I was tired, and what was the use?
I must have examined the stomachs of a thousand mosquitoes by this time.
But the Angel of Fate fortunately laid his hand on my head.
(Sir Ronald Ross, Penemu parasit Malaria pada 20 August 1897)
Pagi itu, Rabu 13 Agustus 2008, Ny. Sulinawati (33 tahun) bangun dengan perasaan tidak nyaman. Sekujur tubuhnya panas bak bara. Kepalanya sakit dan pusing, perutnya mual dan – sejak subuh tadi – sudah dua kali ia muntah. Ia ingat, dua hari lalu, tubuhnya memang sudah mulai demam. Tetapi kesibukannya di tempat kerja membuat ia anggap keluhan itu demam biasa. Obat penurun panas sudah ia minum, tetapi demamnya tak kunjung reda.
Akhirnya, pagi itu juga, ia diantar oleh suaminya ke poliklinik PT AWS. Di Poliklinik, perawat yang menerimanya, segera memeriksa keadaannya. Ia memang mengalami demam tinggi. Termometer digital yang dipakai mengukur temperature badannya menunjuk angka 39,20C. Karena tak satupun makanan bisa masuk perutnya – dan ia muntah setiap dicoba minum obat -, maka akhirnya ia dirawat inap.
Dua hari dirawat, keadaanya belum membaik. Keluhannya justru bertambah: tulang-tulangnya serasa remuk, ulu hatinya perih, dan… di sekujur badannya mulai terlihat bintik-bintik kemerahan. Darahnya diperiksa dan hasilnya menunjukan: Hb: 11,3 g/dl; Ht: 33,6%; Trombosit: 96.000/m3. Dari hasil ini dokter yang merawatnya menyimpulkan, Ny. Sulinawati menderita DBD (Demam Berdarah Dengue) grade II.
Untuk mencegah syok, akibat merembesnya cairan plasma dari pembuluh darah, tetesan cairan infus Ny. Sulinawati dipercepat. Tetapi keesokan harinya, meskipun sudah dikocor infuse Ringer Laktat sebanyak 10 kolf, kondisi Isu makin parah. Gusinya mulai berdarah, dan hasil Trombosit-nya anjlok hingga 46.000/m3. Akhirnya, dokter merujuk Ibu Isu ke sentra pelayanan medis yang lebih lengkap untuk mendapat transfusi darah dan penanganan lebih lanjut.
Kisah Ny. Sulinawati adalah kisah hampir setiap pasien yang menjalani rawat inap di Poliklinik PT. AWS bulan Agustus 2008 yang lalu. Dari 130 pasien yang dirawat pada bulan tersebut, 61 orang diantaranya menderita DBD atau demam berdarah dengue. Meskipun jumlahnya tidak sebanyak wabah DBD pada medio Maret 2008, tetapi serangan bulan Agustus ini tidak boleh dianggap sebelah mata. Pasalnya, pada serangan kali ini lebih banyak pasien yang mengalami perdarahan dan akhirnya harus dirujuk ke luar lokasi.
Sebenarnya, untuk suatu daerah yang dikepung air seperti Rawa Jitu Timur ini, datangnya hantu DBD sudah bisa diprediksi. Penyakit ini memang punya irama yang khas, yakni banyak merebak saat datang musim hujan. Karena sudah bisa diprediksi, maka kewaspadaan terhadap mestinya sudah dipasang jauh-jauh hari. Tetapi apa daya, saban musim hujan tiba kita selalu kecolongan. Kenapa? Mungkin karena demam berdarah dianggap hanya sebagai demam biasa saja. Padahal, 10 tahun lalu, pada Januari – April 1998, wabah DBD ini pernah menghajar 27 propinsi di Indonesia. Penderitanya mencapai 16.466 orang dan 429 orang di antaranya meninggal. Begitu dahsyatnya sehingga pemerintah menyatakan wabah demam berdarah kala itu sebagai KLB atau kejadian luar biasa.
Apakah DBD itu?
Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam akut selama 2 sampai 7 hari yang disebabkan oleh infeksi virus Dengue yang ditandai dengan keluhan demam tinggi mendadak, nyeri pada anggota badan (kepala, bola mata, punggung, dan sendi), timbul bintik kemerahan di kulit dan gangguan perdarahan. Keluhan lainnya adalah mual, muntah, dan nyeri kepala.
Bagaimana virus Dengue yang berukuran 35-45 nm (alias sepersejuta ukuran nyamuk Aedes aegypti, vektor pembawa virus itu) bisa bikin tubuh orang laksana terpanggang dan berdarah-darah?
Awalnya, virus tersebut memasuki tubuh manusia melalui gigitan nyamuk yang menembus kulit. Setelah itu disusul oleh periode tenang selama kurang lebih empat hari, saat itu virus menggandakan diri secara cepat dalam tubuh manusia. Apabila jumlah virus sudah cukup, virus akan memasuki sirkulasi darah (viraemia). Pada saat ini manusia yang terinfeksi akan mengalami gejala panas. Dengan adanya virus dengue dalam tubuh manusia, tubuh akan memberi reaksi. Bentuk reaksi tubuh terhadap virus ini antara manusia yang satu dan manusia yang lain dapat berbeda.
Perbedaan reaksi ini akan menimbulkan gejala klinis dan perjalanan penyakit yang bertahap. Bentuk reaksi pertama adalah terjadi netralisasi virus oleh sistem daya tahan tubuh seseorang kemudian disusul dengan mengendapnya virus yang ternetralisasi pada pembuluh darah kecil di kulit berupa gejala ruam (rash). Selanjutnya terjadi reaksi kedua yaitu gangguan fungsi pembekuan darah sebagai akibat dari penurunan jumlah dan kualitas komponen pembekuan darah yang menimbulkan manifestasi perdarahan. Bentuk reaksi ketiga terjadi kebocoran pada pembuluh darah yang mengakibatkan keluarnya komponen plasma (cairan) darah dari dalam pembuluh darah menuju ke rongga perut berupa gejala ascites dan rongga selaput paru berupa gejala efusi pleura.
Apakah Gejala DBD Yang Timbul?
Umumnya, penderita DBD akan mengalami gejala klinik berupa: demam tinggi, nyeri pada seluruh tubuh, ruam dan perdarahan. Demam ini timbulnya mendadak tinggi (dapat mencapai 39-400C) dan dapat disertai menggigil. Demam ini hanya berlangsung sekitar dua sampai tujuh hari. Demamnya bersifat biphasic dan bentuknya seperti pelana kuda, yaitu demam yang berlangsung selama beberapa hari itu sempat turun di tengahnya menjadi normal kemudian naik lagi dan baru turun lagi saat penderita sembuh.
Gejala panas segera disusul dengan timbulnya keluhan nyeri pada seluruh tubuh. Pada umumnya yang dikeluhkan adalah nyeri otot, nyeri sendi, nyeri punggung, dan nyeri pada bola mata yang semakin meningkat apabila digerakkan.
Ruam pada kulit dapat timbul pada saat awal panas yang berupa flushing, yaitu berupa kemerahan pada daerah muka, leher, dan dada. Ruam juga dapat timbul pada hari ke-4 sakit berupa bintik-bintik merah kecil seperti bintik pada penyakit campak.
Gejala paling berbahaya dari DBD adalah perdarahan. Perdarahan yang terjadi dapat berupa perdarahan bintik merah di kulit (petechiae), perdarahan agak besar di kulit (echimosis), perdarahan gusi, perdarahan hidung dan kadang-kadang dapat terjadi perdarahan yang hebat yang dapat berakhir pada kematian.
Sialnya, karena perdarahan bintik merah di kulit (petechiae) sering tak terlihat pada awal penyakit, keterlambatan diagnosa bisa saja terjadi. Namun hal ini dapat dihindari bila dokter yang memeriksa melakukan teknik tourniquet. Caranya, ikatkan manset (bebat pengukur tekanan darah) pada lengan atas selama sepuluh menit. Bila muncul bintik-bintik merah dibawah kulit yang tidak hilang bila diregangkan, artinya test itu positif, dan ini menandakan adanya kebocoran dinding pembuluh darah lantaran virus dengue. Tes sederhana ini kadang lebih jitu ketimang hasil tes laboratorium. Soalnya kadar trombosit dapat turun mendadak, yang mungkin tidak terdeteksi saat pengambilan sampel darah.
Pengobatan
Tindakan apa yang pertama bisa Anda lakukan bila anggota keluarga dekat terkena DBD? “Beri minum yang banyak,” Kata Dr. Zarkasih Anwar, dokter spesialis anak FK UNSRI yang menjadi pembicara pada Diskusi Panel “Antisipasi Kejadian Luar Biasa demam Berdarah” di kota Palembang, Sumsel empat tahun lalu. Air minum berfungsi mengganti cairan tubuh yang hilang karena kebocoran pembuluh darah. Berapa jumlahnya? Dua kali dari kebutuhan harian normal alias 4 liter. Air minum ini bisa Anda ganti dengan juz buah, teh atau susu. Demam bisa diobati dengan pemberian Parasetamol 3 x 500 mg perhari. Selanjutnya, segeralah bawa keluarga Anda ke dokter terdekat untuk pertolongan lebih lanjut.
Dokter akan melakukan anamnesa dan memeriksa keadaan pasien. Bila dari hasil anamnesa dan pemeriksaan ditemukan gejala dehidrasi – denyut nadi melemah, kulit kaki dan tangan terasa dingin, urine amat pekat – dan atau terdapat gejala perdarahan spontan, pasien dianjurkan untuk dirawat.
Pasien akan mendapatkan infuse cairan kristaloid seperti: Ringer Laktat, Ringer Asetat atau Natrium Chloride 0,9% dengan kecepatan tetesan sesuai dengan derajat dehidrasi. Respon terapi dipantau baik secara klinis maupun laboratoris. Bila selama 24 jam perawatan suhu badan dalam batas normal, kondisi klinis membaik dan hasil laboratorium Trombosit > 100.000/mm3, pasien dibolehkan pulang dengan nasehat: istrirahat total alias tirah baring 2-5 hari dan banyak minum.
Sebaliknya, bila selama perawatan kondisi klinis pasien justru memburuk: demam makin hebat, timbul mimisan, buang air besar kehitaman, Trombosit < 50.000/mm3, atau syok, itu tanda telah terjadi kebocoran cairan plasma dari pembuluh darah. Tak ada cara lain kecuali merujuk pasien ke sentra pelayanan medis yang lebih lengkap. Transfusi Trombosit atau darah segar (whole blood) mungkin diperlukan, bila pemberian cairan koloid seperti: Dekstran 40, HES atau Hydroxy Ethyl Starch, gagal mengatasi syok dan terjadi perdarahan hebat dari hidung (epistaksis), saluran cerna (hematemesis atau melena) bahkan perdarahan otak (ensefalopati dengue)…
Pencegahan
Bila DBD sudah mewabah, fogging atau pengasapan dilakukan untuk membunuh nyamuk Aedes aegypti – si inang pembawa virus dengue. Tetapi, efek fogging hanya bersifat sementara dan sangat tergantung pada jenis insektisida yang dipakai. Setelah fogging, jumlah pasien DBD memang berkurang. Tetapi satu sampai dua minggu kemudian kembali melonjak. Karena itu saat wabah DBD menyerang perlindungan ekstra perlu kita lakukan seperti: penggunaan kelambu, pasang kasa nyamuk di pintu dan jendela, gunakan semprotan nyamuk di dalam rumah atau pakai obat nyamuk yang dioleskan!
Satu hal lagi bahwa pemberantasan penyakit DBD tidak hanya memberantas nyamuk Aedes aegypti saja, tetapi juga memberantas virus dengue yang dibawa oleh nyamuk tersebut. Karena itu rantai penularan virus perlu diputus dengan cara menumpas jentik nyamuk Aedes aegypti yang hidup nyaman di genangan air. Ada resep kuno yang terbukti ampuh untuk membunuh jentik nyamuk ini yaitu: bersihkan lingkungan tempat tinggal. Caranya, bersihkan dan taburkan bubuk abate di semua tempat genangan air, vas bunga, bak mandi, atau kolam renang.
Resep kuno terakhir tadi menjadi mutlak, pasalnya kita warga Aruna Wijaya Sakti yang dikepung air dari kiri-kanan depan-belakang. Selain itu, karena perubahan iklim, musim hujan bisa bertamu kepada kita kapan saja. Ya, hantu DBD ini memang selalu menyerang saat musim hujan tiba. Kita semua perlu tanggap dan waspada, jangan sampai berkali-kali kecolongan!