“Coba sampeyan tebak, berapa kira-kira umur sapi ini?”
“Ehm… satu setengah tahun, Pak.”
“Sampeyan boleh ndak percaya, ini sepuluh bulan pun belum ada”
Pak Sutrisno, warga desa Karang Endah, Kecamatan Bandar Jaya, itu memang blantik sapi tulen. Caranya menawarkan dagangannya lebih meyakinkan ketimbang para murid Yesus menawarkan kristen pada orang Roma. Dengan mimik menyakinkan ia menjelaskan bahwa sapi yang sedang ditawarkan pada kami itu memang sapi F1 (formula 1). Coba Anda pikir, belum genap 10 bulan umurnya, tetapi jogrog-nya sudah seperti sapi umur 2-3 tahun. Bayangkan bila diberi pakan konsentrat intensif sampai umur 2 tahun, itu sapi bisa sebesar gajah!
Tetapi Pak Sutris ini memang tidak sedang berbohong. Dari dulu, Sapi peranakan Simmental ini memang bintangnya sapi potong. Peternak menyenanginya sebab perawatannya mudah, jarang masuk angin, tahan perubahan cuaca, dan doyan makan apa saja: onggok, kulit singkong, termasuk jerami kering atau alang-alang. Tukang jagal dan penjual daging menggandrunginya sebab dengan berat hidup yang sama dengan sapi lain, bobot karkasnya lebih tinggi. Tak heran bila bayi Simmental yang baru ceprot lahir dari induknya, sudah ada yang berani menawarnya 3-4 juta.
Sapi ini berasal dari daerah lembah Simme, Swiss, karena itu diberikan nama Simmental. Awal tahun 1700-an, ia diekspor ke Eropa dan Amerika yang segera menjadi primadona. Saking derasanya permintaan dari luar negeri, pada 1785 parlemen Swiss meneken keputusan untuk membatasi ekspornya karena mereka kekurangan sapi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Beberapa tahun kemudian, kran ekspor itu dibuka lagi, dan segera saja si Simmental ini menyebar di 6 benua.
Di Indonesia, sapi ini mulai dikembangkan pada 1985 lewat inseminasi semen beku Simmental Jantan ke sapi Peranakan Ongole betina. Anak simmental yang berumur 2 bulan pertumbuhannya cepat sekali. Pada umur 23 bulan, sapi ini bisa mencapai bobot 800 kg dan pada umur 2,5 tahun beratnya bisa 1100 kg. Bila harga berat hidup sapi ini Rp 25.000,- maka dengan menjual 2 ekor Simmental yang berbobot 1 ton, Anda sudah punya ongkos untuk naik haji.
Berdasar semua pertimbangan itulah, Galihdin cs., berniat menjalankan usaha penggemukan sapi ini. Nopember tahun lalu, dengan modal 16 juta, ia sudah membangun kandang di belakang rumah orang tuanya. Ia cari dan baca artikel, tulisan atau buku-buku tentang penggemuka sapi potong. Dan akhirnya, setelah Mbak Santi dan Mas Joko pulang haji, Galihdin segera ambil cuti untuk berburu Simmental ke daerah Karang Endah, Merapi, Sluban (Semua di Lampung Tengah), Gedong Wani dan Merandung Sari di Jabung (Lampung Timur).
Awalnya, mereka cari sapi di PT GGCL, Humas. Ribuan sapi ada disitu, tetapi yang ada hanya sapi BX (Brahman Cross) yang baru diimpor dari Australia. Sapi ini masih liar dan berada dalam kandang dari besi. Untuk digemukan di kandangnya Galihdin jelas ndak cocok, bisa roboh pagar kandangnya di seruduk si BX ganas itu. Akhirnya Galihdin cs., menghubungi Pak Bambang Singgih, kakak ipar dari Indra Wilson, teman Galihdin perawat di Medikal, yang juga punya usaha penggemukan sapi. Via SMS ia mendapat berita bahwa di daerahnya, Karang Endah, ada blantik yang bisa diminta tolong untuk mencarikan sapi yang Galihdin inginkan.
Perjalan pertama Galihdin hanya membuahkan hasil tentang kisah sukses para peternak sapi. Ada kisah pak Haji Jarwo di Sluban yang punya 200 ekor sapi di kandangnya. Termasuk pak Bambang Singgih yang bisa pergi ngulon, naik haji dengan hasil usaha sapi potongnya. Ada juga kisah Pak Haji Mulyono, penjual daging sapi asal dari desa Merandung Sari yang biasa menjual sapi ke Jakarta, Padang, dan Bangka. Cari Simmental ini ternyata susah-susah gampang.
“Saiki alune ijih duwur Pak, dadi regone asih larang!” Ujar Haji Mulyono. Aha… harga sapi ternyata dipengaruhi oleh tinggi rendahnya obak laut. Saat ombak tinggi, sapi tidak bisa menyebrang ke Bangka, Batam dan lainnya, sehingga harga melambung juga, sebab jarang orang mau jual. Saat ombak rendah, sapi bisa di sebar ke pulau-pulau itu dan berbondong-bondong orang menjualnya. Saat masa kenaikan kelas, para petani yang kepepet butuh duit juga mau melepas sapi mereka dengan harga murah.
Pada perjalanan kedua barulah Galihdin dipertemukan dengan blantik sapi kepercayaan Pak Bambang, Pak Sutrisno dari Karang Endah itu. Seminggu sebelum pertemuan, ia sudah diberi tahu oleh Pak Bambang bahwa ada orang dari Tulang Bawang yang berniat cari 10 ekor Simmental untuk digemukkan. Segera ia begerak cepat menyisir rumah demi rumah petani yang punya sapi Simmental dan berniat menjual. Pertama kali kami mengunjugi rumahnya sudah ada 1 ekor simmental di kandangnya.
“Piro Lik, yang ini sampeyan lepas?”
“Nek sing niku 10 juta Pak? Ujar si Blantik datar. Hayuuuh… kok mahal ya? Kami kira hanya sekitar 7-9 juta. Setelah tawar menawar akhirnya Simmental itu dilepas dengan harga 9,8 juta. Selanjutnya kami diajak berkeliling ke beberapa petani yang berniat menjual Sapi mereka. Ada yang seorang penjual tahu yang berniat menjual 4 ekor sapinya langsung 37,7 juta. Ada juga tetangga Lik Sutris yang berniat menjual 2 sapinya: Simenntal dan Silangan Simental Brangus seharga 21 juta. Setelah 2 hari kami keliling (diselingi pulang kampung ke Ambarawa, mengunjungi handai taulan dan ziarah ke makam leluhur) akhirnya perburuan kami mencari si Simmental berakhir.
Selasa 2 Februari 2009, sekitar pukul 4 sore sampailah “The Big Ten Simmental” Sepuluh sapi Simmental Besar ke kandang kami di Penawar Aji. Aha.. heboh betul keadan waktu itu. Pak Bibit yang kelak bertugas menjadi juru rawat sapi sudah siap dengan rumput dan jerami yang akan menjadi pakan. Anak kecil dan handai taulan pada merubung pingin melihat. Pak Bibit dan Lik Sutris (yang ikut ngater dagangannya sebagai bentuk tanggung jawab) segera menambatkan 10 ekor sapi yang kami beli itu ke kandang, mengaso setelah 4 jam lebih digoncang-gonjang dalam perjalanan. Rumput dan jerami segera diberikan agar sapi segera makan. Lik Bibit yang tampak lelah karena hari itu nglakoni puasa weton masih sempat mencari dedak untuk santapan si Simme esok pagi.
Selama 2 hari si Sapi dikandangkan. Pakan yang diberikan hanya rumput belaka. Pada hari ketiga datanglah pakan si Simme ini: kulit singkong yang khusus didatangkan dari Mesuji. Duhai senang betul melihat mereka makan begitu lahap. Senang sapinya, senang yang melihatnya. Ibu Hasanah gembira bukan kepalang karena cita-cita anak-anaknya terkabul. Berkali-kali Ibu ini menengok kandang untuk melihat ternaknya itu makan. Sekali makan, setiap Simme bisa melahap habis 6-8 kg kulit singkong. Bila sehari mereka makan 3 kali, maka untuk 10 ekor Simmental dikandangnya, Galihdin perlu menyiapkan 180-240 kg kulit singkong.
Makan kulit singkong saja bagi si Simme mungkin serasa kita menyantap nasi putih saja. Karena itu perlu juga ia dikasih lauk ataupun bumbu. Nah.. bumbu atau lauk yang ditambahkan pada ransum agar nafsu makan si Simme bertambah adalah: sedikit garam, segenggam dedak, dan ½ tutup botol viterna dan POC nasa. Garam diperlukan untuk memenuhi asupan mineral, Dedak atau bekatul itu semacam bumbu untuk meningkatkan tingkat palabilitas, sedang dua terakhir merupakan sumber vitamin, mineral, dan hormon pertumbuhan yang diperlukan agar nafsu makan si Simme meningkat dan bobot badannya bertambah dengan cepat.
Begitulah hari-hari ke-10 ekor Simmental di kandang belakang rumah Galihdin itu. Tiap pagi, sebelum Pak Bibit sarapan, kesepuluh Simmental itu sudah sarapan. Siangnya, sebelum Pak Bibit makan siang, Si Simmental mendahului makan. Begitupun sore harinya.
“Ngurusi Sapi itu harus seperti ngurusi orang lho Mas.” Itulah Pesan Pak Bambang suatu ketika. Dan Galihdin cs., juga menyadarinya. Terlebih lagi bagi Pak Bibit sebagai tukang rawatnya. Kesepuluh Simmental itu diurus layaknya anak-anaknya: diberi makan, dimandikan, dibersihkan kotorannya, dan disuntik vitamin serta obat cacing agar mereka tetap sehat.
Galihdin ingat perkataan Lik Sutris ketika mereka menawar Sapi Simmental F1 kala itu.
“Wis tho Pak, sampeyan buktikan sendiri, ndak bakal salah sampeyan milih yang ini?”
“Sekarang memang belinya mahal, tapi nanti kalau pas dijual, untunge thikel (untungya berlipat)”.
Semoga, pernyataan Lik Sutris itu semacam nubuwat, semacam doa. Dan Galihdin sekeluarga dengan khusyuk mengaminkannya.

Membaca cerita mas galihdin berburu sapi seru juga mudah mudahan niat baik yg di sertai iktiar yg baik mendatangkan manfaat bagi kita semua .Salam untuk keluarga semoga berkahing gusti selalu meliputi kita semua. Amin
Matur nuwun sawab pandongane Mas…
mugo Gusti Allah tansah paring sih bagas kewarasan kagem kito sedoyo…
assalamualikum,,
sy sgt senang membaca cerita Njenengan,, 3thn yg lalu sy jg pernah membeli 7 ekor sapi lgsg, tp gagal gr2 slh beli bibit dan belinya pas mahal.. hr ini sy br sj coba beli 1 ekor untuk sy tes yg bibitan Simmental… ya donga dinonga Mas mudh2an usaha kt sm2 jaln lancar amin…
Ya Pak Sama-sama mari saling mendoakan semoga usaha kita diridhai Allah dan mendatangkan berkah bagi kita semua… amiin