Banyak orang yang masih mengganggap penyakit diabetes merupakan penyakit orang tua atau penyakit yang hanya timbul karena faktor keturunan. Padahal, setiap orang dapat mengidap diabetes, baik tua maupun muda, termasuk Anda. Namun, yang perlu anda pahami adalah anda tidak sendiri.
Menurut data WHO, Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita Diabetes Mellitus di dunia. Pada tahun 2000 yang lalu saja, terdapat sekitar 5,6 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes.
Namun, pada tahun 2006 diperkirakan jumlah penderita diabetes di Indonesia meningkat tajam menjadi 14 juta orang, dimana baru 50 persen yang sadar mengidapnya dan di antara mereka baru sekitar 30 persen yang datang berobat teratur.
Sangat disayangkan bahwa banyak penderita diabetes yang tidak menyadari dirinya mengidap penyakit yang lebih sering disebut penyakit gula atau kencing manis. Hal ini mungkin disebabkan minimnya informasi di masyarakat tentang diabetes terutama gejala-gejalanya.
Sebagian besar kasus diabetes adalah diabetes tipe 2 yang disebabkan faktor keturunan. Tetapi faktor keturunan saja tidak cukup untuk menyebabkan seseorang terkena diabetes karena risikonya hanya sebesar 5%. Ternyata diabetes tipe 2 lebih sering terjadi pada orang yang mengalami obesitas alias kegemukan akibat gaya hidup yang dijalaninya.
Berikut ini hal-hal yang perlu Anda ketahui tentang diabetes untuk meningkatkan kesadaran akan diabetes :
Apa sih Diabetes Mellitus?
Diabetes mellitus adalah suatu penyakit dimana kadar glukosa (gula sederhana) di dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin secara cukup.
Insulin adalah hormon yang dilepaskan oleh pankreas, yang bertanggungjawab dalam mempertahankan kadar gula darah yang normal. Insulin memasukkan gula ke dalam sel sehingga bisa menghasilkan energi atau disimpan sebagai cadangan energi.
Nah, berapa kadar gula darah yang disebut tinggi? Menurut kriteria diagnostik PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia) 2006, seseorang dikatakan menderita diabetes jika memiliki kadar gula darah puasa >126 mg/dL dan pada tes sewaktu >200 mg/dL.
Kadar gula darah sepanjang hari bervariasi dimana akan meningkat setelah makan dan kembali normal dalam waktu 2 jam.
Kadar gula darah yang normal pada pagi hari setelah malam sebelumnya berpuasa adalah 70-110 mg/dL darah. Kadar gula darah biasanya kurang dari 120-140 mg/dL pada 2 jam setelah makan atau minum cairan yang mengandung gula maupun karbohidrat lainnya.
Kadar gula darah yang normal cenderung meningkat secara ringan tetapi progresif (bertahap) setelah usia 50 tahun, terutama pada orang-orang yang tidak aktif bergerak.
Peningkatan kadar gula darah setelah makan atau minum merangsang pankreas untuk menghasilkan insulin sehingga mencegah kenaikan kadar gula darah yang lebih lanjut dan menyebabkan kadar gula darah menurun secara perlahan.
Ada cara lain untuk menurunkan kadar gula darah yaitu dengan melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga karena otot menggunakan glukosa dalam darah untuk dijadikan energi.
Penyebab & Tipe Diabetes Mellitus
Diabetes terjadi jika tubuh tidak menghasilkan insulin yang cukup untuk mempertahankan kadar gula darah yang normal atau jika sel tidak memberikan respon yang tepat terhadap insulin.
Ada 2 tipe Diabetes Mellitus, yaitu:
1. Diabetes Mellitus tipe 1 (diabetes yang tergantung kepada insulin)
2. Diabettes Mellitus tipe 2 (diabetes yang tidak tergantung kepada insulin, NIDDM)
|
Diabetes Mellitus tipe 1 |
Diabetes Mellitus tipe 2 |
|
Penderita menghasilkan sedikit insulin atau sama sekali tidak menghasilkan insulin |
Pankreas tetap menghasilkan insulin, kadang kadarnya lebih tinggi dari normal. Tetapi tubuh membentuk kekebalan terhadap efeknya, sehingga terjadi kekurangan insulin relatif |
|
Umumnya terjadi sebelum usia 30 tahun, yaitu anak-anak dan remaja. |
Bisa terjadi pada anak-anak dan dewasa, tetapi biasanya terjadi setelah usia 30 tahun |
|
Para ilmuwan percaya bahwa faktor lingkungan (berupa infeksi virus atau faktor gizi pada masa kanak-kanak atau dewasa awal) menyebabkan sistem kekebalan menghancurkan sel penghasil insulin di pankreas. Untuk terjadinya hal ini diperlukan kecenderungan genetik. |
Faktor resiko untuk diabetes tipe 2 adalah obesitas dimana sekitar 80-90% penderita mengalami obesitas. |
|
90% sel penghasil insulin (sel beta) mengalami kerusakan permanen. Terjadi kekurangan insulin yang berat dan penderita harus mendapatkan suntikan insulin secara teratur |
Diabetes Mellitus tipe 2 juga cenderung diturunkan secara genetik dalam keluarga |
Penyebab diabetes lainnya adalah:
• Kadar kortikosteroid yang tinggi
• Kehamilan diabetes gestasional), akan hilang setelah melahirkan.
• Obat-obatan yang dapat merusak pankreas.
• Racun yang mempengaruhi pembentukan atau efek dari insulin.
Sulitnya Membaca Gejala Diabetes
Gejala awalnya berhubungan dengan efek langsung dari kadar gula darah yang tinggi. Jika kadar gula darah sampai diatas 160-180 mg/dL, maka glukosa akan dikeluarkan melalui air kemih.
Jika kadarnya lebih tinggi lagi, ginjal akan membuang air tambahan untuk mengencerkan sejumlah besar glukosa yang hilang. Karena ginjal menghasilkan air kemih dalam jumlah yang berlebihan, maka penderita sering berkemih dalam jumlah yang banyak (poliuri). Akibatnya, maka penderita merasakan haus yang berlebihan sehingga banyak minum (polidipsi).
Sejumlah besar kalori hilang ke dalam air kemih, sehingga penderita mengalami penurunan berat badan. Untuk mengkompensasikan hal ini penderita seringkali merasakan lapar yang luar biasa sehingga banyak makan (polifagi).
Gejala lainnya adalah pandangan kabur, pusing, mual dan berkurangnya ketahanan tubuh selama melakukan olah raga. Penderita diabetes yang gula darahnya kurang terkontrol lebih peka terhadap infeksi.
|
Diabetes Mellitus tipe 1 |
Diabetes Mellitus tipe 2 |
| Timbul tiba-tiba. | Tidak ada gejala selama beberapa tahun. Jika insulin berkurang semakin parah maka sering berkemih dan sering merasa haus. |
| Berkembang dengan cepat ke dalam suatu keadaan yang disebut dengan ketoasidosis diabetikum. | Jarang terjadi ketoasidosis. |
Pada penderita diabetes tipe 1, terjadi suatu keadaan yang disebut dengan ketoasidosis diabetikum. Meskipun kadar gula di dalam darah tinggi tetapi sebagian besar sel tidak dapat menggunakan gula tanpa insulin, sehingga sel-sel ini mengambil energi dari sumber yang lain.
Sumber untuk energi dapat berasal dari lemak tubuh. Sel lemak dipecah dan menghasilkan keton, yang merupakan senyawa kimia beracun yang bisa menyebabkan darah menjadi asam (ketoasidosis).
Gejala awal dari ketoasidosis diabetikum adalah rasa haus dan berkemih yang berlebihan, mual, muntah, lelah dan nyeri perut (terutama pada anak-anak). Pernafasan menjadi dalam dan cepat karena tubuh berusaha untuk memperbaiki keasaman darah.
Bau nafas penderita tercium seperti bau aseton. Tanpa pengobatan, ketoasidosis diabetikum bisa berkembang menjadi koma, kadang dalam waktu hanya beberapa jam.
Bahkan setelah mulai menjalani terapi insulin, penderita diabetes tipe 1 bisa mengalami ketoasidosis jika mereka melewatkan satu kali penyuntikan insulin atau mengalami stres akibat infeksi, kecelakaan atau penyakit yang serius.
Penderita diabetes tipe 2 bisa tidak menunjukkan gejala-gejala selama beberapa tahun. Jika kekurangan insulin semakin parah, maka timbullah gejala yang berupa sering berkemih dan sering merasa haus. Jarang terjadi ketoasidosis.
Jika kadar gula darah sangat tinggi (sampai lebih dari 1.000 mg/dL, biasanya terjadi akibat infeksi atau obat-obatan), maka penderita akan mengalami dehidrasi berat, yang bisa menyebabkan kebingungan mental, pusing, kejang dan suatu keadaan yang disebut koma hiperglikemik-hiperosmolar non-ketotik.
Mendiagnosis Diabetes Melitus
Diagnosis diabetes ditegakkan berdasarkan gejalanya yaitu 3P (polidipsi, polifagi, poliuri) dan hasil pemeriksaan darah yang menunjukkan kadar gula darah yang tinggi (tidak normal). Untuk mengukur kadar gula darah, contoh darah biasanya diambil setelah penderita berpuasa selama 8 jam atau bisa juga diambil setelah makan.
Perlu perhatian khusus bagi penderita yang berusia di atas 65 tahun. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan setelah berpuasa dan jangan setelah makan karena usia lanjut memiliki peningkatan gula darah yang lebih tinggi.
|
Kriteria Diagnostik Gula darah (mg/dL) |
|||
|
|
Bukan Diabetes |
Pra Diabetes |
Diabetes |
|
Puasa |
< 110 |
110-125 |
> 126 |
|
Sewaktu |
< 110 |
110-199 |
> 200 |
Pemeriksaan darah lainnya yang bisa dilakukan adalah tes toleransi glukosa. Tes ini dilakukan pada keadaan tertentu, misalnya pada wanita hamil. Hal ini untuk mendeteksi diabetes yang sering terjadi pada wanita hamil.
Penderita berpuasa dan contoh darahnya diambil untuk mengukur kadar gula darah puasa. Lalu penderita diminta meminum larutan khusus yang mengandung sejumlah glukosa dan 2-3 jam kemudian contoh darah diambil lagi untuk diperiksa.
Hasil glukosa contoh darah dibandingkan dengan kriteria diagnostik gula darah terbaru yang dikeluarkan oleh PERKENI tahun 2006.
Sebelum berkembang menjadi diabetes tipe 2, biasanya selalu menderita pra-diabetes, yang memiliki gejala tingkat gula darah lebih tinggi dari normal tetapi tidak cukup tinggi untuk didiagnosa diabetes. Setidaknya 20% dari populasi usia 40 hingga 74 tahun menderita pra-diabetes.
Penelitian menunjukkan beberapa kerusakan dalam jangka panjang, terutama pada jantung dan sistem peredaran darah selama pra-diabetes ini. Dengan pre-diabetes, anda akan memiliki resiko satu setengah kali lebih besar terkena penyakit jantung. Saat Anda menderita diabetes, maka risiko naik menjadi 2 hingga 4 kali.
Akan tetapi, pada beberapa orang yang memiliki pra-diabetes, kemungkinan untuk menjadi diabetes dapat ditunda atau dicegah dengan perubahan gaya hidup. Diabetes dan pra-diabetes dapat muncul pada orang-orang dengan umur dan ras yang beragam, tetapi ada kelompok tertentu yang memiliki resiko lebih tinggi.
Komplikasi Diabetes
Diabetes merupakan penyakit yang memiliki komplikasi (menyebabkan terjadinya penyakit lain) yang paling banyak. Hal ini berkaitan dengan kadar gula darah yang tinggi terus menerus, sehingga berakibat rusaknya pembuluh darah, saraf dan struktur internal lainnya.
Zat kompleks yang terdiri dari gula di dalam dinding pembuluh darah menyebabkan pembuluh darah menebal dan mengalami kebocoran. Akibat penebalan ini maka aliran darah akan berkurang, terutama yang menuju ke kulit dan saraf.
Kadar gula darah yang tidak terkontrol juga cenderung menyebabkan kadar zat berlemak dalam darah meningkat, sehingga mempercepat terjadinya aterosklerosis (penimbunan plak lemak di dalam pembuluh darah). Aterosklerosis ini 2-6 kali lebih sering terjadi pada penderita diabetes.
Sirkulasi darah yang buruk ini melalui pembuluh darah besar (makro) bisa melukai otak, jantung, dan pembuluh darah kaki (makroangiopati), sedangkan pembuluh darah kecil (mikro) bisa melukai mata, ginjal, saraf dan kulit serta memperlambat penyembuhan luka.
Penderita diabetes bisa mengalami berbagai komplikasi jangka panjang jika diabetesnya tidak dikelola dengan baik. Komplikasi yang lebih sering terjadi dan mematikan adalah serangan jantung dan stroke.
Kerusakan pada pembuluh darah mata bisa menyebabkan gangguan penglihatan akibat kerusakan pada retina mata (retinopati diabetikum). Kelainan fungsi ginjal bisa menyebabkan gagal ginjal sehingga penderita harus menjalani cuci darah (dialisa).
Gangguan pada saraf dapat bermanifestasi dalam beberapa bentuk. Jika satu saraf mengalami kelainan fungsi (mononeuropati), maka sebuah lengan atau tungkai biasa secara tiba-tiba menjadi lemah.
Jika saraf yang menuju ke tangan, tungkai dan kaki mengalami kerusakan (polineuropati diabetikum), maka pada lengan dan tungkai bisa dirasakan kesemutan atau nyeri seperti terbakar dan kelemahan.
Kerusakan pada saraf menyebabkan kulit lebih sering mengalami cedera karena penderita tidak dapat meradakan perubahan tekanan maupun suhu. Berkurangnya aliran darah ke kulit juga bisa menyebabkan ulkus (borok) dan semua penyembuhan luka berjalan lambat. Ulkus di kaki bisa sangat dalam dan mengalami infeksi serta masa penyembuhannya lama sehingga sebagian tungkai harus diamputasi.
Terapi Untuk Diabetes Mellitus
Tujuan utama dari pengobatan diabetes adalah untuk mempertahankan kadar gula darah dalam kisaran yang normal. Namun, kadar gula darah yang benar-benar normal sulit untuk dipertahankan.
Meskipun demikian, semakin mendekati kisaran yang normal, maka kemungkinan terjadinya komplikasi sementara maupun jangka panjang menjadi semakin berkurang. Untuk itu diperlukan pemantauan kadar gula darah secara teratur baik dilakukan secara mandiri dengan alat tes kadar gula darah sendiri di rumah atau dilakukan di laboratorium terdekat.
Pengobatan diabetes meliputi pengendalian berat badan, olah raga dan diet. Seseorang yang obesitas dan menderita diabetes tipe 2 tidak akan memerlukan pengobatan jika mereka menurunkan berat badannya dan berolah raga secara teratur.
Namun, sebagian besar penderita merasa kesulitan menurunkan berat badan dan melakukan olah raga yang teratur. Karena itu biasanya diberikan terapi sulih insulin atau obat hipoglikemik (penurun kadar gula darah) per-oral.
Diabetes tipe 1 hanya bisa diobati dengan insulin tetapi tipe 2 dapat diobati dengan obat oral. Jika pengendalian berat badan dan berolahraga tidak berhasil maka dokter kemudian memberikan obat yang dapat diminum (oral = mulut) atau menggunakan insulin.
Berikut ini pembagian terapi farmakologi untuk diabetes, yaitu:
1. Obat Hipoglikemik Oral (OHO)
2. Terapi Sulih Insulin
Obat hipoglikemik oral
Golongan sulfonilurea seringkali dapat menurunkan kadar gula darah secara adekuat pada penderita diabetes tipe II, tetapi tidak efektif pada diabetes tipe I. Contohnya adalah glipizid, gliburid, tolbutamid dan klorpropamid. Obat ini menurunkan kadar gula darah dengan cara merangsang pelepasan insulin oleh pankreas dan meningkatkan efektivitasnya.
Obat lainnya, yaitu metformin, tidak mempengaruhi pelepasan insulin tetapi meningkatkan respon tubuh terhadap insulinnya sendiri. Akarbos bekerja dengan cara menunda penyerapan glukosa di dalam usus.
Obat hipoglikemik per-oral biasanya diberikan pada penderita diabetes tipe II jika diet dan oleh raga gagal menurunkan kadar gula darah dengan cukup.
Obat ini kadang bisa diberikan hanya satu kali (pagi hari), meskipun beberapa penderita memerlukan 2-3 kali pemberian.
Jika obat hipoglikemik per-oral tidak dapat mengontrol kadar gula darah dengan baik, mungkin perlu diberikan suntikan insulin.
Terapi Sulih Insulin
Pada diabetes tipe 1, pankreas tidak dapat menghasilkan insulin sehingga harus diberikan insulin pengganti. Pemberian insulin hanya dapat dilakukan melalui suntikan, insulin dihancurkan di dalam lambung sehingga tidak dapat diberikan per-oral (ditelan).
Bentuk insulin yang baru (semprot hidung) sedang dalam penelitian. Pada saat ini, bentuk insulin yang baru ini belum dapat bekerja dengan baik karena laju penyerapannya yang berbeda menimbulkan masalah dalam penentuan dosisnya.
Insulin disuntikkan dibawah kulit ke dalam lapisan lemak, biasanya di lengan, paha atau dinding perut. Digunakan jarum yang sangat kecil agar tidak terasa terlalu nyeri.
Insulin terdapat dalam 3 bentuk dasar, masing-masing memiliki kecepatan dan lama kerja yang berbeda:
1. Insulin kerja cepat.
Contohnya adalah insulin reguler, yang bekerja paling cepat dan paling sebentar.
Insulin ini seringkali mulai menurunkan kadar gula dalam waktu 20 menit, mencapai puncaknya dalam waktu 2-4 jam dan bekerja selama 6-8 jam.
Insulin kerja cepat seringkali digunakan oleh penderita yang menjalani beberapa kali suntikan setiap harinya dan disutikkan 15-20 menit sebelum makan.
2. Insulin kerja sedang.
Contohnya adalah insulin suspensi seng atau suspensi insulin isofan.
Mulai bekerja dalam waktu 1-3 jam, mencapai puncak maksimun dalam waktu 6-10 jam dan bekerja selama 18-26 jam.
Insulin ini bisa disuntikkan pada pagi hari untuk memenuhi kebutuhan selama sehari dan dapat disuntikkan pada malam hari untuk memenuhi kebutuhan sepanjang malam.
3. Insulin kerja lambat.
Contohnya adalah insulin suspensi seng yang telah dikembangkan.
Efeknya baru timbul setelah 6 jam dan bekerja selama 28-36 jam.
Sediaan insulin stabil dalam suhu ruangan selama berbulan-bulan sehingga bisa dibawa kemana-mana.
Pemilihan insulin yang akan digunakan tergantung kepada:
* Keinginan penderita untuk mengontrol diabetesnya
* Keinginan penderita untuk memantau kadar gula darah dan menyesuaikan dosisnya
* Aktivitas harian penderita
* Kecekatan penderita dalam mempelajari dan memahami penyakitnya
* Kestabilan kadar gula darah sepanjang hari dan dari hari ke hari.
Sediaan yang paling mudah digunakan adalah suntikan sehari sekali dari insulin kerja sedang. Tetapi sediaan ini memberikan kontrol gula darah yang paling minimal.
Kontrol yang lebih ketat bisa diperoleh dengan menggabungkan 2 jenis insulin, yaitu insulin kerja cepat dan insulin kerja sedang. Suntikan kedua diberikan pada saat makan malam atau ketika hendak tidur malam.
Kontrol yang paling ketat diperoleh dengan menyuntikkan insulin kerja cepat dan insulin kerja sedang pada pagi dan malam hari disertai suntikan insulin kerja cepat tambahan pada siang hari.
Beberapa penderita usia lanjut memerlukan sejumlah insulin yang sama setiap harinya; penderita lainnya perlu menyesuaikan dosis insulinnya tergantung kepada makanan, olah raga dan pola kadar gula darahnya. Kebutuhan akan insulin bervariasi sesuai dengan perubahan dalam makanan dan olah raga.
Beberapa penderita mengalami resistensi terhadap insulin. Insulin tidak sepenuhnya sama dengan insulin yang dihasilkan oleh tubuh, karena itu tubuh bisa membentuk antibodi terhadap insulin pengganti. Antibodi ini mempengaruhi aktivitas insulin sehingga penderita dengan resistansi terhadap insulin harus meningkatkan dosisnya.
Penyuntikan insulin dapat mempengaruhi kulit dan jaringan dibawahnya pada tempat suntikan. Kadang terjadi reaksi alergi yang menyebabkan nyeri dan rasa terbakar, diikuti kemerahan, gatal dan pembengkakan di sekitar tempat penyuntikan selama beberapa jam.
Suntikan sering menyebabkan terbentuknya endapan lemak (sehingga kulit tampak berbenjol-benjol) atau merusak lemak (sehingga kulit berlekuk-lekuk). Komplikasi tersebut bisa dicegah dengan cara mengganti tempat penyuntikan dan mengganti jenis insulin. Pada pemakaian insulin manusia sintetis jarang terjadi resistensi dan alergi.
Pengaturan diet sangat penting. Biasanya penderita tidak boleh terlalu banyak makan makanan manis dan harus makan dalam jadwal yang teratur. Penderita diabetes cenderung memiliki kadar kolesterol yang tinggi, karena itu dianjurkan untuk membatasi jumlah lemak jenuh dalam makanannya. Tetapi cara terbaik untuk menurunkan kadar kolesterol adalah mengontrol kadar gula darah dan berat badan.
Semua penderita hendaknya memahami bagaimana menjalani diet dan olah raga untuk mengontrol penyakitnya. Mereka harus memahami bagaimana cara menghindari terjadinya komplikasi.
Penderita juga harus memberikan perhatian khusus terhadap infeksi kaki sehingga kukunya harus dipotong secara teratur. Penting untuk memeriksakan matanya supaya bisa diketahui perubahan yang terjadi pada pembuluh darah di mata.
Mencegah Bahaya Komplikasi
Pemantauan kadar gula darah merupakan bagian yang penting dari pengobatan diabetes. Adanya glukosa bisa diketahui dari air kemih; tetap pemeriksaan air kemih bukan merupakan cara yang baik untuk memantau pengobatan atau menyesuaikan dosis pengobatan.
Saat ini kadar gula darah dapat diukur sendiri dengan mudah oleh penderita di rumah menggunakan alat pengukur glukosa darah. Penderita diabetes harus mencatat kadar gula darah mereka dan melaporkannya kepada dokter agar dosis insulin atau obat hipoglikemiknya dapat disesuaikan.
Insulin maupun obat hipoglikemik per-oral bisa terlalu banyak menurunkan kadar gula darah sehingga terjadi hipoglikemia. Hipoglikemia (rendahnya kadar gula dalam darah) juga bisa terjadi jika penderita kurang makan atau tidak makan pada waktunya atau melakukan olah raga yang terlalu berat tanpa makan.
Jika kadar gula darah terlalu rendah, organ pertama yang terkena pengaruhnya adalah otak. Untuk melindungi otak, tubuh segera mulai membuat glukosa dari glikogen yang tersimpan di hati.
Proses ini melibatkan pelepasan epinefrin (adrenalin), yang cenderung menyebabkan rasa lapar, kecemasan, meningkatnya kesiagaan dan gemetaran. Berkurangnya kadar glukosa darah ke otak bisa menyebabkan sakit kepala.
Hipoglikemia harus segera diatasi karena dalam beberapa menit bisa menjadi berat, menyebabkan koma dan kadang cedera otak menetap. Jika terdapat tanda hipoglikemia, penderita harus segera makan gula.
Oleh sebab itu, penderita diabetes harus selalu membawa permen, gula atau tablet glukosa untuk menghadapi serangan hipoglikemia. Atau penderita segera minum segelas susu, air gula atau jus buah, sepotong kue, buah-buahan atau makanan manis lainnya.
Penderita diabetes tipe I harus selalu membawa glukagon, yang bisa disuntikkan jika mereka tidak dapat memakan makanan yang mengandung gula.
Gejala-gejala dari kadar gula darah rendah:
* Rasa lapar yang timbul secara tiba-tiba
* Sakit kepala
* Kecemasan yang timbul secara tiba-tiba
* Badan gemetaran
* Berkeringat
* Bingung
* Penurunan kesadaran, koma.
Ketoasidosis diabetikum merupakan suatu keadaan darurat. Tanpa pengobatan yang tepat dan cepat, bisa terjadi koma bahkan kematian. Penderita harus dirawat di unit perawatan intensif. Diberikan sejumlah besar cairan intravena dan elektrolit (natrium, kalium, klorida, fosfat) untuk menggantikan yang hilang melalui air kemih yang berlebihan.
Insulin diberikan melalui intravena sehingga bisa bekerja dengan segera dan dosisnya disesuaikan. Kadar glukosa, keton dan elektrolit darah diukur setiap beberapa jam, sehingga pengobatan yang diberikan bisa disesuaikan.
Contoh darah arteri diambil untuk mengetahui keasamannya. Pengendalian kadar gula darah dan penggantian elektrolit biasanya bisa mengembalikan keseimbangan asam basa, tetapi kadang perlu diberikan pengobatan tambahan untuk mengoreksi keasaman darah.
Pengobatan untuk koma hiperglikemik-hiperosmolar non-ketotik sama dengan pengobatan untuk ketoasidosis diabetikum yaitu diberikan cairan dan elektrolit pengganti. Kadar gula darah harus dikembalikan secara bertahap untuk mencegah perpindahan cairan ke dalam otak. Kadar gula darah cenderung lebih mudah dikontrol dan keasaman darahnya tidak terlalu berat.
Jika kadar gula darah tidak terkontrol, sebagian besar komplikasi jangka panjang berkembang secara progresif. Retinopati diabetik dapat diobati secara langsung dengan pembedahan laser untuk menyumbat kebocoran pembuluh darah mata sehingga bisa mencegah kerusakan retina yang menetap. Terapi laser dini bisa membantu mencegah atau memperlambat hilangnya penglihatan.
Penelitian terakhir menunjukkan bahwa komplikasi diabetes dapat dicegah, ditunda atau diperlambat dengan mengontrol kadar gula darah. Mengontrol kadar gula darah dapat dilakukan dengan terapi misalnya patuh meminum obat.
Hindari Diabetes dengan Ubah Gaya Hidup
Faktor keturunan memiliki pengaruh apakah seseorang dapat terkena diabetes atau tidak. Selain keturunan, gaya hidup juga berperan besar. Diabetes tipe 2 sering terjadi pada orang yang mengalami obesitas. Obesitas atau kegemukan merupakan pemicu terpenting penyebab diabetes.
Obesitas artinya berat badan berlebih minimal sebanyak 20% dari berat badan idaman. Juga berarti indeks masa tubuh lebih dari 25 kg/m2. Lemak yang berlebih akan menyebabkan resistensi terhadap insulin. Ini menjelaskan mengapa diet dan olahraga merupakan metode penatalaksanaan untuk diabetes tipe 2.
Dengan menurunkan berat badan dan meningkatkan massa otot, akan mengurangi jumlah lemak sehingga membantu tubuh memanfaatkan insulin dengan lebih baik. Ternyata ada hubungan antara diabetes tipe 2 dengan letak tumpukan lemak terbanyak. Bila timbunan lemak terbanyak terdapat di perut maka risiko terkena diabetes lebih tinggi.
Para peneliti juga percaya bahwa gen yang membawa sifat obesitas ikut berperan dalam menyebabkan diabetes. Gen yang bernama gen obes ini mengatur berat badan melalui protein pemberi kabar apakah kita lapar atau tidak. Pada percobaan dengan tikus, bila gen ini bermutasi maka tikus akan menjadi obes dan mengalami diabetes tipe 2.
Penelitian menunjukkan bahwa kegemukan berhubungan dengan waktu yang dihabiskan di depan TV dan komputer. Menonton TV akan menyebabkan tidak bergerak juga berpengaruh terhadap pola makan mengemil.
Bagaimana cara mengatasi kegemukan untuk menghindari diabetes?
Caranya mudah, murah dan efektif, antara lain:
- Membiasakan diri untuk hidup sehat
- Biasakan diri berolahraga secara teratur
- Hindari menonton TV atau main komputer terlalu lama
- Jangan mengkonsumsi permen, coklat, atau snack dengan kandungan garam yang tinggi.
- Hindari makanan siap saji dengan kandungan kadar karbohidrat dan lemak tinggi.
- Konsumsi sayuran dan buah-buahan.
Saya sedang mengadakan penilitian mengenai penyakit Diabetes Melitus bolehkah saya menggunakan artikel anda sebagai data saya ? Dan satu hal yang ingin saya tanyakan apakah mengukur kadar gula dalam darah untuk penderita penyakit ini dapat dilihat melalui iris mata ? Karena penelitian saya ini berbasis teknologi. Terima kasih
# Nun Fauziah.
Oke.. boleh. Yang saya tahu, deteksi penyakit bisa melalui iris mata. Tetapi apakah mengukur kadar gula dara dapat dilihat melalui iris mata? Saya tidak tahu… coba Anda kunjungi
Site ini:
http://www.indomedia.com/bernas/042001/13/UTAMA/13pel3.htm
Deteksi Penyakit Lewat Iris Mata
Gondokusuman, Bernas
Selain sebagai jendela untuk melihat dunia luar, mata ternyata juga bisa digunakan untuk melihat “dunia dalam”, yaitu tubuh kita, apakah kita sedang mengalami gangguan kesehatan atau memiliki bibit penyakit yang belum terasa sakitnya.
Iridologi adalah ilmu yang mempelajari pola dan susunan serat pada iris mata. Banyak ahli percaya bahwa mata adalah cermin dari segala sesuatu yang ada dan terjadi di dalam tubuh manusia. Iridologi dapat digunakan agar kita dapat menyeimbangkan nutrisi dan gaya hidup, guna mendapatkan kesehatan prima baik secara fisik, mental maupun emosi.
Ahli iridologi kenamaan asal Amerika Dr Bernard Jensen DC telah menyusun satu “chart mata” yang menunjukkan bagian-bagian iris mata manusia dalam hubungannya dengan organ-organ tubuh yang lain.
Menurut pakar iridologi Juper Sinaga kepada Bernas Kamis (12/4) kemarin, seorang iridologis dapat menggunakan berbagai macam peralatan untuk memeriksa iris mata. Cara yang paling sederhana adalah dengan langsung mengamati mata pasien, dengan menggunakan kaca pembesar di ruangan dengan pencahayaan yang baik. Cara lainnya adalah memotret iris mata dengan menggunakan kamera khusus, lalu menganalisis foto mata tersebut untuk mendiagnosis penyakit yang diderita seseorang.
Pada dasarnya, semua orang yang ingin menikmati hidup sehat dan menginginkan kualitas hidup yang tinggi membutuhkan iridologi. “Dengan iridologi, Anda dibantu untuk mencegah datangnya penyakit kronis yang membahayakan, karena iridologi mampu mendeteksi gejala awal penyakit sejak dini,” papar Juper Sinaga.
Iris atau selaput pelangi mata mempunyai serabut yang sangat peka. Serabut-serabut ini bereaksi dengan metabolisme tubuh dalam pola tertentu. Dengan alat bantu kaca pembesar atau kamera khusus foto iris mata, informasi yang terpancar dari mata bisa diketa- hui.
Dibanding teori refleksi yang selama ini dikenal masyarakat, membaca iris mata jauh lebih akurat dalam memberi petunjuk kese- hatan seseorang. Iridologi bisa melihat apa yang tersembunyi, karena dengan membaca petunjuk dari iris mata dapat secara dini diketahui gangguan kesehatan yang tersembunyi, dan selanjutnya diambil tindakan pencegahan.
Untuk mengetahui lebih banyak tentang iris mata, Anda bisa berkonsultasi secara gratis di arena “MarketDAY Jilid 6: Jogja Fashion Festival 2001″ di halaman parkir Bernas, Sabtu (14/4) besok mulai pukul 09.00. (rin)
Kalau bagaimana mendeteksi Kolesterol melalui iris mata, lihat sofware yang dibuat mahasiswa ITS di link ini
http://ww.its.ac.id/berita.php?nomer=2649
Assalamu alaikum.. Dr.AK
Dr.AK… buat ngindari diabetes, salah satunya jangan terlalu lama bermain komputer… gimana dengan saya Dr… Saya sering banget main komputer, dah gitu ada riwayat keluarga (ayah) diabet… apa bisa jadi faktor resiko Dr…??
Tolong dijelasin yah Dr.AK… awan kan takut kena diabet.. apa lagi katanya sekarang diabet juga menyerang anak muda juga???
saya hamil usia kehamilan saya 7 bulan.kata dokter saya mengalami diabetes gestasional dan saya disuruh suntik insulin setiap hari sampai melahirkan.pertanyaan saya apa tidak cara yang lain selain suntik soalnya saya ngeri melihat jarum suntik.terus efek apa saja terhadap bayi saya bila saya mengalami diabet gestasional.
Untuk Ibu Ida:
Diabetes yang terjadi (atau terdiagnosa) saat kehamilan disebut dengan diabetes gestasional. Penatalaksanaan atau terapinya adalah menjaga supaya tetap dalam keadaan normal (yaitu kadar glukosa darah puasa < 105 mg/ dl, atau dua jam sesudah makan <120 mg/dl).
Nah… keadaan ini bisa dicapai dengan dua hal:
Pertama, JAGA POLA MAKAN (cukup karbohidrat, rendah lemak, dan cukup protein). Bila ibu obesitas (gemuk), maka jumlah kalorinya harus dikurangi sedikit. Bila dengan cara ini kadar gula darah ibu dapat normal, otomatis Ibu tidak perlu disuntik Insulin. tetapi bila selama 2 minggu Ibu mengganti pola makan, tetapi kadar gula darah ibu tetap tinggi, maka dokter akan menggunakan cara kedua yaitu pemberian INSULIN.
Kenapa tidak pakai obat diabetes saja? Sebab obat-obat anti diabetes itu punya efek samping teratogen terhadap janin (dapat menyebabkan kecacatan ). Sehingga tidak ada cara lain selain pemberian Insulin.
Ada beberapa komplikasi dari diabetes pada kehamilan ini.
Pada ibu: Infeksi saluran kemih, hidramnion (ketuban terlalu banyak), hipertensi, preeklamsia.
Pada janin: lahir prematur, abortus spontan, cacat atau kelainan kongenital, insufisiensi plasenta (plasenta tidak cukup dalam menyalurkan darah ke janin), makrosomia (janin besar sehingga sulit dilahirkan secara normal) dll.
Tetapi Ibu tidak perlu khawatir. Tidak semua komplikasi itu pasti terjadi. Periksakan kehamilan Ibu secara teratur ke dokter dan berkonsultasilah dengan mereka. Selebihnya, berdoalah dan bertawakallah kepada-Nya agar diberikan kemudahan dan keberkahan…Amiin
Salam
Untuk AWAN,
Maksudnya HINDARI NONTON TV DAN MAIN KOMPUTER TERLALU LAMA adalah mencegah supaya orang tidak monoton (alias tidak banyak bergerak). Gerak badan atau Olahraga itu perlu untuk membakar timbunan lemak tubuh dan menjaga kebugaran. Secara langsung tidak ada hubungan antara terlalu lama main komputer dengan diabetes. Asal Awan bisa menyelingi main komputer atau nonton TV dengan aktivitas kecil saya kira tidak mengapa (ke dapur untuk minum atau keluar rumah sebentar untuk mendinginkan suasana).
Kalau hubungannya dengan genetis atau keturunan sih ada! Anak yang berasal dari ortu diabetes dapat juga terkena diabetes, tapi tidak selalu. Selain itu, diabetes juga dapat dicetuskan oleh pola makan dan hidup yang salah.
Kalau Awan punya Ortu yang diabetes, tidak perlu terlalu khawatir, tetapi musti waspada. kalau Awan mulai merasakan gejala diabetes musti cepat konsul ke dokter.
Kuncinya (untuk penyakit apapun): Jalani pola makan dan hidup yang sehat… selebihnya… ya Bedoa agar Tuhan mengkaruniakan pada kita kesehatan… kesejahteraan dan kesentausaan.. Begitu saja.
Salam…
AK
saya mau cerita dulu dari thn 2003 sampai sekarang lab saya normal, tapi… 2 bln yg lalu hasil saya yg setelah 2 jam pp (298).. waktu itu saya cek nya di lab melalui VENA( yg diambil darahnya melalui suntikan)….. waktu itu saya makan 2 BUNGKUS BIHUN AYAM…. dan hasilnya 298 trus urinnya +++
setelah hari itu tepatnya 18 OKTOBER 2007 , saya sudah melakukan pengecekan sebanyak 8 kali.. dan semua hasil2 saya semuanya norrmal….. selama cek yg berikutnya ,sayamakannya gak terlalu banyak buat cek yg 2 jamnya ( 1 NASI MC DONALD + TELUR CEPLOK) dan normal baik yg puasa maupun yg 2 jam…
lalu hari tgl 14 DESEMBER 2007 karena saya masih penasaran sama hasil yg 298 waktu itu , saya putuskan mau di test lagi….. waktu tgl 13 desember saya sengaja makan MC Donald dengan 2 ayam,1nasi, dan minum coke saya makannya jam 02.00 pagi dikarenakan besoknya tgl 14 saya mau cek sekali lagi….
pada tgl 14 des jam 2 siang saya test yg puasa melalui alat glukometer yg di tusuk di jari… hasilnya 106
lalu setelah itu saya MAKAN MAKANAN YG SAMA YAITU 2 BUNGKUS BIHUN AYAM YG DULU SAYA MAKAN JUGA….
setelah 2 jam an ( jam 4 an) begitu di cek,sebanyak 2 kali ,hasilnya 270
lalu saya bingung kembali… lalu saya sengaja gak makan apapun lagi dari setelah yg makan bihun ayam itu….
lalu jam 9 malam sebelum saya makan malam, saya sengaja test lagi hasilnya 81 normal
setelah itu saya sengaja makan yg banyak ( nasi ukuran MC Donald 2 buah , trus ayam 2 buah, minum lemon squash dan makan sayur2…… pokoknya cukup kenyang banget….
dan setelah 2 jam kemudian saya test lagi… dan hasilnya 133
pertanyaan saya…. :
1. kenapa begitu makan BIHUN itu dengan porsi yg sama
(2 porsi)waktu dulu hasilnya bisa sampai 270 (yg dulu 298) ??
2. selama cek berkali2 selalu normal bahkan yg saya makan kemaren ( udah makan kenyang bgt … ya boleh di bilang sama kenyangnya sama makan bihun 2 bungkus) tapi hasilnya normal 133 ??
3. ada apakah sebenarnya dok?? jujur saya bener2 binggung ?? apakah salah dari makanan?? atau saya ada diabet atau gejala(pre) diabet kah??
mohon dokter masih berkenan menjawab pertanyaan dan rasa penasaran saya ini dengan rela….. trimakasih dok…..
oh iya ini hasil gtt
hasil GTT dengan larutan gula 75 mg tgl 17 des 2007
glukosa puasa 93 -
setelah 1/2 jam 183 -
setelah 1 jam 207 ++
setelah 1 1/2 jam 205 ++
setelah 2 1/2 jam 165 –
lalu sorenya saya cek lagi hasilnya 101 stelah makan kenyang malah 96… trims…
aslm…
pak saya berencana ingin mengambil artikel anda untuk skripsi saya.ada yang ingin saya tanyakan.seberapa besar pengaruh olahraga pada prediabet agar tidak jadin diabet.trus seberapa besar pengaruh olahraga dgn angka kejadian komplikasi.brpa lama kita melakukan olahraga agar bisa mencapai nadi maksimal terutama pada pnderita diabet.
Boleh saja Bu…
tetapi untuk kriteria diagnosia Diabetes terbaru, gunakan standar dari ADA (American Diabetic Association) 2010.
Seberapa besar pengaruh olahraga pada prediabet agar tidak menjadi diabetes?
Ada beberapa studi yang dilakukan meneliti pengaruh diet dan olahraga bagi prediabetes. Yang paling terkenal adalah studi dari Da Qing.
Uji klinik acak pada 577 orang dengan Gangguan Toleransi Glukosa (IGT) yang dibagi menjadi 2: kelompok control dan yang mendapat intervensi (diet saja, olahraga saja, dan diet dan olahraga) selama enam tahun menunjukan bahwa:
Diet saja menurunkan risiko DM tipe 2 sebesar 31%
Olahraga saja menurunkan risiko sebesar 46%
Kombinasi diet dan olahraga menurunkan risiko sebesar 42%
Sumber: Pan XR, Li GW, Hu YH, Wang JX, et al. Effects of diet and exercise in preventing NIDDM in people with impaired glucose tolerance: the Da Qing IGT and Diabetes Study. Diabetes Care 1997; 20: 537–44 site: http://care.diabetesjournals.org/content/20/4/537.abstract
Anda bisa membandingkan hasil-hasil diatas dengan: Diabetes Prevention Program, Finnish Diabetes Prevention dll. (cari aja di Google)
Pengaruh olahraga dalam menurunkan angka kejadian komplikasi DM?
Silahkan lihat disini:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17065697
Effects of different modes of exercise training on glucose control and risk factors for complications in type 2 diabetic patients: a meta-analysis.
Atau disini:
http://www.articlesbase.com/wellness-articles/effects-of-exercise-in-diabetes-591431.html
Bagaimana latihan jasmani pada penderita DM?
Penentuan bentuk dan lama aktivitas jasmani pada orang DM tergantung pada kondisi pasien yang bersangkutan.
Yang disarankan adalah: brisk exercise yaitu: aktifitas fisik sedang sekurang-kurangnya 30-60 menit (jalan cepat, berenang, bersepeda, berjoget, yoga, tai chi dll) sedikitnya 4 hari dalam seminggu.
Semua bentuk latihan jasmani itu akan memperbaiki sensitivitas insulin dan mengurangi komplikasi DM dengan cara menurunkan stress oksidatif.
Nah berapa lama semua latihan dilakukan agar tercapat HR max? Ini pun harus dikembalikan pada kondisi orang perorang.
Dalam ADA complete guide to Diabetes, hal 282, diterangkan bahwa yang mestinya harus dicapai adalah HR max reserve, yaitu HR max – HR rest. (HR saat istirahat)
Coba aja cari di Google tentang bagaimana cara aplikasinya.
Salam
AK