Feeds:
Pos
Komentar

Insulin infus intravena dosis rendah berkelanjutan merupakan standar baku pemberian insulin di sebagian besar pusat pelayanan medis. Pemberian insulin infuse intravena dosis rendah 4-8 ( biasanya 6 ) unit/ jam menghasilkan kadar insulin sekitar 100 µU/ml dan dapat menekan glukoneogenesis dan lipolisis sebanyak 100%.

Pemberian insulin ini dapat dilakukan dengan menggunakan syringe-driver infusion pump atau pada pusat pelayanan yang tidak memiliki alat ini dapat menggunakan botol infuse.

Bila terdapat syringe pump, siapkan 50 unit insulin regular (RI) dalam spuit 50 cc, kemudian encerkan dengan larutan NaCl 0,9% hingga mencapai 50 cc ( 1cc NaCl = 1 unit RI). Bila diperlukan 6 unit insulin/jam, petugas tinggal mengatur kecepatan tetesan 6 cc/jam.2

Bila tidak tersedia syringe pump, dapat digunakan botol infuse 500 cc larutan NaCl 0,9%. Sebaiknya gunakan infuse microdrip. Masukkan 50 unit RI kedalam botol infuse 500 cc larutan NaCl 0,9%. Ini artinya, dalam 1 unit insulin terdapat dalam 10 cc larutan. Bila kita menginginkan dosis 5 unit/jam, maka jumlah larutan yang kita butuhkan 50 cc/jam.

Berapa teteskah permenit? Ingat: 1 cc = 15 tetes makro drip = 60 cc mikrodrip. Dengan formula di atas, dapat dihitung, jumlah larutan dalam 1 jam: 6o (tetes) x 50 = 3000 tetes/jam ===> 50 tetes mikro/menit (3000/60).

Dengan formula larutan ini (50 unit dalam 500 cc NaCl 0,9%) dapat kita tarik kesimpulan lebih lanjut: bila kita membutuhkan 1 unit/jam, artinya butuh 10 cc larutan/jam  ===> 10 tetes mikro/menit

  • Pemberian awal intravena 10 U atau 0,15 U/kgBB
  • Infus insulin regular (insulin kerja pendek) 0,1 U/kgBB/jam atau 5 U/jam (50 tetes mikro/menit)
  • Tingkatkan dosis insulin 1 U setiap 1-2 jam bila penurunan glukosa darah < 10% atau bila status asam basa tidak membaik
  • Kurangi  dosis  1-2  U/jam  bila  kadar  glukosa  <250  mg/dL  (0,05-0,1  U/kg/jam),  atau keadaan klinis membaik dengan cepat dan kadar glukosa turun > 75 mg/dL/jam
  • Jangan menurunkan infus insulin < 1 U/jam
  • Pertahankan glukosa darah 140-180 mg/dL
  • Bila kadar glukosa darah <80 mg/dL hentikan infus insulin paling lama 1 jam; kemudian lanjutkan infus insulin
  • Bila kadar glukosa darah selalu < 100 mg/dL, ganti infus dengan dekstrosa 10% untuk mempertahankan kadar glukosa 140-180 mg/dL
  • Bila pasien sudah dapat makan pertimbangkan pemberian insulin subkutan
  • Insulin  infus  intravena  jangan  dulu  dihentikan  pada  saat  insulin  subkutan  mulai diberikan, tetapi lanjutkan insulin intravena selama 1-2 jam
  • Pada pasien yang sebelumnya telah mendapat insulin dan glukosa darahnya terkendali kembalikan seperti dosis awal insulin
  • Pada  pasien  yang  sebelumnya  tidak  mendapat  insulin  berikan  dosis  subkutan  0,6 U/kgBB/24 jam (50% insulin basal + 50% insulin prandial)

sumber: Petunjuk Praktis Terapi Insulin PERKENI 2011

Doa Ramadhan

Ya Allah, segala puji bagi Allah, yang membimbing kami untuk memuji-Nya,
menjadikan kami para pemuji-Nya supaya kami bersyukur akan kebaikan-Nya
dan supaya Dia membalasa kami dengan balasan orang-orang yang berbuat baik

Segala puji bagi Allah, yang menganugerahi kami dengan agama-Nya,
mengistimewakan kami dengan millah-Nya,
menunjuki kami kepada jalan-jalan kebaikan-Nya
supaya dengan karunia-Nya kami berjalan menuju ridho-Nya,
dengan pujian kami yang Dia terima dan Dia ridhoi.

Segala puji bagi Allah, yang menjadikan di antara jalan-jalan itu bulannya,
bulan Ramadhan, bulan puasa, bulan Islam, bulan kesucian,
bulan pembersihan, bulan menegakkan shalat malam,
bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran
sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan petunjuk dan pembeda.

Dia menjelaskan kemuliannya di atas semua bulan,
menjadikan di dalamnya kesucian yang berlimpah dan keutamaan yang terkenal.
Dia mengharamkan di dalamnya yang di halalkan di bulan lain sebagai pengagungan.
Dia larang di dalamnya makan dna minum sebagai penghormatan.
Dia jadikan di dalamnya waktu yang tegas.
Tidak boleh didahulukan.
Tidak boleh diakhirkan.

Lalu, Dia muliakan satu malam di antara malam-malamnya
di atas malam-malam seribu bulan. Dia namakan Laylatul Qadr.
Pada malam itu turun malaikat dan malaikat Jibril
dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
Sejahteralah terus menerus menabrukan berkat sampai terbit fajar,
kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya
sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan-Nya.

Ya Allah, sampaikan salawat kepada Muhammad dan keluarganya.
Ilhamkan kepada kami mengenal karunia-Nya,
mengagungkan kesucian-Nya, menjaga apa yang dilarang-Nya.
Bantulah kami untuk menjalankan puasa-Nya
dengan menahan anggota badan dari maksiat kepada-Nya
dan menggunakannya untuk apa yang diridhoi-Nya
sehingga telinga telinga kami tidak diarahkan pada kesia-siaan,
dan mata-mata kami tidk kami pusatkan pada kealpaan.
Sehingga tangan-tangan kami tidak kami ulurkan pada larangan,
dan kaki-kaki kami tidak kami langkahkan pada keburukan,
sehingga perut-perut kami tidak kami isi kecuali yang Kau halalkan,
dan lidah-lidah kami tidak berbicara kecuali yang Kau contohkan,
kami tidak melakukan kecuali yang mendekatkan pahala-Mu,
kami tidak mengerjakan kecuali yang menjaga kami dari siksa-Mu.
Maka bersihkanlah itu semua
dari riya-nya tukang riya dan pamer-nya tukang pamer.

Di bulan itu, kami tidak menyekutukan siapa pun kepada-Mu,
kami tidak akan mencari kerinduan selain kepada-Mu.
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya.
Bantulah kami di bulan Ramadhan
untuk memperhatikan waktu-waktu shalat yang lima
dengan hukum-hukum yang Kau tentukan, fardhu-fardhunya
yang Kau fardhukan, tugas-tugasnya yang Kau tugaskan,
dan waktu-waktunya yang Kau tetapkan.

Di dalam shalat kami, naikkan kami
kepada kedudukan orang-orang yang memelihara kedudukannya,
menjaga rukun-rukunya, melakukan pada waktunya sesuai dengan apa yang disunnahkan hamba-hamba-Mu,
Rasul-Mu saw, dalam rukuknya, dan sujudnya,
dan semua geraknya, dengan kesucian yang paling banyak dan paling sempurna,
dengan kekhusyukan yang paling tampak dan paling dalam.

Dalam bulan ini,
bantulah kami untuk menyambung persaudaraan dengan kebajikan dan kekeluargaan,
memperhatikan tetangga kami dengan bantuan dan pemberian,
membebaskan harta kami dari tuntutan,
membersihkannnya dengan mengeluarkan zakat,
menyambung lagi orang yang menjauhi kami,
memperlakukan dengan adil orang yang menyakiti kami,
berdamai dengan orang yang memusuhi kami,
kecuali yang dimusuhi karena-Mu dan untuk-Mu,
karena dia itu musuh yang tidak kami senangi dan golongan yang tidak kami sukai.

Dalam bulan ini, bantulah kami untuk mendekati-Mu
dengan amal-amal yang suci yang membersihkan kami dari dosa,
menjaga kami dari mengulangi cela,
sehingga amal yang dipersembahkan para malaikat-Mu
kurang dari pintu ketaatan dan macam-macam peribadatan yang kami persembahkan.

Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu demi hak bulan ini
demi hak siapa saja yang menyembah-Mu sejak permulaannya sampai waktu kematiannya,
para malaikat yang Kau dekatkan,
para nabi yang Kau kirimkan,
para hamba shaleh yang Kau istimewakan.

Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya.
Di bulan ini, jadikan kami orang yang layak menerima anugerah-Mu
yang Kau janjikan kepada para kekasih-Mu,
yang Kau pastikan kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh beribadat kepada-Mu,
tempatkan kami dalam kelompok orang yang berhak mendapat tempat paling mulia dengan rahmat-Mu.

Ya Allah, sampaikan shalawat pada Muhammad dan keluarganya,
jauhkan dari kami ketergelinciran dari tauhid-Mu,
kekurangan dalam memuji-Mu,
keraguan akan agama-Mu, kebutaan dari jalan-Mu,
kelalaian akan kesucian-Mu,
ketertipuan oleh musuh-Mu setan yang terkutuk!

Ya Allah, sampaikan shalawat pada Muhammad dan keluarganya,
jika pada malam-malam bulan ini
ada hamba yang tengkuknya dibebaskan dengan ampunan-Mu
atau dianugerahi maaf-Mu, masukkan tengkuk kami di dalamnya,
tempatkan kami pada kelompok dan orang yang paling baik di bulan kami ini.

Ya Allah, hilangkan dosa-dosa kami bersamaan dengan hilangnya bulan sabitnya,
lepaskan kami dari tuntutan atas kami bersamaan dengan berlalunya hari-harinya,
sehingga bulan itu meninggalkan kami, Engkau sudah memberiskna kami dari kesalahan,
Engkau sudah melepaskan kami dari keburukan.

Ya Allah, sampaikan shalawat pada Muhammad dan keluarganya.
Di bulan ini, jika kami menyimpang luruskan kami, jika kami tergelincir tegakkan kami,
jika setan musuh kami mencengkeram kami, selamatkan kami.

Ya Allah, penuhi bulan ini dengan pengabdian kami kepada-Mu,
hiasi waktu-waktunya dengan ketaatan kami kepada-Mu,
bantulah kami pada waktu siangnya dengan puasa,
dan malamnya dengan shalat, khusyuk bersimpuh dan merendah kepada-Mu,
sehingga siangnya tidak menyaksikan kami dalam kelalaian,
malamnya tidak melihat kami dalam kealpaan.

Ya Allah, jadikan kami seperti ini juga di bulan-bulan yang lain, sepanjang hidup Kauhidupkan kami.
Jadikan kami di antara hamba-hamba-mu yang shaleh:
yang mewarisi surga Firdaus mereka kekal di dalamnya,
yang memberikan apa yang mereka berikan sedang hatinya
bergetar bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan mereka,
termasuk orang-orang yang berlomba mendapat kebaikan
dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.

Ya Allah, sampaikan shalawat pada Muhammad dan keluarganya,
pada setiap waktu dan saat, pada segala keadaan
sebanyak shalawat yang Kau berikan berlipat-lipat dari itu semua
dengan kelipatan yang hanya Engkau yang dapat menghitungnya.
Sesungguhnya Engkau melakukan apa yang Kau kehendaki.

Sumber: Shahifat al Kamilat as Sajjadiyyah, doa no.44

Hukum Yang Utama

Ketika Yesus pemuda Nazaret itu bersoal jawab dengan orang Saduki
Seorang Farisi, ahli Taurat mendengarnya lalu bertanya pada putra Maryam ini:
Wahai guru kami, hukum manakah yang paling utama?

Al Masih Isa itu menjawab:
hukum yang terutama inilah
wahai Israel, dengarlah, dengarlah,
bahwa Allah Tuhan kita,
hanya Tuhan Yang Esa

hendaklah hanya Allah Tuhanmu
yang engkau kasihi, sebulat hatimu
segenap jiwamu, segenap akal budimu
dan segenap daya kekuatanmu

hukum kedua, wahai Israel, dengarlah
curahkan kasih, pada sesama hidupmu
sesama insan; sebab dia itu dirimu

duhai …
tiada hukum lain seagung itu…
sebab pada kedua hukum ini
tergantung seluruh hukum taurat dan kitab para nabi

(digubah dari: Mark 12:28-31, dan Matius 22:34-40)

Bukan Jihad Sarung dan Peci

but Man, proud man
dressed in little brief authority
most ignorant of what he has most assured
his glassy essence, like an angry ape
plays such fantastic tricks before Heaven
as make the angles weep
tetapi manusia, manusia yang angkuh
berselimut pakaian kekuasaan yang singkat
bermasa bodoh dengan keyakinannya sendiri
keadaannya yang dungu, seperti monyet yang marah
memainkan tipuan-tipuan aneh di hadapan Tuhan
sehingga membuat para malaikat menangis

(Measure For Measure: William Shakespeare, Act 2, Se 2 L, 117)

VIDEO amatir itu berdurasi 75 menit 34 detik. Dibuka dengan kaligrafi Arab mengutip ayat-ayat suci Al-Quran, disusul satu demi satu cuplikan gambar kekerasan yang melibatkan umat Islam di Indonesia. Lagu nasyid berirama cepat berkumandang jadi latar belakang. Liriknya berulang-ulang mengajak muslim berjihad.

Lima belas menit pertama video itu penuh berisi sejarah bentrok antara kelompok Islam garis keras dan aparat keamanan di Tanah Air. Dimulai dari penyerbuan tentara ke kelompok pengajian garis keras pimpinan Warsidi di Talangsari, Lampung, 1989, kasus Tanjung Priok, konflik di Ambon, sampai aksi polisi memberangus kelompok militan yang berbasis di Pesantren Tanah Runtuh di Poso, Sulawesi Tengah, tiga tahun lalu.

Tubuh-tubuh yang terkoyak senjata, wajah-wajah babak-belur, dan isak tangis sengaja diberi fokus dan diulang-ulang. Dalam video itu, Indonesia tampak mirip Afganistan.

Pada menit ke-20, muncul inset gambar dari khotbah Abdullah Yusuf Azzam, teolog Palestina yang pertama kali mengobarkan jihad di Afganistan. Azzam disebut-sebut sebagai mentor Usamah bin Ladin, pemimpin Al-Qaidah asal Arab Saudi. Teks terjemahan Indonesia dari khotbah Azzam muncul di bagian bawah gambar. “Tak ada alasan untuk tidak berjihad,” kata Azzam dalam video itu.

Setelah Azzam, gambar lalu pindah ke suasana kamp latihan militer-biasa disebut tadrib dalam konsep Jamaah Islamiyah-di sebuah perbukitan. Petunjuk peta di awal adegan ini memastikan lokasi kamp ada di Nanggroe Aceh Darussalam. Sekitar 30 pemuda tampak berlatih baris-berbaris, lompat halang rintang, sampai menembak. Rata-rata berpakaian hitam-hitam, dengan perlengkapan seadanya. Badannya kurus dan kecil-kecil, tak tampak seperti tentara.

Setelah latihan, mereka bergerombol makan bersama: dua sampai tiga orang berbagi nasi dari satu piring plastik. Beberapa makan langsung dari wajan. Lauknya satu-dua potong ikan asin sebesar ujung jempol. Sesekali terdengar teriakan nyaring, “Masya Allah, enak sekali makanan ini.”

Adegan berikutnya adalah khotbah pentolan kamp pelatihan. Duduk bersila di bawah tenda terpal hijau, tangan kiri si pengkhotbah memegang erat sepucuk senapan AK-47. Di belakang, satu pengikut membentangkan bendera hitam bertulisan kalimat syahadat dalam aksara Arab. Sang tokoh dengan berapi-api bercerita nikmatnya menjadi mujahidin. “Di sini tak ada televisi yang merusak akhlak, tidak ada musik, tidak ada aurat untuk dipandangi,” katanya. Sesekali nada suara meninggi, seperti menjerit. “Ayo ikhwan, tunggu apa lagi? Ayo bergabung, jangan berjihad dengan sarung dan peci.”

Memasuki dua menit terakhir, barulah suara si orator merendah. “Di sini kami makan kepala ikan asin, yang biasa kalian berikan kepada kucing dan ayam. Di sini kecap sangat berharga. Agar tak berat kami makan nasi yang keras…,” katanya mengiba. Video itu lalu ditutup dengan tulisan besar: “Mendukung, membantu, mendoakan, infaq fi sabillilah… adalah keharusan yang tidak ada udzur ketika jihad hukumnya fardhu’ain.”

Akhir Februari lalu, Detasemen Khusus 88 Mabes Polri menggerebek kamp pelatihan di Bukit Jalin, Kecamatan Jantho, Aceh Besar, itu. Lebih dari 30 peserta pelatihan ditangkap, dan empat pelatihnya ditembak mati. Dari penyerbuan itu, polisi menyita sejumlah dokumen, kamera, laptop, dan belasan pucuk senjata api.

Sepekan setelah itu, sebuah pesan muncul di satu situs Internet milik kelompok militan. Isinya singkat, cuma dua paragraf. Siaran pers itu diawali penjelasan: “Kami, Tanzim al-Qaidah Indonesia Wilayah Serambi Mekah … sampai hari ke-10 pengejaran thagut, kami dapat bertahan melanjutkan jihad meskipun sebagian saudara kami ada yang tertawan dan syahid.”

Nama kelompok ini belum pernah terdengar. Dari sejumlah peserta tadrib yang buka mulut, jejak jejaring kelompok ini diendus sampai Jakarta. Awal Maret lalu, polisi menyerbu dan menembak mati seorang pria berjenggot di warung Internet Multiplus di Pamulang, Banten. Belakangan ketahuan pria itu adalah Dulmatin, buron polisi nomor wahid setelah bom Bali pertama 2002. Yang belum jelas betul adalah bagaimana kelompok baru ini terbentuk.

Akhir Januari 2009, perbukitan Cot Kareung, hanya 6 kilometer di luar kota Lhokseumawe. Seratusan pemuda tanggung-ada yang bercelana loreng, berbaju kaus, dengan aneka jenis sepatu-melompat dan merunduk di bawah arahan seorang pria setengah baya. Si instruktur menutup seluruh wajahnya dengan kain bermotif kotak hitam- putih, menyisakan sepasang matanya yang melotot, awas mengawasi murid-muridnya berlatih bela diri. Bercelana loreng, si pelatih mengenakan rompi bertulisan “polisi” di punggungnya.

“Ini pelatihan laskar Front Pembela Islam yang akan kami kirim ke Jalur Gaza,” kata Tengku Muslim Atthahiri, ulama muda pemimpin Dayah Darul Mujahiddin, yang mengorganisasi latihan itu. Koresponden Tempo, Imran M.A., menemuinya seusai latihan, setahun lalu. Ketika itu, Israel memang tengah habis-habisan membombardir wilayah Palestina yang dikuasai Hamas itu. “Kami merasa terpanggil berjihad di sana,” katanya. Atthahiri adalah Sekretaris FPI Aceh.

Total ada 125 pemuda yang dilatih. Mereka berasal dari seluruh Aceh dan mendaftar setelah membaca pengumuman Front Pembela Islam di surat kabar. “Sebenarnya ada 500 lebih yang mendaftar,” kata Atthahiri.

Latihan dilakukan empat hari empat malam, di Bukit Cot Kareung, persis di belakang kompleks Pesantren Darul Mujahiddin. Ketika diwawancarai pada 2009, Atthahiri mengaku mendatangkan dua instruktur bela diri dan satu pelatih militer dari Jakarta. Salah satu pelatih saat itu adalah Sofyan Tsauri-pentolan Al-Qaidah Aceh yang kini tertangkap.

Sofyanlah yang mengenakan rompi “polisi” dan menutup mukanya ketika memimpin latihan setahun lalu. Belakangan terungkap, dia memang brigadir polisi yang desersi dari Polres Depok pada 2008. Beberapa peserta pelatihan ingat saat itu Sofyan sangat tertutup. “Selesai latihan, tidak pernah bicara lagi, langsung pulang,” kata satu sumber Tempo.

Ketika dimintai konfirmasi pekan lalu, Tengku Yusuf al-Qardhawi, Ketua FPI Aceh, membantah Sofyan adalah instruktur kiriman FPI Pusat di Jakarta. “Dia sendiri yang datang kepada kami, mengaku bekas mujahidin di Afganistan dan Mindanao,” kata Yusuf. Karena memang membutuhkan pelatih militer, tawaran bantuan dari Sofyan diterima begitu saja.

Awal Februari 2009, Yusuf dan 15 lulusan terbaik pelatihan militer di Cot Kareung datang ke Petamburan, markas FPI Pusat di Jakarta. Sofyan ikut bersama mereka. “Rencananya, 15 orang ini ikut pendidikan pemantapan dua pekan di Jakarta,” kata Yusuf. Tapi, Maret 2009, rencana ke Palestina akhirnya batal.

Bukannya pulang kampung kembali ke Aceh, sebagian relawan jihad ini malah memilih tinggal di Ibu Kota. “Tujuh orang tidak mau pulang,” kata Yusuf. Mereka yang tinggal inilah yang belakangan bergabung dengan Sofyan di kamp pelatihan Tanzim al-Qaidah Aceh.

SIMPUL Sofyan dan anak-anak didikannya di kamp pelatihan militer FPI bersentuhan dengan Tanzim al-Qaidah Aceh lewat pengajian garis keras Aman Abdurrahman. Dia adalah ustad yang pernah ditahan di LP Sukamiskin, Bandung, karena terlibat kursus pembuatan bahan peledak di Cimanggis, Depok, awal 2004.

Selain Sofyan, Yudi Zulfahri-juga bagian dari kelompok Al-Qaidah Aceh-adalah pengikut pengajian Abdurrahman. Sumber Tempo menuturkan, sejak ditahan di LP Sukamiskin, Abdurrahman amat dekat dengan sel-sel kelompok militan teror. Salah satu jejaringnya adalah Abdullah Sunata.

Sunata adalah mantan pemimpin Komite Penanggulangan Dampak Krisis (Kompak) yang aktif menggalang konflik di Ambon dan Poso. Sunata ditangkap polisi pada Juli 2005 karena memiliki senjata tanpa izin. Dia divonis tujuh tahun penjara dan dibui di LP Cipinang. “Saya kaget Sunata aktif lagi, karena dia baru saja bebas,” kata Asep Jaja, kawan seangkatan Sunata saat berperang di Ambon. Asep sekarang dihukum penjara seumur hidup di LP Porong, Jawa Timur.

Masuknya Sunata dalam jaringan Al-Qaidah Aceh membawa banyak manfaat. Dia menguasai simpul-simpul mujahidin yang pernah aktif di Kompak, baik ketika mereka beraksi di Poso, Ambon, maupun Mindanao, Filipina. Kuat diduga, Sunatalah yang membawa Dulmatin pulang. “Mereka memang dekat sejak sama-sama di Ambon,” kata Asep Jaja.

Selain membawa Dulmatin, Sunata mengajak Arham dan Jaja-dua pentolan Al-Qaidah Aceh yang tewas tertembak di Leupueng, Aceh Besar, dua pekan lalu. Dua orang ini adalah bagian dari lingkaran dalam Rois alias Iwan Darmawan, pelaku utama bom di Kedutaan Australia. “Mereka dari kelompok Darul Islam di Banten,” kata Noor Huda Ismail, Direktur Yayasan Prasasti Perdamaian, lembaga yang mengamati gerakan teror di Indonesia.

Terbukti, meski saat ini tengah menanti hukuman mati di LP Cipinang, Rois aktif berkomunikasi dengan jejaring Aceh. Delapan telepon selulernya baru disita polisi bulan lalu. “Dia berhubungan dengan Sapta alias Syailendra,” kata sumber Tempo, seorang perwira di Mabes Polri (lihat “Sapta dari Gang Buana”).

Tak hanya itu, sel-sel Jamaah Anshari Tauhid (JAT)-kelompok baru yang didirikan Abu Bakar Ba’asyir selepas pengunduran dirinya dari Majelis Mujahiddin Indonesia-juga ikut “bermain” di Aceh. Nama Ubaid alias Luthfi Hudaeroh dan Deni alias Faiz, misalnya, sudah dirilis polisi sebagai buron Al-Qaidah Aceh. “Suara khotbah di video Al-Qaidah Aceh adalah suara Ubaid,” kata sumber Tempo.

Ubaid dan Deni bukan orang sembarangan. Mereka seangkatan dengan Urwah dan Jabir, yang sudah tertembak mati dalam pengejaran polisi. Keempatnya adalah alumni Universitas An-Nur atau Mahad Aly di Solo, Jawa Tengah, yang juga dikenal sebagai pengawal setia Noor Din M. Top.

Al-Qaidah Aceh ini tampaknya berhasil menggabungkan sel dari Kompak, Darul Islam, dan JAT dalam satu wadah gerakan. “Jejaring baru di Aceh ini benar-benar membingungkan, semua kelompok lebur jadi satu,” kata Huda Ismail.

MESKI petanya melebur, polisi yakin pola rekrutmen terorisme setelah kematian Noor Din pada September 2009 tidak berubah. “Jalurnya tetap tiga: persahabatan, garis keluarga, dan hubungan guru-murid,” kata satu perwira yang menolak disebut namanya.

Pola rekrutmen dengan pertalian keluarga sudah dilakukan sejak dulu: hubungan kawin-mawin dan persaudaraan di antara sesama penganut ajaran garis keras. Dua paman Iwan Dharmawan alias Rois, yakni Kang Jaja dan Saptono, misalnya, aktif di Al-Qaidah Aceh. Jaja sendiri belakangan merekrut keponakannya yang lain, Ibnu Sina. Ibnu, 17 tahun, pemuda dari Pandeglang, Banten, kabarnya disiapkan sebagai pelaku peledakan bom bunuh diri (lihat “Eksekusi!”).

Pola rekrutmen lewat hubungan persahabatan tampak dari masuknya Yudi Zulfahri-orang Aceh yang melakukan survei awal untuk lokasi kamp militer di Jantho. Dia diajak oleh Gema Awal Ramadhan. Keduanya sama-sama alumni Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) di Jatinangor, Bandung. Yudi dan Gema saat ini sudah ditahan polisi. Yudi belakangan mengajak Sofyan Tsauri.

Gema mulai dekat dengan kelompok Islam garis keras lewat pengajian Aman Abdurrahman. Saat Abdurrahman dibui di LP Sukamiskin, kebetulan Gema juga ditahan di sana setelah terlibat penganiayaan siswa STPDN, Wahyudi, pada 2007.

Laporan International Crisis Group pada November 2007 menyebutkan, “Gema dan sejumlah siswa STPDN yang ditahan di penjara itu langsung tertarik pada ajaran garis keras Abdurrahman.” Masuknya Gema mewakili pola rekrutmen melalui hubungan guru-murid.

Keterlibatan banyak eks narapidana terorisme dan penggunaan penjara sebagai tempat penyebaran ideologi garis keras ini membuat khawatir banyak pihak. “Kasus terakhir di Aceh ini memang menandakan ada kelemahan dalam proses penanganan narapidana terorisme di Indonesia,” kata Huda Ismail. Menurut dia, saat ini ada sekitar 350 mujahidin eks Afganistan di seluruh Indonesia. “Tanpa penanganan yang benar, jejaring baru akan terus berkembang,” katanya.

Sumber: Majalah Tempo edisi 04/XXXVII/ 22 Maret 10

Nyanyian Sawah

Saat Galihdin masih kecil, dia sangat suka dengan lagu yang satu ini: Nyanyian Sawah. Ya… sebagai anak yang “dititipkan” pada Mbah Suginah neneknya, Galihdin kecil memang rada kurang kasih sayang. Ibu Bapaknya yang sedang merintis usaha di Gedung Aji Lama (daerah transmigrasi 260 km dari Ambarawa), kadang memang hanya pulang 3 bulan sekali.  Itulah sebabnya maka kerinduan pada Emak Bapaknya sering memenuhi hati Galihdin. Ketika rindu itu membuncah Galihidin sering mengobatinya dengan mendengarkan lagu ini. Lagu ini adalah karya Penyanyi Balada Rita Rubby Hartland dan adiknya Jane Hartland. Vokal anak kecilnya diisi oleh Puput Novel.


Bapak, dengarlah
Nyanyian tembang keramat
Teman lelah kita
Dikala keringat datang

Bapak, dengarlah
Nyanyian ternak-ternakmu
Kerbau sobat kita
Telah rindu jamahanmu

Kami sangat khawatir
Keadaan di kota
Orang pernah bilang
Banyak keadaan memaksa
Orang rela mengunyah dosa

Bapak, kami rindu
Mengantar nasi buatmu
Bersantap sama-sama
Di saung jerami tua..

Intro:
Bapak…. tahukah apa yang ada dalam lamunku saat ini
Ah.. Aku teringat ketika aku sedang berlarian di pematang basah
Aku terjatuh….
Dan kau tertawa senang melihat badanku yang mandi lumpur
Sementara Ibu menghampiri
Menasehati dengan penuh kasih sayang…
Ah Bapak…. Aku rindu itu… Aku rindu semua itu.

Kami sangat khawatir
Keadaan di kota
Orang pernah bilang
Banyak keadaan memaksa
Orang rela mengunyah dosa

Audionya bisa didownload via 4shared: nyanyian sawah

Simmental

Simenntal jenis F1

“Coba sampeyan tebak, berapa kira-kira umur sapi ini?”

“Ehm… satu setengah tahun, Pak.”

Sampeyan boleh ndak percaya, ini sepuluh bulan pun belum ada”

Pak Sutrisno, warga desa Karang Endah, Kecamatan Bandar Jaya, itu memang blantik sapi tulen. Caranya menawarkan dagangannya lebih meyakinkan ketimbang para murid Yesus menawarkan kristen pada orang Roma. Dengan mimik menyakinkan ia menjelaskan bahwa sapi yang sedang ditawarkan pada kami itu memang sapi F1 (formula 1). Coba Anda pikir, belum genap 10 bulan umurnya, tetapi jogrog-nya sudah seperti sapi umur 2-3 tahun. Bayangkan bila diberi pakan konsentrat intensif sampai umur 2 tahun, itu sapi bisa sebesar gajah!

Tetapi Pak Sutris ini memang tidak sedang berbohong. Dari dulu, Sapi peranakan Simmental ini memang bintangnya sapi potong. Peternak menyenanginya sebab perawatannya mudah, jarang masuk angin, tahan perubahan cuaca, dan doyan makan apa saja: onggok, kulit singkong, termasuk jerami kering atau alang-alang. Tukang jagal dan penjual daging menggandrunginya sebab dengan berat hidup yang sama dengan sapi lain, bobot karkasnya lebih tinggi. Tak heran bila bayi Simmental yang baru ceprot lahir dari induknya, sudah ada yang berani menawarnya 3-4 juta.

Sapi ini berasal dari daerah lembah Simme, Swiss, karena itu diberikan nama Simmental.  Awal tahun 1700-an, ia diekspor ke Eropa dan Amerika yang segera menjadi primadona. Saking derasanya permintaan dari luar negeri, pada 1785 parlemen Swiss meneken keputusan untuk membatasi ekspornya karena mereka kekurangan sapi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Beberapa tahun kemudian, kran ekspor itu dibuka lagi, dan segera saja si Simmental ini menyebar di 6 benua.

Di Indonesia, sapi ini mulai dikembangkan pada 1985 lewat inseminasi semen beku Simmental Jantan ke sapi Peranakan Ongole betina. Anak simmental yang berumur 2 bulan pertumbuhannya cepat sekali. Pada umur 23 bulan, sapi ini bisa mencapai bobot 800 kg dan pada umur 2,5 tahun beratnya bisa 1100 kg. Bila harga berat hidup sapi ini Rp 25.000,- maka dengan menjual 2 ekor Simmental yang berbobot 1 ton, Anda sudah punya ongkos untuk naik haji.

Berdasar semua pertimbangan itulah, Galihdin cs., berniat menjalankan usaha penggemukan sapi ini. Nopember tahun lalu, dengan modal 16 juta, ia sudah membangun kandang di belakang rumah orang tuanya. Ia cari dan baca artikel, tulisan atau buku-buku tentang penggemuka sapi potong. Dan akhirnya, setelah Mbak Santi dan Mas Joko pulang haji, Galihdin segera ambil cuti untuk berburu Simmental ke daerah Karang Endah, Merapi, Sluban (Semua di Lampung Tengah), Gedong Wani dan Merandung Sari di Jabung (Lampung Timur).

Awalnya, mereka cari sapi di PT GGCL, Humas. Ribuan sapi ada disitu, tetapi yang ada hanya sapi BX (Brahman Cross) yang baru diimpor dari Australia. Sapi ini masih liar dan berada dalam kandang dari besi. Untuk digemukan di kandangnya Galihdin jelas ndak cocok, bisa roboh pagar kandangnya di seruduk si BX ganas itu. Akhirnya Galihdin cs., menghubungi Pak Bambang Singgih, kakak ipar dari Indra Wilson, teman Galihdin perawat di Medikal, yang juga punya usaha penggemukan sapi. Via SMS ia mendapat berita bahwa di daerahnya, Karang Endah, ada blantik yang bisa diminta tolong untuk mencarikan sapi yang Galihdin inginkan.

Perjalan pertama Galihdin hanya membuahkan hasil tentang kisah sukses para peternak sapi. Ada kisah pak Haji Jarwo di Sluban yang punya 200 ekor sapi di kandangnya. Termasuk pak Bambang Singgih yang bisa pergi ngulon, naik haji dengan hasil usaha sapi potongnya. Ada juga kisah Pak Haji Mulyono, penjual daging sapi asal dari desa Merandung Sari yang biasa menjual sapi ke Jakarta, Padang, dan Bangka. Cari Simmental ini ternyata susah-susah gampang.

“Saiki alune ijih duwur Pak, dadi regone asih larang!” Ujar Haji Mulyono. Aha… harga sapi ternyata dipengaruhi oleh tinggi rendahnya obak laut. Saat ombak tinggi, sapi tidak bisa menyebrang ke Bangka, Batam dan lainnya, sehingga harga melambung juga, sebab jarang orang mau jual. Saat ombak rendah, sapi bisa di sebar ke pulau-pulau itu dan berbondong-bondong orang menjualnya. Saat masa kenaikan kelas, para petani yang kepepet butuh duit juga mau melepas sapi mereka dengan harga murah.

Pada perjalanan kedua barulah Galihdin dipertemukan dengan blantik sapi kepercayaan Pak Bambang, Pak Sutrisno dari Karang Endah itu. Seminggu sebelum pertemuan, ia sudah diberi tahu oleh Pak Bambang bahwa ada orang dari Tulang Bawang yang berniat cari 10 ekor Simmental untuk digemukkan. Segera ia begerak cepat menyisir rumah demi rumah petani yang punya sapi Simmental dan berniat menjual. Pertama kali kami mengunjugi rumahnya sudah ada 1 ekor simmental di kandangnya.

“Piro Lik, yang ini sampeyan lepas?”

“Nek sing niku 10 juta Pak? Ujar si Blantik datar. Hayuuuh… kok mahal ya? Kami kira hanya sekitar 7-9 juta. Setelah tawar menawar akhirnya Simmental itu dilepas dengan harga 9,8 juta. Selanjutnya kami diajak berkeliling ke beberapa petani yang berniat menjual Sapi mereka. Ada yang seorang penjual tahu yang berniat menjual 4 ekor sapinya langsung 37,7 juta. Ada juga tetangga Lik Sutris yang berniat menjual 2 sapinya: Simenntal dan Silangan Simental Brangus seharga 21 juta. Setelah 2 hari kami keliling (diselingi pulang kampung ke Ambarawa, mengunjungi handai taulan dan ziarah ke makam leluhur) akhirnya perburuan kami mencari si Simmental berakhir.

Selasa 2 Februari 2009, sekitar pukul 4 sore sampailah  “The Big Ten Simmental” Sepuluh sapi Simmental Besar ke kandang kami di Penawar Aji. Aha.. heboh betul keadan waktu itu. Pak Bibit yang kelak bertugas menjadi juru rawat sapi sudah siap dengan rumput dan jerami yang akan menjadi pakan. Anak kecil dan handai taulan pada merubung pingin melihat. Pak Bibit dan Lik Sutris (yang ikut ngater dagangannya sebagai bentuk tanggung jawab) segera menambatkan 10 ekor sapi yang kami beli itu ke kandang, mengaso setelah 4 jam lebih digoncang-gonjang dalam perjalanan. Rumput dan jerami segera diberikan agar sapi segera makan. Lik Bibit yang tampak  lelah karena hari itu nglakoni puasa weton masih sempat mencari dedak untuk santapan si Simme esok pagi.

Selama 2 hari si Sapi dikandangkan. Pakan yang diberikan hanya rumput belaka. Pada hari ketiga datanglah pakan si Simme ini: kulit singkong yang khusus didatangkan dari Mesuji. Duhai senang betul melihat mereka makan begitu lahap. Senang sapinya, senang yang melihatnya. Ibu Hasanah gembira bukan kepalang karena cita-cita anak-anaknya terkabul. Berkali-kali Ibu ini menengok kandang untuk melihat  ternaknya itu makan. Sekali makan, setiap Simme bisa melahap habis 6-8 kg kulit singkong. Bila sehari mereka makan 3 kali, maka untuk 10 ekor Simmental dikandangnya, Galihdin perlu menyiapkan 180-240 kg kulit singkong.

Makan kulit singkong saja bagi si Simme mungkin serasa kita menyantap nasi putih saja. Karena itu perlu juga ia dikasih lauk ataupun bumbu. Nah.. bumbu atau lauk yang ditambahkan pada ransum agar nafsu makan si Simme bertambah adalah: sedikit garam, segenggam dedak, dan ½ tutup botol viterna dan POC nasa. Garam diperlukan untuk memenuhi asupan mineral, Dedak atau bekatul itu semacam bumbu untuk meningkatkan tingkat palabilitas, sedang dua terakhir merupakan sumber vitamin, mineral, dan hormon pertumbuhan yang diperlukan agar nafsu makan si Simme meningkat dan bobot badannya bertambah dengan cepat.

Begitulah hari-hari ke-10 ekor Simmental di kandang belakang rumah Galihdin itu. Tiap pagi, sebelum Pak Bibit sarapan, kesepuluh Simmental itu sudah sarapan. Siangnya, sebelum Pak Bibit makan siang, Si Simmental mendahului makan. Begitupun sore harinya.

“Ngurusi Sapi itu harus seperti ngurusi orang lho Mas.” Itulah Pesan Pak Bambang suatu ketika. Dan Galihdin cs., juga menyadarinya. Terlebih lagi bagi Pak Bibit sebagai tukang rawatnya. Kesepuluh Simmental itu diurus layaknya anak-anaknya: diberi makan, dimandikan, dibersihkan kotorannya, dan disuntik vitamin serta obat cacing agar mereka tetap sehat.

Galihdin ingat perkataan Lik Sutris ketika mereka menawar Sapi Simmental F1 kala itu.

Wis tho Pak, sampeyan buktikan sendiri, ndak bakal salah sampeyan milih yang ini?”

“Sekarang memang belinya mahal, tapi nanti kalau pas dijual, untunge thikel (untungya berlipat)”.

Semoga, pernyataan Lik Sutris itu semacam nubuwat, semacam doa. Dan Galihdin sekeluarga dengan khusyuk mengaminkannya.

SERANGAN SI PEREMUK TULANG

Kisah Mang Saudi

Meskipun akhir tahun ini, hasil sawitnya tak banyak, Mang Saudi, satu dari warga transmigrasi di kecamatan Penawar Aji itu, tak begitu ambil pusing. Biarlah sawit sementara ini mogok berbuah meskipun hujan sudah cukup membasahi tanah, toh ia masih punya 1 hektar kebuh karet yang bisa ia deres getahnya saben hari. Biarlah orang-orang itu pada bingung, terpaksa nganggur, karena kerjaan ndodos tak ada lagi, toh ia masih punya kerjaan.

Hal itu lama-lama pun akhirnya dianggap biasa oleh semuanya. Hidup seperti roda pedati, kadang di atas kadang dibawah. Biarlah nganggur sebentar, asal anak istri masih bisa makan. Biarlah sawit tak nongol buahnya agak sementara waktu, asal pikiran masih waras dan badan masih sehat

Sampai kemudian datanglah huru-hara itu. Sore itu, sepulang dari nderes karet, badan Mang Saudi panas tak karuan. Istrinya memberinya obat warung berharap agar sembuh. Namun sesudah 2 hari, panas tubuhnya tak juga hilang, sekujur tulangnya linu tak kepalang, kaku, seakan-akan mau lumpuh. Ia pun dibawa ke tempat Pak Mantri, minta suntik dan obat. Usai membayar biaya berobat, Mang Saudi bertanya, “Saya sakit apa Pak,” Mantrinya menjawab, “Bapak terkena Chikungunya!”

Duhai… apa pula ini? Chikungunya? Gerangan dari mana ia berasal? Kenapa bisa bikin tulang seakan remuk, kaku, linu, hampir lumpuh tak bisa digerakkan? Selidik punya selidik, ternyata Mang Saudi tak sendiri. Hampir setiap penderes karet punya keluhan serupa. Awalnya memang rombongan tukang nderes saja, tetapi akhirnya si Chikungunya itu tak pandang bulu: tua muda, besar kecil, miskin kaya terkena juga!

Kungunyala dan Chikungunya

Penyakit ini pertama kali ditemukan oleh Marion Robinson dan W.H.R Lumsden pada wabah yang menyerang penduduk Makonde ( perbatasan Mozambique dan Tanganyika, sekarang Tanzania) pada tahun 1952. Waktu itu, orang yang terkena penyakit ini mengeluh nyeri sendi hebat, mengeliat-geliat kesakitan dan akhirnya hanya bisa meringkuk dengan pinggang melengkung. Karena semua orang yang terkena penyakit ini menunjukan gejala yang sama: nyeri sendi hebat sehingga hanya bisa meringkuk dengan pinggang melengkung, maka pendunduk Makonde menyebut penyakit yang mereka derita sebagai Kungunyala, yang menggeliat-geliat atau Chikungunya, artinya pinggang melengkung.

Sejak 1952 itu, penyakit ini akhirnya menyebar hampir ke seluruh Afrika, Asia selatan, Asia Tenggara dan lebih luas lagi. Di Indonesia, kejadian luar biasa (KLB) Chikungunya dilaporkan pada tahun 1982 di Samarinda, kemudian berjangkit di Kuala Tungkal, Martapura, Ternate, Yogyakarta (1983),Muara Enim (1999), Aceh dan Bogor (2001). Awal 2001, kejadian luar biasa demam Chikungunya terjadi di Muara Enim, Sumatera Selatan dan Aceh. Diperkirakan sepanjang tahun 2001-2003 jumlah kasus Chikungunya

mencapai 3.918. meskipun tanpa disertai laporan kematian yang diakibatkan penyakit ini.

Saban tahunnya, jumlah itu teryata tak banyak berkurang. Di Trenggalek, Jawa Timur beberapa bulan lalu dilaporkan Chikungunya menyerang ribuan orang.

Si Biang Kerok

Penyebab penyakit ini adalah sejenis virus, yaitu Alphavirus dan umunya ditularkan lewat nyamuk Aedes aegypti. Aha… Anda pasti ingat, nyamuk ini juga biang kerok penularan penyakit demam berdarah dengue. Tapi, meskipun menimbulkan gejala nyeri sendi yang lebih hebat dibanding demam berdarah, penyakit ini jarang menimbulkan perdarahan dan tidak mematikan. Beberapa studi terakhir dari Paris Institute melaporkan bahwa pembawa virus Chikungunya ini adalah nyamuk Aedes albopictus. Namun terserah nyamuk apa pun yang menggigit, sekali orang terkena penyakit ini, maka gejala yang timbul adalah khas dan hampir sama.

Nyeri Seakan Lumpuh

Sejak digigit nyamuk sampai timbulnya penyakit ini berlangsung sekitar 2-4 hari, Seperti DBD, awalnya penderita mengeluh demam tinggi (bisa sampai 400 C). Keluhan demam itu disertai dengan nyeri sendi, terutama pada: lutut, pengelangan kaki, persendian tangan dan kaki serta tulang belakang. Pada hari ke 3-5 timbul kemerahan pada kulit (kadang lebih hebat dari DBD) hampir diseluruh badan. Gejala yang lainnya adalah sakit kepala, timbul rasa mual sampai muntah, mata merah dan sedikit fotofobia (silau melihat cahaya), serta pembesaran kelenjar getah bening.

Pada orang dewasa, gejala nyeri sendi dan otot sangat dominan, sehingga kadang timbul kelumpuhan sementara karena rasa sakit bila digerakkan. Setelah 5 hari, demam akan berangsur turun, hari ke-6 atau ke-7, kadang timbul gatal-gatal dibawah kulit disekujur badan. “Gatalnya bisa sampai ke kulit kepala” ujar Mang Saudi mengenang penyakitnya itu.

Tapi gatal itu pertanda, bahwa penyakitnya mulai sembuh. Nyeri-nyeri sendi mulai berkurang, tangan dan kaki pun mulai bisa digerakkan. Pada beberapa kasus, keluhan nyeri sendi itu kadang bisa bertahan berhari-hari hingga sebulan.

Pengobatan

Demam Chikungunya termasuk “Self Limiting Disease” atau penyakit yang sembuh dengan sendirinya. Tak ada vaksin maupun obat khusus untuk penyakit ini. Pengobatan yang diberikan hanyalah terapi simtomatis untuk menghilangkan gejala penyakitnya, seperti obat penghilang rasa sakit atau demam seperti golongan Parasetamol. Antibiotika tidak diperlukan pada kasus ini. Penggunaan antibiotika dengan pertimbangan mencegah infeksi sekunder tidak bermanfaat.

Untuk memperbaiki keadaan umum penderita dianjurkan makan makanan yang bergizi, cukup karbohidrat dan terutama protein serta minum sebanyak mungkin. Perbanyak mengkonsumsi buah-buahan segar atau minum jus buah segar. Hindari minuman berkarbonasi (Pocari Sweet, Mizone dll) yang kadang justru menimbulkan nyeri lambung.

Pemberian vitamin peningkat daya tahan tubuh mungkin bermanfaat untuk mempercepat pemulihan Selain vitamin, makanan yang mengandung cukup banyak protein dan karbohidrat juga meningkatkan daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh yang bagus dan istirahat cukup bisa mempercepat penyembuhan penyakit. Minum banyak juga disarankan untuk mengatasi kebutuhan cairan yang meningkat saat terjadi demam.

Kapan di Fogging Lagi?

Ketika kasus DBD mulai bertambah awal-awal musim hujan ini, seorang pasien yang anaknya terkena DBD, bertanya kepada saya, “Dok, kapan kira-kira akan diadakan fogging lagi?” Saya tidak bisa menentukan kapannya. Saya menerangkan bahwa fogging hanya efektif untuk 2-4 minggu, sebab kita warga AWS yang dikepung air ini tak bisa tidak akan selalu hidup dalam kepungan nyamuk.

Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan adalah menjaga diri kita agar seminimal mungkin di gigit drakula kecil penghisap darah penyebar penyakit DBD dan Chikungunya itu. Aedes aegepty, nyamuk “priyayi” yang senang bertelur di air jernih itu memang harus dibasmi, atau setidaknya dikurangi populasinya. Untuk membasminya memang perlu disemprot atau di fogging dengan Malation, sedang themofos untuk membunuh jentiknya. Bagi penduduk Penawar Aji sana, fogging swadaya terasa mahal. Tetapi bagi Multi Corporate Internasional seperti CPP ini, sebenarnya tidak mahal, justru sangat-sangat murah. Apalagi dibanding biaya pengobatan yang harus dikeluarkan untuk mengobati karyawan atau keluarga karyawan yang terkena DBD atau Chikungunya.

Resep sederhana, murah, dan efektif untuk memutus rantai penularan nyamuk ini adalah dengan cara menguras tempat penampungan air bersih, bak mandi, drum penampung air, dan sebagainya, paling paling tidak seminggu sekali, mengingat nyamuk tersebut berkembang biak dari telur sampai menjadi dewasa dalam kurun waktu 7-10 hari.

Selain memakai obat nyamuk bakar atau semprot, pencegahan individu bisa Anda lakukan dengan menggunakan obat oles (repellant) yang mengandung DEET atau zat aktif EPA lainnya. Seperti Mang Saudi, yang akhirnya memutuskan memakai lengan panjang ketika menderes karetnya, penggunaan baju lengan panjang dan celana panjang juga dianjurkan pada daerah tertentu dimana Chikungunya sedang mewabah.

Matsalan ma Ba’uudhan..

Ingatlah, Allah tidak sedang main-main ketika Dia membuat perumpamaan tentang nyamuk atau yang lebih remeh lagi (QS Al Baqarah: 26). Tahukah Anda korban yang mati karena malaria sejak penyakit ini dikenal, lebih banyak ketimbang jumlah korban perang dunia ke-2 (lebih dari 60 juta jiwa!). Sadarkah Anda, bahwa virus kecil biang kerok penyakit White Spot pada Udang itu, bisa memaksa nganggur 2500 lebih petambak di seberang sungai sana, mengguncang keuangan perusahaan sehingga terpaksa mencetak 1,7 milyar lembar saham dan menjualnya dilantai bursa karena kekurangan dana, sehingga revitalisasi yang sudah 2 tahun berjalan ini, seperti kurang darah, terseok-seok entah kapan selesainya.

Kita tidak tahu persis, hari-hari ini kemana gerangan angin akan bertiup. Bila angin bertiup kecang kearah timur laut, bukan tidak mungkin, wabah yang membuat karet terbengkalai, lupa dideres di Penawar Aji sana (39 kilometer dari AWS) mewabah di sini. Ribuan Karyawan atau Out Sourcing bisa terpincang-pincang karena seluruh sendinya nyeri, hanya bisa tidur meringkuk dengan pinggang melengkung karena diserang Si Peremuk Tulang ini… Chikungunya!