Lencho, seorang petani sederhana dari Meksiko, frustasi karena tanaman jagungnya habis digasak badai. Harapan tentang panen Jagung yang melimpah menguap dari batok kepalanya. Tetapi, walau pikirannya buntu, ia masih memiliki harapan bahwa Tuhan bisa menolongnya dari ancaman kelaparan tahun ini. Setelah berdoa siang malam tak kunjung dapat jawaban, ia memutuskan untuk menulis surat kepada Tuhan.
“Tuhan”, tulisnya. “Kalau engkau tak menolongku, maka aku dan keluargaku mungkin akan mati kelaparan tahun ini. Aku membutuhkan 100 peso agar bisa menanami ladangku kembali dan menyambung hidup sampai datangnya musim panen, karena badai itu…”. Ia lalu menuliskan “Buat Tuhan” di amplop, memasukkan lembar surat ke dalamnya, dan membawanya ke kantor pos keesokan harinya dengan tampang seperti serdadu kalah perang.
Pegawai pos yang membaca alamat surat itu heran. Selama kariernya sebagai pegawai pos, belum pernah tahu ia dimana alamat Tuhan sebenarnya. Kepala Kantor Pos yang dilapori anak buahnya, segara membuka isi surat Lencho dan segera tahu pokok masalahnya. Atasan yang baik hati itu bermaksud membalas surat aneh tersebut. Ia pun kemudian merelakan sebagian gajinya. Sisanya dimintakan kepada anak buahnya secara sukarela.
Sumbangan sukarela itu hanya bisa mengumpulkan 70 peso. lumayanlah buat menghibur petani yang sedang rudin. Minggu berikutnya Lencho datang lagi ke kantor pos, menanyakan apakah kiriman Tuhan telah sampai.
Dengan puas pegawai Pos memberikannya. Lencho, yang merasa yakin dengan kemurahan Tuhan, segera membuka amplop itu, tetapi wajahnya segera berkerut. Ia tampak senewen seperti jin kurang sajen, meminjam pena untuk menulis lagi surat pendek, dan seperti sebelumnya, dimasukkannya surat itu ke dalam amplop.
Setelah ditulis alamat Tuhan, ditempel perangko dan dimasukkan ke dalam kotak surat, ia pun ngacir pulang. Kepala Pos, yang merasa bangga telah beramal, bergegas membukanya. Dalam hati ia membaca, “Tuhan, dari jumlah yang kuminta, hanya 70 peso yang sampai di tanganku. Kirimkanlah sisanya, sebab aku sangat memerlukannya. Tapi jangan Kau kirim lewat kantor pos, karena semua pegawai pos itu bajingan!”.
(cerpen karya Gregorio Lopezy Fuentes)