Saat Galihdin masih kecil, dia sangat suka dengan lagu yang satu ini: Nyanyian Sawah. Ya… sebagai anak yang “dititipkan” pada Mbah Suginah neneknya, Galihdin kecil memang rada kurang kasih sayang. Ibu Bapaknya yang sedang merintis usaha di Gedung Aji Lama (daerah transmigrasi 260 km dari Ambarawa), kadang memang hanya pulang 3 bulan sekali. Itulah sebabnya maka kerinduan pada Emak Bapaknya sering memenuhi hati Galihdin. Ketika rindu itu membuncah Galihidin sering mengobatinya dengan mendengarkan lagu ini. Lagu ini adalah karya Penyanyi Balada Rita Rubby Hartland dan adiknya Jane Hartland. Vokal anak kecilnya diisi oleh Puput Novel.
Bapak, dengarlah
Nyanyian tembang keramat
Teman lelah kita
Dikala keringat datang
Bapak, dengarlah
Nyanyian ternak-ternakmu
Kerbau sobat kita
Telah rindu jamahanmu
Kami sangat khawatir
Keadaan di kota
Orang pernah bilang
Banyak keadaan memaksa
Orang rela mengunyah dosa
Bapak, kami rindu
Mengantar nasi buatmu
Bersantap sama-sama
Di saung jerami tua..
Intro:
Bapak…. tahukah apa yang ada dalam lamunku saat ini
Ah.. Aku teringat ketika aku sedang berlarian di pematang basah
Aku terjatuh….
Dan kau tertawa senang melihat badanku yang mandi lumpur
Sementara Ibu menghampiri
Menasehati dengan penuh kasih sayang…
Ah Bapak…. Aku rindu itu… Aku rindu semua itu.
Kami sangat khawatir
Keadaan di kota
Orang pernah bilang
Banyak keadaan memaksa
Orang rela mengunyah dosa
Audionya bisa didownload via 4shared: nyanyian sawah
mendengarkan lagu ini membawa ingatan 20 th yang lalu teringat juga sandiwara radio yang sering kita dengar bersama ada cerita saur sepuh dengan tokohnya brama, mantili , lasmini, dan stria madangkaranya, ada tong bajil, di cerita Tutur tinular dengan tokohnya arya kamandanu, meshin dan arya dwipangga ada sembara ,farida, dan tak lupa dengan mak lampirnya pokoknya seruuu.
He..he.. Saur Sepuh.. Tutur Tinular.. dll memang lekat pada ingatan kita sebab saat itu ndak ada hiburan lain selain Sandiwara itu. Lha sekarang siaran TV saja mbludak 24 jam sehari. Jadi lebih banyak pilihan. Tetapi ketimbang melihat Sinetron-sinetron bikinan orang-orang India itu, Sandiwara radio sebenarnya lebih nyamleng di telinga dan rasa.