan dirinya “Oh kalau ini kehendak Allah, aku ridho, sungguh Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.”
Dengan berlinang air mata, Ibrahim meninggalkan dua orang yang sangat dicintainya itu, ia berdoa seperti direkam Al Quran, Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim 14:37)
Beberapa hari kemudian, bekal makan dan air minum mereka habis. Ismail yang masih orok mulai menangis. Hajar mulai bingung, sedih dan lapar. Sambil menangis Ibu ini berlari ke jajaran bukit-bukit batu yang mengelilingi lembah itu, berharap ada kafilah yang lewat dan memiliki air untuk mengobati haus mereka. Ia berlari bolak balik 7 kali antara dua bukit batu (kelak dikenal sebagai Shafa dan Marwah), tapi tak ada seorangpun disana, tak ada setetes pun air ia temui. Maka, ia balik lagi menemui bayinya. Ismail masih menangis dengan kerasnya.
Hajar yang hampir putus asa itu, terduduk disamping bayinya, tangisnya pecah, hatinya menjerit berdoa pada Allah. Allah Maha Melihat atas apa yang terjadi pada dua Ibu anak itu, Dia lalu memerintahkan Jibril untuk turun ke bumi, berdiri disamping Ismail. Ketika si Ismail mulai kejang, maka Jibril menghentakan kakinya ke bumi, dan…. terbitlah mata air disamping kaki kaki Ismail kecil. Jernih warnanya, segar rasanya, melimpah ruah jumlahnya. Inilah mata air mukjizat itu, buah dari doa tulus seorang Ibu dan kesucian seorang bayi: mata air yang kelak “dicicipi” oleh bermilyar penduduk bumi, tidak pernah kering sejak 4000 tahun yang lalu, Zamzam, yang melimpah ruah!
Bagi para kafilah di padang pasir, sumber air seperti Zamzam ini adalah harta karun. Maka daerah yang ditempati oleh Hajar dan anaknya itu menjadi makin ramai. Banyak kafilah dagang yang singgah dan menetap disitu. Kelak, salah satu kabilah dari selatan, klan Jurhum, akan menetap disitu dan menikahkan putri mereka dengan Ismail dan menurunkan klan paling terkenal dalam sejarah arab, Quraisy.
MEMBINA KA’BAH
Suatu saat ketika Ismail menganjak dewasa dan Ibrahim sedang menjenguk mereka, datang perintah Allah kepada mereka berdua untuk membangun kembali Ka’bah. Dikatakan membangun kembali, karena sebenarnya yang mendirikan Ka’bah pada mulanya adalah moyang manusia pertama yakni Adam. Kala itu, Adam yang kesepian karena diturunkan ke bumi pisah dengan Hawa, sering teringat dengan keindahan ibadah para Malaikat yang bertawaf mengelilingi Sidratul Muntaha. Ia pingin meniru Ibadah para malaikat itu, tetapi dimanakah Sidratul Muntaha dibumi ini? Allah Maha Pengasih! Dia mengutus Jibril mewahyukan pada Adam agar membangun “miniatur Sidratul Muntaha” di bumi, agar ia dan anak keturunannya kelak, dapat bertawaf mengelilingi bangunan itu. Adam melaksanakan perintah Tuhan, didirikannya sebuah bangun berbentuk kubus dengan batu hitam dari Surga disudutnya, Ka’bah!
Begitulah, Ka’bah menjadi tempat tawaf Adam dan keturunannya. Beberapa ratus tahun kemudian, bangunan itu mulai hilang ditutupi pasir, bahkan – mungkin zaman Nabi Nuh ‘alaihi salam, bangunan itu terendam banjir.
Sekarang, Ibrahim dan Ismail diperintahkan meninggikan bangunan tinggalan Kakek moyang mereka. Setelah beberapa hari, pekerjaan mereka selesai. Ibrahim berdiri di samping Ka’bah dan berdoa, sebagaimana direkam dalam Al Quran:
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Al Baqarah 2:127-129)
SANG BATU PENJURU
Akhir doa itu menyebutkan permohonan agar dikalangan anak turun Ismail kelak, akan dibangkitkan seorang Rasul. Doa Ibrahim ini akan terwujud 2500 tahun kemudian: 12 Rabiulawal 53 tahun sebelum hijriah, bertepatan dengan Senin, 20 April 571 Masehi, lahir dari rahim Aminah, seorang anak lelaki yang dikemudian hari mengubah dunia! Sekarang, namanya diserukan dengan syahdu, oleh puluhan juta muadzin di masjid-masjid dan surau di seantero bumi. Kitab yang dibawanya, Al Quran adalah buku best seller dan paling banyak dibaca. Kisah hidupnya ditulis dengan amat teliti: Bagaimana jalannya, duduknya, senyumnya bahkan berapa helai jenggotnya. Al Maqari mengarang tentang sandal-nya saja, sebuah buku setebal 500 halaman! Wujud paripurna dari doa Ibrahim dan batu penjuru dari sekalian nabi dan rasul ini adalah, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa alihi wa salam.
SERUAN HAJI
Selesai bertawaf mengelilingi bangunan kuno tinggalan Adam yang baru mereka renovasi, Ibrahim mendapat perintah agar menyeru manusia untuk berhaji. Ibrahim heran, bagaimana orang bisa mendengar panggilan saya? Allah kemudian berfirman, “Serulah manusia untuk berhaji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh! (QS Al Hajj 22:27)
Mematuhi perintah Allah – menurut sebuah riwayat – Ibrahim lalu berseru memanggil manusia untuk berhaji dengan seruan yang bisa didengar ruh anak Adam baik yang sudah lahir maupun yang belum sampai hari kiamat kelak! Siapa yang menjawab seruan Ibrahim, niscaya dia akan pergi berhaji, sebaliknya yang tidak dia tak akan mampu berkunjung ke baitullah!
Haji adalah undangan dari Allah. Siapa yang diundang? Seluruh manusia, kita semua! Maka barangsiapa yang mau menjawab undangan itu, Allah-lah yang akan “mengurus kelancaran” perjalanan mereka. Allah menjamin bahwa, siapa yang menjawab seruan Ibrahim itu, maka orang itu akan datang, ya’tuuka rijaalan, baik berjalan kaki, maupun wa’alaa kulli dhaamirin, mengendarai unta yang kurus, lambang kesulitan perjalanan.
Anda mungkin pernah lihat, saudara-saudara kita yang bertawaf sambil ditandu, kakek nenek yang hampir mendekati jompo, yang penglihatan hampir kabur, yang tulang-tulangnya digerogoti asam urat dan reumatik, tetapi mereka tetap menjawab panggilan moyang mereka Ibrahim, undangan Tuhan untuk berhaji ke tanah suci. Ya’tiina min kulli fajjin ‘amiiq, datang dari pelosok negeri yang jauh. Dari Maroko sampai Merauke, dari Rusia sampai Australia, mereka akan datang!
Siapa pun yang hendak haji akan merasakan bahwa ada tangan-tangan tak terlihat yang membantunya, melimpahkan karunia Tuhan yang banyak bagi kelancaran proses hajinya, hingga seakan-akan tanah, air, bahkan angin ikut membantunya. Kalau disini, Anda pernah mendengar ada petani karet, mau naik haji, tiba-tiba sadapan karetnya deras sekali, Anda tidak perlu heran. Seorang tukang sapu disebuah universitas di Jakarta, tiba-tiba bisa terpilih undian naik haji dibiayai Universitasnya. Bahkan, Suhadi, tukang cukur di Malang, Jawa Timur, bisa naik haji dengan cara mengumpulkan rupiah demi rupiah hasil kerjanya!
PERBEKALAN TERBAIK
Alhajju asyhurun ma’luumaatun, haji itu pada bulan-bulan yang telak diumumkan! Rentang bulan-bulan yang dimaksud adalah, sejak 1 Syawal sampai 13 Dzulhijjah. Walau rentangnya hampir 2 bulan setengah, tetapi puncak prosesi haji hanya berlangsung 5-6 hari yakni sejak 8 Dzulhijjah sampai 12-13 Dzulhijjah. Untuk menjalani proses yang hanya 5-6 hari itu, jutaan umat Islam diseluruh dunia, telah mempersiapkan dirinya sejak jauh hari sebelumnya, bahkan ada yang sepanjang rentang usianya.
“Seperti biasanya, Alquran senantiasa mengajak pikiran kita untuk bergerak dari yang material ke yang spiritual” Tulis Abdullah Yusuf Ali dalam The Meaning of Glorius Quran, “Bila kita memerlukan bekal untuk menempuh perjalanan di muka bumi ini, maka berapa banyak bekal harus Anda kumpulkan untuk menempuh perjalanan akhir ke dunia masa depan? Bekal terbaik adalah tetap berperilaku benar, dan ini tak lain adalah takwa!”
Untuk menempuh perjalanan ke Saudi Arabia dan memenuhi biaya hidup disana memang diperlukan dana yang tidak sedikit. Untuk menjalani ritual haji: Tawaf, Sai, Mabit di Mina, Melontar Jumrah dan lainnya, butuh fisik yang prima. Tetapi Haji adalah perjalanan fisik dan spiritual sekaligus. Karena itu, selain bekal material perlu juga Anda persiapkan bekal ruhani yang cukup, agar ziarah yang Anda lakukan bukan hanya pelesir ke tempat-tempat suci, pulang memborong oleh-oleh lalu menyandang gelar haji fulan atau hajjah fulanah. Tidaklah salah mengumpulkan dana yang banyak untuk haji Anda. Tidaklah terlarang Anda mengundang handai taulan sekampung untuk datang mendoakan Anda saat walimah safar. Anda siapkan ini itu untuk kenyamanan perjalanan Anda. Tetapi jangan lupa satu hal bahwa: menabung kebaikan dalam hidup yang benar atau takwa itulah yang harus Anda persiapkan benar-benar! Allah menegaskan, watazawwaduu, fa-inna khayraz zaadit taqwaa, berbekalah, sungguh sebaik-baik bekal adalah taqwa! (QS al Baqarah :197)
IHRAM
Selepas diantar oleh keluarga ke Asrama Haji, jemaah yang daerahnya tidak memiliki embarkasi seperti Lampung ini, akan transit terlebih dahulu embarkasi di Jakarta. Mereka akan dibawa oleh pesawat terbang sampai di Bandara King Abdul Aziz di Jeddah. Setelah melalui pengecekan paspor dan dokumen lain yang melelahkan, jamaah akan diatur pemondokannya di Mekah atau – bagi rombongan kloter awal – akan langsung ziarah ke Madinah.
Disuatu tempat yang telah ditentukan (miqat), jamaah memulai niat untuk haji atau umrah serta memulai ihram. Ihram berasal dari kata haram artinya larangan, yaitu memasuki keadaan, yang dalam keadaan itu orang harus mengenakan pakaian ihram, dan tak menjalankan perbuatan, yang biasanya dihalalkan.
Quran hanya menyebutkan tiga larangan saat Ihram yaitu rafats (berbicara tak senonoh), fusuq (caci maki dan berbuat fasik), dan ber-jidal (ribut berbantah-bantahan). Tiga-tiga-nya kelihatannya hanya urusan mulut yang terlihat remeh, tetapi siapa pun yang pernah naik haji akan membuktikan keampuhan larangan itu, bahwa di tanah suci tempat doa demikian mujarab, manusia harus hati-hati dengan ucapan mereka. Kita banyak mendengar cerita ihwal para jemaah Haji yang “ditegur” oleh Allah “langsung” karena karena urusan keseleo lidah.
Warna baju ihram yang putih tanpa jahitan adalah hidup yang sederhana, tulus, atau pretensi. Itulah pakaian hidup yang sebenarnya. “Hanya ibadah haji sajalah yang dapat melaksanakan sesuatu yang tampak mustahil, yaitu berbagai manusia dari golongan dan negara mana pun, memakai pakain yang sama dan mengucapkan kalimah yang sama. Jadi ibadah haji membuat setiap orang Islam, sekali dalam seumur hidup, masuk dalam pintu gerbang persamaan derajat yang sempit, menuju ke arah persaudaraan yang luas. Tiap-tiap orang sama pada waktu lahir dan mati; cara-cara mereka hidup dan mati pun sama pula; tetapi ibadah haji adalah satu-satunya kesempatan yang mengajarkan bagaimana mereka menempuh hidup yang sama, dan mempunyai perasaan yang sama.” (Maulana Muhammad Ali, Islamologi, bab Haji)
TAWAF
Pernahkah Anda merantau bertahun tahun meninggalkan keluarga untuk mencari nafkah? Sampai kemudian satu hari, Anda memutuskan untuk pulang kekampung halaman Anda, ke keluarga Anda. Bagaimana perasaan Anda kala itu? Orang yang pernah menjadi anak rantau bisa menceritakannya. Konon begitulah juga kira-kira perasaan jemaah haji ketika mereka melihat dan berdiri di depan Ka’bah untuk pertama kali. Sebagian besar dari jamaah haji itu bahkan hanya bisa menangis saat berdiri di depan rumah Tuhan itu. Ya perasaan kembali… sebab hanya Allah-lah tempat kembali kita yang sejati. Maka ketika kita berdiri di depan rumah-Nya kelak, sadar atau tidak mulut kita akan menggumamkan talbiyah, “Aku disini dihadapan-Mu, ya Allah ini aku di sini dihadapan-Mu… labbaika Allahuma labaik…”
Seperti Adam yang kesepian dan rindu untuk melihat para malaikat mengelilingi Sidratul Muntaha, kita pun meneladani kakek kita itu mengelilingi Rumah Tuhan. Bertawaf menglilingi Ka’bah, memutarinya 3600 sebanyak 7 kali putaran. Itu perlambang tetang bagaimana seharusnya orientasi manusia dalam menjalani hidup. Bahwa apapun gerak hidupmu, entah kamu sebagai pedagang, tani, guru, blantik sapi, makelar motor, ataupun anggota dewan, dimanapun posisimu, hendaklah Allah-lah yang menjadi tujuan hidupmu!
Oh ya.. Anda tentu tahu tentang Hajar Aswad bukan? Batu hitam yang terletak di sudut Ka’bah sebelah timur laut itu selalu menjadi idam-idaman Jutaan jemaah haji untuk mereka cium atau bahkan beri salam dari kejauhan. Ibnu umar pernah melihat Rasulullah saw. mengelilingi Ka’bah. Ia mendengar Nabi berkata, mengajak bicara dengan Ka’bah, “Betapa indahnya engkau, dan betapa harumnya keagunganmu. Tapi, demi yang diriku berada dalam kekuasaan-Nya, sesungguhnya kehormatan orang Islam lebih besar di sisi Allah. Lebih mulia dari pada kehormatanmu. Hartanya, darahnya, harus dihormati. Dan tidak boleh berprasangka apa pun kepadanya kecuali yang baik saja.” (Tafsir Al-Durr al-Mantsur 7:565)
Perhatikan itu baik-baik! Kehormatan orang muslim lebih dari batu Hitam penjuru Ka’bah rumah Tuhan. Karena itu hormatilah saudaramu, jangan sekali meremehkan dan menghina mereka. Alih alih menikmati privilage dengan sebutan Haji, justru kamulah yang harus menghormati mereka!
SA’I
Kata sa’iyun berarti lari, dan menurut syari’at Islam, sa’i berarti berlari-larinya jamaah haji antara dua bukit yang letaknya di kota Makkah, yang disebut Shafa dan Marwah. Qur’an menerangkan ihwal sai ini dalam sebuah ayatnya, “sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar-syiar Allah, maka barangsiapa menunaikan ibadah haji atau ‘umrah ke Rumah Suci, tak ada dosa baginya jika ia mengelilingi keduanya” (QS Al Baqarah:158).
Masih ingat dengan kisah Ibunda Ismail, Hajar yang berlari di antara dua bukit untuk mencari air? Pada 2500 tahun lalu, saat Hajar hidup, dua bukit itu masih berupa bukit terjal. Sekarang antara Shafa dan Marwah sudah dihubungkan dengan jalan halus berkeramik. Jarak Shafa dan Marwah sekitar 400 meter, bila itu ditempuh 7 kali bolak-balik hanya sekitar 2,8 kilometer. Sa’i, adalah perlambang ihwal kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi kesukaran dan cobaan. Seperti Hajar, kita harus memastikan bahwa setiap usaha kita hendaknya dimulai dari niat yang Shafa (kesucian) agar kelak mencapai hasil yang Marwah (kesuksesan), bahkah dengan kemurahan-Nya kita akan mendapatkan zamzam (hasil yang melimpah ruah!)
SAAT IBADAH HAJI
8 DZULHIJJAH – MABIT DI MINA
Thawaf dan sa’i adalah ibadah yang mula-mula harus dijalankan oleh setiap jamaah haji pada waktu ia tiba di Makkah, baik ia berniat untuk menjalankan ‘umrah atau haji saja, atau menggabungkan haji dan ‘umrah secara qiran atau tamattu’. Apabila jamaah haji menjalankan ibadah ‘umrah saja, atau menggabungkan haji dan ‘umrah secara tamattu’, maka setelah selesai menjalankan ‘umrah, ia keluar dari keadaan ihram; dan ia baru menjalankan ibadah haji yang sesungguhnya pada 8 Dzulhijjah, tatkala seluruh jamaah haji, laksana lautan manusia bergerak bersama-sama ke Mina (11 km sebelah timur Mekah).
Mina memiliki arti historis yang penting karena dahulu, disinilah Rasulullah dibaiat oleh 60 orang pemeluk islam awal dari Yatsrib, kaum yang kemudian menjadi penyokong dakwah Islam yang paling gigih.
Tanggal 8 Dzulhijjah disebut yaumut-tarwiyah, hari tarwiyah (makna aslinya saat siraman atau saat memuaskan dahaga), karena pada hari itu seluruh jamaah haji menyediakan air, guna hari-hari berikutnya, atau karena saat itulah dimulainya ibadah haji yang sesungguhnya yang akan mendatangkan kepuasan rohani bagi mereka. Di Mina ini, para jamaah bermalam (mabit), dan esok harinya, tanggal 9 Dzulhijjah, tengah hari, mereka berangkat ke padang ‘Arafah.
9 DZULHIJJAH – WUQUF DI ‘ARAFAH
‘Arafah adalah padang pasir yang terletak 26 km arah timur Makah. Luas padang pasir Arafah sekitar 4×2 km atau 800 hektar. Kalau 1 orang butuh tempat 1 m2, maka Arafah bisa menampung 8 juta orang. Karena Rasulullah pernah bersabda bahwa bahwa “seluruh arafah adalah tempat wukuf”, maka ‘Arafah akan penuh jika jumlah jamaah haji sudah 3 kali lipat dari sekarang.
Mengapa tempat ini disebut ‘Arafah yang artinya pengenalan? Ada beberapa riwayat mengenai hal ini. Gerangan di sinilah dahulu Bapak dan Ibu kita, Adam dan Hawa bertemu setelah lama berpisah. Di sini juga, Ibrahim as., dituntun oleh malaikat Jibril yang berkata, “Tempat ini bernama pengenalan ‘Arafah, maka kenalilah manasik hajimu”. Disini jugalah, para jamaah haji Wuquf (artinya bediam diri) untuk berdzikir, berdoa, sampai matahari terbenam, sehingga mereka dikaruniai ma’rifah oleh Allah Azza wa Jala.
MUZDHALIFAH
Setelah matahari tenggelam pada 9 Dzulhijjah, para jamaah bergerak dari ‘Arafah ke Muzdalifah (5 km arah barat Arafah). Mereka shalat Maghrib dan Isya jamak takhir di Muzdalifah ini. Kata muzdalifah berasal dari kata zalf, artinya dekat. Tempat ini dinamakan Muzdalifah karena orang merasa dekat dengan Allah jika tinggal di sana. Dalam Qur’an, tempat itu dinamakan ma’syaril-haram, makna aslinya Monumen Suci, dan di tempat inilah orang diperintahkan supaya mengingat Allah. “Maka apabila kamu buru-buru pergi dari ‘Arafah, ingatlah kepada Allah di dekat Monumen Suci, dan ingatlah kepada-Nya karena Dia telah memimpin kamu, walau-pun sebelum itu kamu termasuk golongan orang yang sesat” (2:198).
Di sini jamaah mencari batu kerikil untuk keperluan melentar jumrah esok hari. Usai menginap semalam, esok harinya, setelah shalat subuh, segera para jamaah haji berangkat menuju Mina.
10 DZULHIJJAH
Hari ini disebut sebagai Yaumun Nahr, penyembelihan, karena dihari inilah kita yang mampu diperintahkan untuk menyembelih hewan Qurban. Kita yang di Indonesia merayakannya sebagai ‘Idul Adha. Pada hari ini, jamaah haji melempar jumrah untuk pertama kali, Jumratul Kubro, di Aqabah. Usai melempar jumrah, mereka pergi lagi ke Mekah untuk menjalani thawaf ifadah (tawaf wajib), dan setelah itu boleh bertahalul atau mencukur rambut. Tetapi mereka masih harus balik lagi ke Mina sebab esok harinya akan melempar 3 jumrah: Ula, Wusta, dan Aqabah. Masing-masing dilempar dengan 7 kali lemparan batu kerikil.
Apa yang mendasari ritual ini? Anda yang biasa Yasinan saban malam jum’at pasti hafal dengan ayat ini, Alam a’had ilaykum yaa banii aadama an laa ta’buduusy syaythaana, innahu lakum ‘aduwwun mubiin. Ya.. ayat 60 dari surah Yasiin ini adalah peringatan Tuhan agar kita tidak menyembah syaitan, sebab ia musuh yang nyata. Tiga jumrah itu adalah lambang dari 3 wujud dosa manusia utama. Jumrah pertama, adalah lambang peperangan kita melawan berhala Fir’aun, lambang penindasan. Jumrah kedua, adalah lambang Qarun, personifikasi sifat tamak dan serakah. Jumrah ketiga adalah lambang dari Ba’lam, wakil dari kemunafikan. Bila tiga dosa itu sudah kita lempar jauh-jauh dari kehidupan kita, maka kita asah kepedulian kita pada sesama dengan kesediaan untuk melakukan pengorbanan, yang dilambangkan dengan penyembelihan hewan qurban.
Usai menyelesai jumrat pada tanggal 12 Dzulhijjah (nafar awal) atau 13 Dzulhijjah (nafar tsani), jamaah ke Makah untuk melakukan tawaf wada, tawaf perpisahan. Maka selesai sudah ritual haji itu, dan masing-masing jamaah tinggal menunggu keberangkatan kembali ke tanah air.
KEBAIKAN PARIPURNA
Sekitar 1420 tahun yang lalu, Pada 10 Zulhijjah, di Mina, Nabi Muhammad saw., menyampaikan khotbah dari atas untanya. Usai khotbah, seseorang bertanya, “Saya berziarah dulu (tawaf) ke Baitullah, setelah itu saya melempar jumrah?” Beliau berkata, “If’al, la haraj (lakukan saja, tidak ada salahnya). Yang lain berkata, “Saya bercukur dulu sebelum menyembelih.” Beliau berkata, “Lakukan saja, tidak ada salahnya.” Yang lain bertanya lagi, “Saya menyembelih sebelum melempar?” Beliau berkata, “Lakukan saja, tidak ada salahnya.” Kata Abdullah bin Umar, “Setiap Nabi saw., ditanya tentang sesuatu yang didahulukan atau diakhirkan, beliau selalu berkata: ‘Lakukan saja, tidak ada salahnya.’” (Shahih al-Bukhari, Kitab al-Hajj)
Gerangan ini bisa menjadi pelajaran bagi calon jamaah atau para haji yang sudah kembali lagi ke tanah airnya. Sebagian besar jamaah haji Indonesia konon dibuat pusing karena harus menghapal doa-doa yang tertulis dalam Buku Pedoman Haji Departemen Agama. Tiap KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) “melatih” dengan ketat urutan manasik para jamaahnya. Bermacam cara orang mengumpulkan bekal naik haji: menabung, jual ladang, menggadaikan SK, uang warisan, bahkan kosasih (ongkos dikasih). Bermacam keadaan jamaah saat tiba di Mekah: ada yang menginap di Hotel bintang 5 dengan fasilitas kamar suite presidential room, atau bahkan – seperti kebanyakan jamaah haji kita – 1 kamar untuk 20 orang uyel-uyelan laiknya ikan sardin dalam kaleng.
Tapi ketahuilah, kualitas haji Anda tidak terletak pada semua itu. Haji adalah puncak dari rukun Islam, kualitas haji kita ditentukan oleh satu hal yaitu apakah Mabrur atau tidak!
Mabrur berasalah dari kata Al Birru. Al Birru itu artinya kebaikan, sedang Mabrur itu artinya kebaikan yang sudah lengkap! Orang yang sudah memenuhi syarat kebaikan syahadat, kebaikan sholat, kebaikan zakat, kebaikan puasa dan kebaikan-kebaikan lain, lalu dipuncaki dengan haji, maka Insya Allah, Allah akan memberikan sertifikat, “kamu lulus, Cum Laude, hajimu Mabrur!”
Dengan sangat indah, Quran menggambarkan Mabrur (kebaikan yang paripurna) itu dalam sebuah ayatnya, faminhum may yaquulu rabbanaa aatinaa fiid dunyaa hasanatan wafiil aakhirati hasanatan waqinaa ‘adzaaban naar. Ayat 201 surat Al Baqarah yang kita kenal sebagai doa sapu jagat itu memang doa yang paling banyak dibaca oleh jamaah haji. Doa itu mengajarkan kepada kita agar berdoa pada Allah agar Beliau mengkaruniai kita, kebaik dunia (kebaikan lahir) dan kebaikan akhirat (kebaikan batin) dan agar kita dijaga dari siksa neraka. Itulah kebaikan yang sudah lengkap, wujud dari dari Haji yang mabrur, paripurna, lahir dan batin, dunia dan akhirat.
(* Materi ini adalah hasil olahan dari Tausiyyah Walimat Safar,
di kediamaan Bpk Rahmat Sujoko dan Ibu Susanti Kadarwati, Jum’at, 6 Nopember 2009)